Suara ringkihan pagar tua yang sudah dimakan karat ini sungguh mengesalkan. Semoga saja aku tidak membangunkan Ibu. Semoga hujan meredam suara kedatanganku.
Dengan langkah berjinjit aku melewati halaman, menginjak lembut rumput-rumput yang basah diguyur hujan. Setelah meletakkan sepatu di rak dan payung di tempatnya, aku membuka pintu, berusaha setenang mungkin.
“Ibu, Dinda pulang”, bisikku pelan
Lagi-lagi Ibu masih menungguku pulang. Tertidur pulas di kursi rodanya, meskipun aku tahu pasti sangat tidak nyaman tidur seperti itu, tapi Ibu terlihat sangat pulas.
Ibu mengalami gangguan di otot kakinya. Otot kaki Ibu tiba-tiba melemah, sehingga harus memakai kursi roda yang reyot ini. Aku berjanji akan membelikan kursi roda yang bagus untuk Ibu nanti. Pasti. Tunggu sebentar lagi Bu.
Dalam diam, aku membenahkan posisi Ibu, mendorong kursi roda ke kamarnya dan menggendong Ibu ke kasurnya. Tubuh Ibu yang langsing tidaklah berat bagiku.
Sejenak aku memandang wajah Ibu, wajah malaikat yang selalu mengkhawatirkanku. Senyum abadi yang selalu diperlihatkan Ibu ke orang lain, senyuman yang tak akan pernah pudar. Mata Ibu yang berbinar seakan tak pernah redup untuk memancarkan kehangatan. Ibu selalu terlihat kuat di depan orang lain, karena Ibu tahu saat orang lain meremehkan kita, kita tak boleh terlihat lemah, kita tak boleh terlihat seperti yang mereka inginkan.
Namun bagi anak-anaknya, bagiku, Ibu adalah sosok paling kuat yang pernah diberikan padaku.
Tanpa sadar aku menitikan air mata. Aku akan selalu ada di samping Ibu, aku akan selalu berjuang untuk Ibu, aku akan membawa Ibu dan yang lain ke tempat terindah yang bahkan tidak bisa kita bayangkan sebelumnya.
Aku akan membuat Ibu bahagia. Aku berjanji. Ku kecup kening Ibu sambil mengucap dalam diam mantra yang selalu Ibu ajarkan. “Kebahagiaan pasti akan datang”
Aku menyelimuti tubuh Ibu sebelum berlalu ke kamarku. Niat hati ingin bergulat dengan tugas-tugas dan buku-buku ku lagi, namun terima kasih kepada Si Payung Hitam yang berhasil membuatku kepikiran sampai sekarang.
Siapa kah namanya? Bagaimana rupanya? Di mana rumahnya? Semua pertanyaan tentang Dia dari tadi mengusikku. Menelisik masuk, memenuhi setiap rongga dalam otakku. Ku menatap jauh ke luar jendela, kembali ke tempat di mana kami berjumpa, samar-samar, tertutup bulir-bulir hujan.
Sudah pukul 01.00 dini hari, dan kuputuskan untuk merebahkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan coretan-coretan ingatanku dulu bersama Mama dan Papa sebelum akhirnya aku pun terlelap.
***
Kicau burung menyambut pagi di panti. Berto, burung kesayangan Bang Banu ini memang jago kalau soal berkicau. Suara nya merdu, bak nyanyian surgawi, berkumandang menjalar di setiap seluk beluk ruangan panti, menenangkan, melenakan.
Dingin pagi masih menusuk. Sisa hujan kemarin membuatku ingin kembali memeluk guling dan bersembunyi di balik selimut. Namun apa daya, alarm super dahsyat milik panti ini berbunyi dengan kerasnya.
“KAAAAK DINDAAAA BANGUUUUNNN!!! UDAH PAGIII NIII”
Entah dari mana asalnya, tapi gempa setiap pagi selalu terjadi di panti ini, mungkin lebih tepatnya hanya di kamarku saja.
“Haaa, iyaaa Nino sebentar lagi Kakak bangun. 5 menit lagi ya …”
Ya, Nino memang anak yang aktif, rajin dan selalu bangun pagi. Teriakannya adalah alarm nomor 1 di sini. Dan sialnya dia harus berlompat lompat ria di kasurku seperti sedang main trampoline saat membangunkanku.
“NGGAAK BOLEH KAAK!! IBU SUDAH SIAPIN SARAPAN BUAT KITAAA”
‘DUUUK’
Aku terjingkat saat mendengar suara dentuman benda yang jatuh ke lantai yang disusul dengan suara tangisan.
“HHHUUUUUUAAAAAA SAAAKIIIIIT”
Rupa-rupa nya itu suara Nino yang terlempar ke lantai saat lompat-lompat tadi. Spontan aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.
“HAHAHAHAHAHA makanyaa jangan lompat-lompat di kasur Kakak.”
“Kakak JAAHAAATTT, Nino sakit malah di ketawain”
Yah, sangat lucu melihat Nino jatuh seperti tadi, namun juga kasihan. Aku menggendongnya ke atas kasur dan mengelus-elus pantat kecilnya itu.
Aku melihat jam dinding dan terkesiap saat melihat sudah jam 06.40, sedangkan kelas akan dimulai 20 menit lagi. Aku gelagaban bergegas ke kamar mandi, menyabet sekenanya handuk di jemuran, mandi seadanya, dan melesat ke meja makan.
“Ibu, Dinda udah terlambat. Dinda minum susunya aja ya Bu.”
Aku menyambar susu putih yang sudah Ibu siapkan, bergegas ke teras memakai sepatu, melesat tanpa sempat membiarkan Ibu berbicara sepatah kata pun.
“Nanti mau Abang jemput kah Din? Mumpung ga kuliah nih. Daripada kamu malam-malam naik bus, bahaya. Apalagi adek Abang ini cantik banget.”, kata Bang Banu saat aku memakai sepatu, masih menggigit gelas susu yang belum habis.
Bang Banu sudah berumur 27, sudah siap nikah sih, tapi dia milih tetap tinggal di panti ini. Bukan, Bang Banu bukan anak kandung Ibu, Bang Banu juga anak yang kurang beruntung yang Ibu temukan di pinggir jalan dalam kondisi yang menyedihkan, sama seperti kami yang lain.
Mungkin kalian bertanya-tanya aku yang berumur 17 tahun dan Bang Banu yang sudah berumur 27 tahun masih berada di panti ini apa karena tidak ada yang mau mengadopsi kami?
Jangan salah paham, kami adalah anak emas di panti ini, kecerdasan kami mengalahkan anak-anak panti pada umumnya. Aku sekolah di salah satu SMA bergengsi di Indonesia, dan Bang Banu kuliah di Fakultas Kedokteran UI.
Pada awalnya aku juga ingin mendapatkan orang tua asuh, itu sebelum aku mendengar perkataan Bang Banu yang merubah cara pandangku terhadap panti ini.
“Orang tua asuh apaan? Abang ga butuh orang tua lain selain Ibu. memang selama ini yang menyayangi, memasakkan makanan, mengelus kepala sebelum tidur, memandikan, mendidik dan membesarkan Abang siapa? Apa ada orang tua lain yang bisa dan mau ngelakuin itu ke anak seperti Abang saat itu? Ibu mau ngajak Abang buat tinggal di sini dan mau menanggung semua biaya hidup Abang. Jadi ga ada orang tua lain selain Ibu, dan ga ada rumah lain yang bakal jadi tempat Abang pulang selain rumah ini.”
Ya, begitulah perkataan Abang yang menyentuh dan mengetuk hati ku. Aku bertekad akan menemani Ibu di sini.
“Halaah gombal kamu Bang!”, kataku sambil menyodorkan gelas susu yang masih ada isinya itu ke mulut Bang Banu.
“Jam 11 malam ya Bang!”, sambungku melesat ke jalanan, menghilang di macetnya Ibu kota.
***
“PAAAAK PAAAKKK STOOOPPP JANGAAANN TUTUP GERBANGNYA!!!”, suara Sella menyambutku di seberang sana.
Entah siapa yang telat di antar kami berdua, kenapa malah dia yang berteriak agar pak satpam tidak menutup gerbangnya.
“Nggak bisa Mbak Sella, ini sudah telat.”
“BENTAAARRR AJAA PAK!! ITUU!! DIA UDAH LARI KE SINI!! DINDA KAN GA PERNAH TELAT SEBELUMNYA PAK! SAYA JUGA TAHU ATURAN, MASIH ADA 2 MENIT LAGI!!”
Teriakan Sella tak kalah nyaring dengan teriakan Nino. Kenapa hari ini, pagi ku diisi dengan teriakan-teriakan orang? Selagi mereka berdebat, aku berusaha lari secepat mungkin.
Tanpa sempat mengambil nafas, sesampainya di gerbang aku menyambar tangan Sella dan berlari ke kelas, sialnya lagi, kelas kami ada di lantai 3. Kami berdua lari dalam khidmat.
Sesampainya di depan kelas, tersengal-sengal, kami mencoba mengatur nafas kami sebelum kami masuk ke kelas.
Untung saja guru tidak masuk kelas. Dan kami pun memulai kegiatan biasa kami. Belajar masing-masing dalam diam, rasanya hampir seperti kami sedang dalam upacara pemujaan setan. Susananya, kesunyiannya, atmosfer nya, semuanya terasa memuakkan.
Semuanya diam seperti patung, setidaknya begitu sampai bel istirahat berbunyi. Saat bel istirahat sudah mengeluarkan ultimatumnya, seketika semua orang berhambur keluar. Rasanya seperti ruh mereka yang sejak tadi pergi entah ke mana sudah kembali ke raga nya.
“Din ngantin yok. Lo telat kan? Pasti gak bawa bekal kan? Gue bayarin deh!”
“Betulan kamu bayarin ya? Hahaha ayook!!”, hari ini aku sangat kelaparan, sudah tidak sarapan, tak bawa bekal, uang saku juga kelupaan. Mujur sekali nasib ku ini.
Saat kami berjalan melewati lapangan olahraga, aku sangat kebingungan melihat banyak sekali siswi berkumpul di lapangan. Ternyata sama sepertiku, Sella juga penasaran.
“Eh ada apaan sih? Heboh banget!”, tanya Sella pada salah satu siswi yang kegirangan hendak menuju ke sana.
“Mau lihat ekskul Taekwondo!”, jawab siswi yang tak ku kenal itu.
Aku tahu ekskul Taekwondo sebentar lagi akan mengikuti lomba provinsi, tapi sebelumnya tak ada yang berminat untuk menyaksikan mereka latihan. Penasaran, aku dan Sella menyelinap masuk di antara kerumunan itu.
“Dia …”, aku terpaku saat melihatnya. Postur tubuh itu. Aku melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Oh tidak, dia mendekat kemari, dia melangkah kemari, dia menatapku, Si Payung Hitam itu …. Mungkinkah?
“Loh? Mbak Kunti? Sekolah di sini??”, katanya sambil menunjuk ke arahku, tentu saja setelah membubarkan anak buah nya untuk istirahat. Tapi tunggu, apa?? Mbak Kunti??
“Loh? Mas Payung Hitam??”, timpalku. Ternyata benar. Dia orangnya.
“Loh? Tunggu! Lo kenal sama Dinda Dit?”, imbuh Sella. Dit? Namanya Dit? Dit siapa? Dodit? Radit? Medit*1?
*1 bahasa jawanya pelit.
“Oh, jadi nama Mbak Kunti ini Dinda. Halo, kita belum kenalan dengan benar. Kenalin namaku Adit. Aditya Pramasetyo. Senang bertemu lagi.”, dia menyuguhkan tangannya ke arahku, menyunggingkan senyuman yang sangat hangat, mata bulat yang terlihat seperti mata rusa itu tertutup setengah saat dia tersenyum. Sungguh manis.
Aditya Pramasetyo, namanya saja sudah membuat perasaaan aneh ini berdesir di antara urat nadi ku. Alisnya tebal dan proprsional, matanya bulat seperti mata rusa, batang hidung yang tinggi, rahang yang kokoh, bibirnya yang hanum, dan lesung pipit di pipi kanannya. Seni. Wajah ini benar-benar sebuah seni. Seni 3 dimensi yang bejalan. Sungguh indah. Sungguh tampan. Suaranya yang berat dan dalam tidak terdengar seperti seorang penjahat lagi, suaranya sungguh memanjakan telinga. Posturnya yang tinggi tegap menambah auranya yang sangat kuat.
“Ehm iya halo. Namaku Dinda. Senang bertemu lagi dengan Anda.”
“Kampret gue di kacangin! Kapan Lo kenal sama Dinda? Lo gak ngapa-ngapain Dinda kan Dit?”, sela Sella yang kesal karena tak dihiraukan dari tadi.
“La Lo La Lo. Gue lebih tua 3 tahun dari kamu ya Sel. Dasar.”, kata Adit sambil mengacaukan rambut Sella yang entah kenapa harus saat itu dia tidak menguncir rambutnya.
Tapi tunggu, Adit 3 tahun lebih tua dari aku?! Tunggu, serius??!
“Hahahaha, yaudah kita makan bakso aja yuk, aku yang traktir. Baru dapat bayaran nih hahaha.”, kata Adit mengajak kami untuk makan.
“Anu … Kak, eh Mas, eh Bang, eh Om ..”
“Panggil nama aja. Sella juga selama ini kusuruh manggil nama aja tanpa imbuhan ‘kak’. Lagian aku cuma lebih tua 3 tahun dari kalian, bukan berarti aku udah tua banget kan? Biarin aku tetap berasa muda hahaha”, Adit memotong perkataanku sambil sedikit tertawa.
“Ehm, kamu ngapain ada di sini?”, tanyaku.
Sial dari tadi kami tidak bisa makan bakso yang lezat ini dengan tenang. Bahkan untuk sesuap rasanya sulit sekali. Bagaimana tidak, setiap kali kami ingin menyendokkan bulatan daging sapi bersama dengan kuah kaldunya ini selalu saja ada siswi yang berteriak histeris. Apakah ada hantu di sekolah ini? Apa dia kerasukan? Aneh sekali.
“Seperti yang kamu lihat, sekarang aku jadi guru Taekwondo di sini. Guru sebelumnya sudah keluar.”
Aah, ternyata tubuh proporsional itu, lengan dan kaki yang kokoh dan dadanya yang bidang itu bukan dari basket, tapi dari Taekwondo. Aku telah salah tentangnya dari awal.
“Kenapa Lo mau ngajar di sini? Mau ketemu terus sama Gue yaa??”
“Pede banget kamu. Hii siapa yang mau berurusan sama nenek lampir kayak kamu? Baik aku diem di rumah. Aku ngajar ke sini buat nyari anak-anak yang berbakat Taekwondo, akan kulatih dan ku buat jadi juara dunia. Dan paling utama, aku akan menjadikan ekskul Taekwondo di sini jadi ekskul tetap. Taekwondo di sini belum di jadikan ekskul tetap kan? Kalau di sekolah-sekolah yang ku latih sebelumnya, Taekwondonya sudah berhasil ku jadikan ekskul tetap.”
“Jadi, misimu mau jadikan Taekwondo sebagai ekskul tetap? Okay then, Let’s us see your progress in here!”, timpal Sella sambil menyuguhkan tangannya.
“My pleasure.”
Satu kata itu menyudahi acara makan siang kami. Adit harus kembali mengajar anak buahnya agar bisa mencapai misi-misinya itu.
Sedangkan aku dan Sella masih harus berkutat dengan buku, entah apa yang akan kami tuju di masa depan, kami masih belum tahu.
Dan apa yang akan terjadi padaku dan Adit, aku juga tak tahu. Aku hanya berharap semoga kami bisa memiliki waktu bersama yang lebih banyak. Waktu untuk mengenal lebih dalam tentang Adit.
0 komentar:
Posting Komentar