Chapter 6 : Scene pt.3

“Nih, kamu pake aja. Ntar kamu kepanasan, jadi gosong nanti.”, kata Adit seraya menyodorkan jaket hoodie hitamnya padaku. Ragu-ragu aku mengambil jaket Adit. Bukannya membiarkanku mengambil jaketnya, dia malah melemparkannya, mendarat  tepat di mukaku. Sedkit menjengkelkan mendengarnya tertawa setelah melakukan itu, tapi juga senang pada saat yang bersamaan.

Kami menyusuri terik dan macetnya Jakarta dengan vario putih yang melaju pelan dan hati-hati. Entah kenapa hari ini Jakarta masih terik padahal sudah jam 3 sore. Aku dapat merasakan ketulusan Adit untuk mengantarku pulang. Adit memang seorang pria dewasa.

“Din, kamu suka motret kan?”

“Hah?? Aku nggak denger! Kamu ngomong apa??”, tanyaku seraya membenarkan posisi helm yang Adit pinjamkan. Selama perjalanan aku sibuk membenahkan helm yang menutupi sebagian wajahku setiap ada polisi tidur.

Aku benar-benar tak bisa mendengar suara Adit di tengah deruan roda kereta api yang sedang melaju di rel. Kenapa juga dia harus memulai perbincangan di depan perlintasan kereta api?

“Kamu suka motret kan?”, kini volume suaranya lebih keras.

“Oh iya! Sukaaa bangeet. Tiap kali aku melihat dari balik lensa kameraku, aku merasa sedang berada di dimensi yang berbeda.”, aku menjawab dengan volume suara yang keras pula.

“Hoho iya iya aku paham perasaanmu. Biasa aja dong, nggak usah menggebu gitu ngomongnya, malu-maluin aja kamu hahaha.”

Aku mengunci rapat-rapat bibirku saat sadar kalau kebisingan kereta telah berlalu dan beberapa pasang mata menatapku heran dari atas motor mereka. Sungguh memalukan. Aku bisa mendengar Adit cekikikan dari belakang sini, kesal ku cubit pinggangnya. Dia mengaduh pelan. Kami berdua tertawa kecil, di depan perlintasan kereta api, di belai lembut sang bayu.

“Akhir pekan ada acara nggak?”

Suara yang indah itu memecah keheningan setelah sekian lama kami mematung, diam seribu bahasa, larut dalam benak otak masing-masing . Motor vario putih itu kini memperlambat jalannya saat sudah beberapa meter lagi dari rumah.

“Kenapa emangnya?”

“Aku tahu tempat nongki bagus nih buat foto-foto. Kalo nggak ada acara mau ke sana?”

Sejauh ini aku kenal Adit, dia bukanlah cowok brengsek yang suka ambil kesempatan. Dia seorang pria dewasa, sikapnya, cara bicaranya, bahasanya, semua dari dirinya sungguh menawan. Tak mungkin Adit memiliki niat buruk padaku. Dan kapan lagi aku bisa menuangkan hasrat memotretku selain di gedung STAVLENNYA?

“Iya boleh.”, kataku mengiyakan.

Kami berhenti di depan pagar tua yang sudah di makan karat, tak asing. Setelah 40 menit kami bergulat dengan terik dan kemacetan Ibu Kota, akhirnya kami sampai di panti, rumah yang yang selama ini menaungiku. Rumah sederhana dengan halaman yang luas tapi meyuguhkan kehangatan yang sangat dan membuatmu selalu rindu untuk pulang.

“Makasih ya Dit udah di antar pulang.

Lumayan hemat uang saku hehehe.”, kataku sembari turun dari motor Adit. Aku melepas jaket Adit dan menyerahkan kepada si empunya. Bisa kulihat Bang Banu sedang asyik melatih kicau Berto di bawah pohon mangga yang siap panen. Entah mau dijadikan seperti apalagi kicau Berto yang sudah merdu itu.

“Oh iya, makasih ya jaketnya. Jadi kamu deh yang item nanti.”

“Iya, sama-sama Din. Santai aja kalau aku mah.”, tersimpul senyum manis yang menjadi hal favorite ku sekarang.

“Oooh .. disini rumahmu. Boleh nih sering-sering main ke sini”, Adit memanggut-manggut kecil.

Dia mengamati menyeluruh bangunan panti. Sekarang dia pasti sudah menemukan palang kayu bertuliskan Panti Muliadharma yang sudah lapuk di makan jamur. Perasaan gelisah mulai menghampiriku, berbagai prasangka menelisik masuk di benak otak.

Semua orang akan menjauhiku dan merendahkanku setelah mereka tahu kalau aku hanyalah anak panti. Kebanyakan orang memandang kami sebelah mata, tidak menganggap anak panti sepertiku selayaknya anak pada umumnya. Kami hanyalah anak-anak yang kurang beruntung yang terlahir di keluarga yang kurang beruntung, bukan berarti kami tak berpendidikan, tak bermoral dan tak punya sopan santun. Kami anak biasa seperti kalian, berpendidikan, bermoral dan punya tata krama.

Keringat dingin tak mau keluar dari tubuhku, mengakibatkan dingin menyeruak dari pori-pori kulit. Apa Adit akan menjauhiku seperti yang lain? Apa dia merasa jijik padaku seperti yang lain? Apa dia akan membatalkan ajakannya tadi? Prasangka-prasangka itu menghantuiku, mendorongku untuk menatap wajah Adit.

Namun aku merasa kedamaian menghampiriku saat memandang wajahnya. Prasangka-prasangka itu seketika terbang jauh, keringat dingin yang tertahan telah menghilang, hawa dingin yang menyeruak telah berubah menjadi hangat yang menenangkan, hangat yang mendamaikan. Adit tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah kulihat. Sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa jijik akan panti ini. Ekspresinya sangat berbeda dengan mereka yang telah kuajak ke sini. Perasaan ini membuat mataku memanas, pelupukku tergenang, bibirku tersenyum kecil, aku tersentuh. Adit benar-benar orang yang baik.

“Hari Sabtu jam setengah 5 aku jemput di sini ya.”, Adit menatapku, masih dengan senyuman indah itu, membuatku memalingkan muka untuk menyeka air mata yang hampir jatuh.

“Kamu kenapa Din?”

“Ha? Nggak apa kok. Kemasukan debu tadi mataku.”, jawabku berkilah.

“Perlu ku tiupin?”

“Ah nggak usah. Udah nggak apa-apa kok.”

“Yaudah, aku pamit ya. Itu … kakak?”, Adit mengalihkan pandangannya ke arah Bang Banu.

Aku menoleh ke arah Bang Banu, dia sudah tidak sibuk melaih Berto, kini pandangannya tajam ke arah Adit, pandangan penuh curiga yang mengancam. Persis seorang Ayah yang melototi setiap teman pria yang dekat dengan putrinya. Terkadang aku merasa Ayah ada di dalam diri Bang Banu. Bang Banu yang selalu menjaga adik-adiknya, yang selalu memenuhi kebutuhan dapur, yang selalu menyayangi Ibu, yang selalu membuat kami tertawa. Aku sangat sayang Abangku ini.

“Ah iya, itu Bang Banu. Meskipun matanya begitu, tapi dia baik kok. Jangan di ambil hati yaa.”, Aku segera menghalangi pandangan Adit dengan tubuhku. Namun dia mendorong pelan lenganku, membuat tubuhku sedikit tergeser.

“Saya pamit ya Bang.”, Adit melambaikan ringan tangannya, mengguratkan senyum manis di wajahnya. Dia tersenyum padaku sebelum akhirnya berlalu pergi.

Aku merasakan getaran aneh dalam tubuhku. Rasa senang yang membuncah ini tak bisa lagi ku tahan. Dengan perasaan menggebu, aku membuka pagar, menimbulkan suara decitan yang entah kenapa hari ini terdengar seperti melodi indah orchestra. Melangkahkan kaki sambil melompat-lompat kecil, bibirku tak henti-hentinya tersenyum sambil bersenandung ria. Sungguh hari yang menyenangkan.

“Siapa itu Din?”

“Temen Bang”, jawabku singkat, merubah air muka yang tadi penuh senyum menjadi serius. Aku lupa kalau Bang Banu masih berdiam diri di tempatnya tadi, memandangku dengan tatapan yang aneh. Sesegera mungkin aku melepaskan sepatu dan kaos kaki, meletakkan pada tempatnya, melangkah masuk ke dalam rumah, menghindari pertanyaan Bang Banu.

“Ibuuu, DInda pulang.”, aku berjalan di lorong yang kanan dan kirinya adalah kamar Si Kembar Nina dan Nino, Big Baby Alfa dan Si Jenius Arka. Bisa kudengar ada perang dunia ke-3 yang sedang terjadi di kamar Si Kembar. Masalah mainan mungkin. Biasanya saat aku pulang, Arka akan mencegahku dengan ribuan pertanyaan tentang bintang. Arka baru berumur 4 tahun, tapi ketertarikannya akan bintang dan angkasa sangat tinggi. Semua itu bermula 3 bulan yang lalu, saat aku membawa buku ensiklopedia tentang astronomi dan tak sengaja Arka melihatnya. Tapi beruntung sekarang dia sedang tidur berpelukan dengan Alfa, jadi aku tak harus mendengar pertanyaannya yang bahkan tak bisa ku jawab.

Aku celingukan saat Ibu tak menjawab salamku. Ibu sedang di dapur rupanya. Seperti biasa, Ibu masih sigap untuk urusan makanan. Jemarinya masih cekatan meracik bumbu, meskipun Ibu duduk di kursi roda, Ibu masih melakukan semua pekerjaan rumah. Aku merasa bersalah melihat Ibu yang kesusahan menggapai bumbu-bumbu yang ada di rak. Merasa bersalah karena aku belum bisa memberikan hidup yang bergelimang kemewahan untuk Ibu.

Bang Banu sudah menjalankan tugasnya sebagai anak laki-laki dengan sangat baik. Bang Banu adalah tulang punggung keluarga ini, karena kuliahnya tidak masuk setiap hari sepertiku. Terkadang, Bang Banu juga yang mencuci pakaian, membetulkan alat-alat yang rusak, dan seperti jurusan yang dia ambil, dia juga yang mengobati anggota keluarga yang sakit. Ibu tak pernah menyerahkan urusan dapur ke Bang Banu karena entah apa yang akan terjadi pada rumah ini kalau Bang Banu menginjakkan kakinya di dapur.
Waktu itu pernah Ibu minta tolong goreng kan telur, bukan telur yang matang malah dapur yang hampir matang terbakar.

“Ibu masak apa? Biar Dinda yang lanjutkan.”, kataku sambil mendorong kursi roda Ibu ke ruang keluarga yang berada tepat di depan dapur, hanya dipisahkan oleh meja dapur pemberian donatur kami. Memang, rata-rata barang yang ada di sini adalah pemberian donatur kami, dan aku sangat berterima kasih kepada siapapun mereka.

“Loh Dinda udah pulang? Nda ada kelas tambahan? Ini Ibu lagi masak sayur bayam sama bikin empal jagung.”, kata ibu sambil mengelus lembut rambutku.

Aku bergegas memasuki dapur, mengikat celemek menutupi seluruh tubuhku. Kuikat rambut coklat bergelombangku. Aku sudah agak risih dengan rambutku yang panjangnya sepunggung ini.

Aku dengan cekatan mengupas bawang merah, bawang putih dan kunci1. Mengiris tipis bawang, memotongi bayam, membumbui dan menggoreng empal jagung. Biar bagaimana pun juga aku sering turun tangan membantu Ibu menyiapkan makanan setiap kali ada waktu. Setelah beberapa menit, akhirnya semua makanan untuk makan siang kami sudah siap. Aku meletakkan menu siang ini di atas meja makan kayu yang baru kemarin Bang Banu beli dari hasil kerja paruh waktunya.

*kunci1 : salah satu jenis rempah-rempah

“Makasih ya Dinda. Aduh, kamu daritadi masak sambil gendong tas? Yaudah mandi dulu gih, habis tuh kita makan bareng.”, kata Ibu melemparkan senyuman padaku sambil mengusap lembut pipi ku. Senyum malaikat Ibu adalah hal yang paling indah dan paling ingin ku lihat setiap hari, dan takkan kubiarkan siapapun merenggut senyum itu darinya.

Hari ini berjalan seperti biasa, tak ada yang terjadi. Bang Banu juga tak menanyakan soal Adit, sibuk dengan buku-buku kedokterannya yang sangat tebal itu, pantas saja kacamatanya tebal juga. Semuanya sangat normal, bahkan sampai makan malam ini, Bang Banu masih menutup mulutnya. Terima kasih untuk Bang Banu yang sangat pengertian.

“Bu … Bu masa tadi Dinda di antar pulang  sama cowo Bu. Pas kutanya katanya cuma temen, kan nggak mungkin.”

‘Sial! Baru saja aku berterima kasih padanya.’, umpat ku dalam hati

“Hah? Emang temen kok yeee. Sirik aja deh, mentang-mentang ga ada yang pernah nganter ke rumah.”, aku menjulurkan lidah ke arah Bang Banu.

“Yaiyalah, yang ada Abang yang nganter cewe ke rumahnya. Aneh-aneh aja kamu. Terus kalo cuma temen kenapa girang banget kamu abis diturunin depan gerbang? Ya nggak Bu?”

Oke fix! Bang Banu ngeselin. Bang Banu udah bikin sesi makan malamku yang berharga jadi bising dengan pertanyaan-pertanyaan anak kecil yang masih suci polo situ. Bang Banu dah ngotorin pikiran adek-adekku! Dasaar!!

Aku melahap makanan secepat yang ku bisa, menaruh piring ke tempat cuci, bergegas masuk ke kamarku.

“Abang yang cuci piring! Ga mau tau!!”, kataku seraya melesat 240 km/jam ke kamarku. Dapat ku dengar Ibu cekikikan dan adek-adek mengajukan pertanyaan-pertanyaan menggelitik dari dalam kamarku ini.

“Ah dasar Bang Banu! Ember banget sih jadi orang, coba pura-pura nggak tahu.”
Aku menghempaskan tubuh ke atas kasur, menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Terlintas semua kejadian hari ini, sangat cepat, sangat nyata, terputar layaknya scene scene dalam film romansa yang dipercepat. Tuhan sedang menciptakan alur cerita yang baru dalam hidupku. Dan itu diawali dengan kedatangan Adit dalam hidupku.
Seluruh tubuhku panas, syarafku kacau, detak jantungku berdegum tak keruan, sensasi gatal diseluruh pergelangan tangan dan kakiku, juga suara teriakan yang tertahan memenuhi kamarku ini. Aku menggeliat kepanasan, kegirangan di atas kasurku.

Kurasa 100% aku jatuh cinta pada Adit.



“Pelatih!!”

Aku baru berani membuka mataku dan menghembuskan nafas saat seorang siswa taekwondo memanggil Adit. Aku dapat mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Sungguh melegakan.

Ku putuskan untuk menjulurkan kepalaku, berniat mengintip apa yang Adit lakukan dengan siswa tadi. Mereka sedang mengobrol. Entah perihal apa, tapi kelihatannya cukup serius. Terlihat siswa itu menyerahkan paper bag pada Adit.  Aku kembali menenggelamkan tubuhku di balik pohon sejenak, membulatkan tekad, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyianku.

‘DEG’

Langkahku terhalang oleh pria bertubuh tinggi dan postur tegap. Tapi … dia kelihatan tidak asing. Ya, karena dia mengenakan seragam taekwondo, ah tidak, mengenakan celana taewondo dan kaos hitam polos tepatnya.

‘Adit? I’m screwed! Aduh, gimana ini?? Aku mau bilang apa ke Adit?’

Meskipun perasaan ku sudah mengatakan kalau itu Adit, tapi kepala ini tak mau menuruti perintah majikannya. Aku mendongakkan kepala.

Rahang yang kokoh, hidung yang tinggi, bibir tipis dan mata rusa yang indah itu menatap tepat ke bola mata ku. Jarak kami begitu dekat. Jarak antara aku dan Adit. Hanya satu jengkal. Iris mata yang berwarna coklat muda itu sangat indah saat di lihat sedekat ini. Wajah Adit, dari jarak sedekat ini, sangat tampan, namun aku juga bisa merasakan dia menyimpan kepedihan dari tiap gurat di wajahnya.

Entah apa yang ada di pikiran Adit, tapi tiba-tiba dia menurunkan kepalanya, mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan hidung kami hampir bersentuhan, menyisakan jarak tidak lebih dari 5 cm. Panas menjalar ke seluruh tubuhku, mendidihkan darah yang mengalir dari ujung rambut sampai ujung jemari kaki ku. Jantung ku berdegup tak karuan. Aku dapat merasakan semburat merah muncul di pipi ku.

Bagaimana kalau Adit melihat wajahku yang merah seperti ini? Pasti sangat memalukan. Aku segera menghempaskan diri ku ke belakang, menjauh dari tubuh Adit. Naas nya, aku tak mampu mengontrol langkahku dan mengakibatkan aku berakhir dengan tersandung akar pohon.

‘GRAB’

Adit menggenggam pergelangan tanganku dan menarik tubuhku dengan mudahnya, menghindarkan tubuhku dari hantaman tanah. Kami kembali ke posisi semula, dengan jarak yang semakin dekat, detak jantung semakin cepat.

“Hmmm .. aku nggak tau ada tempat seperti ini. Pantas dari tadi kamu diam terus di bawah pohon ini.”, kata Adit dengan tatapan dan senyuman jailnya.

“Ha? Siapa yang memotretmu?! Jangan kepedean deh! A … aku .. aku motret pohon Rhododendron ini kok! Haha, siapa juga yang motret kamu haha.”, aku kebingungan, menjawab sekenanya, memaksakan tawa, memalingkan tubuhku sambil menepuk-nepuk batang Rhododendron.

“Hmmm .. Aku nggak ada nyebut soal kamu ngambil gambarku diam-diam loh Din.”, Adit cekikikan kecil.

“Ha? Mmm … Terus kok kamu bisa nggak pake atasan seragam taekwondo mu lagi? Cepet banget gantinya!”, aku langsung membungkam mulutku setelah sadar apa yang aku katakan, dan melihat Adit semakin tertawa lepas. Suaranya yang berat dan dalam sungguh menarik saat ia tertawa.

“Hahaha kamu lucu banget sih Din. Aduh .. haha aku sampe nangis karena ketawa. Tadi kamu pasti lihat kan? Anak yang ngasih paper bag ke aku, itu isinya baju.”, Adit berjalan mendekat ke arahku yang terpojok, bersandar di batang pohon, membungkam mulut. Aku sangat yakin wajahku saat ini seperti orang kikuk.

“Nggemesin banget kamu.”, kata Adit sedikit tertawa sambil mengacak lembut rambutku dengan tangannya yang besar itu, tangan seorang pria. Aku bisa merasakan kerja keras dan perjuangan yang telah ia lakukan dari sentuhan telapak tangan dan jemarinya itu.

Sekarang dia benar-benar berada di sampingku. Dengan gerakan cepat, Adit melepaskan kalungan kamera di leherku. Entah refleks ku yang lambat atau gerakan Adit yang terlalu cepat, aku tak sempat menghalangi tangan Adit.

“Oh … bagus juga pose-pose ku di sini. Kamu jago photography ya? Keren loh. Aku kelihatan ganteng di sini hahaha.”

‘Tu … tunggu. Adit ngeliat galeri kameraku??!!!’

“Uugh sini kan! Jangan di lihat!. Adiit!! Balikin kameraku!!”, kami memutari pohon selama beberapa menit, selama itu juga aku menghabiskan tenaga untuk merebut kameraku. Berjinjit, melompat, semua sudah ku lakukan, namun apa daya perbedaan tinggi kami benar-benar disadvantage buatku.

“Sepertinya di sini sangat sempurna untuk berfoto.”, Adit menarikku mendekati batang Rhododendron. Dengan kamera yang digenggam tangan kanannya, tiba-tiba dia mengalungkan tangan kirinya di leherku, membuat tak ada jarak di antara kami.

‘A … aku .. aku tidak mimpi kan? Aku berada dalam rangkulan tangan Adit?’

Adit menyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku mematung untuk kesekian kalinya, Adit membuat detak jantungku berhenti sesaat untuk kesekian kalinya.

Aku dapat mencium aroma tubuhnya . Entah sabun apa yang dia pakai, parfum apa yang dia semprotkan, setelah berkeringat seperti tadi, tak ada sedikit pun bau asam dari tubuhnya. Aroma tubuh Adit sangat khas, sangat segar, membuatku ingin selalu di dekapannya seperti ini.

‘Hah? Apa yang ku pikirkan?!! Sadar Dinda! Sadar!!’

‘CEKRIIK CEKRIIK’

Tanpa sempat merubah ekspresi kikukku, Adit sudah mengambil gambar kami berdua. Dengan tangannya yang besar, tak akan sulit untuknya menekan tombol kamera.

“Nih. Jangan dihapus yaa .. Awas aja kalau kamu hapus.”, Adit menyerahkan kameraku sambil tersenyum, lesung pipit nya terlihat sangat manis.

Bagaimana mungkin aku tega untuk menghapus foto yang sangat indah?? Akhirnya aku bisa memiliki foto Adit. Terlebih lagi, dia yang mengajak untuk foto berdua. Bagaimana aku tega menghapus foto mahakarya Yang Kuasa ini?

“Nggak pulang Din? Kayaknya nggak ada kelas tambahan deh.”, Adit berusaha memulai pembicaraan. Mungkin karena dia tak tahan melihatku yang diam daritadi. Masih di tempat yang sama, di bawah pohon Rhododendron, hanya kami berdua, tersembunyi dari tatapan lalu lalang warga sekolah yang lewat.

“Eh .. anu .. tadi kirain ada kelas tambahan, jadi minta jemput Abang jam 11 malam. Ini juga mau pulang tadi, gara-gara kamu jadi telat deh pulangnya.”, jawabku berkilah.

“Oh, jadi gara-gara aku ya? Yaudah, ayo ku antar pulang. Di mana alamat rumahmu?”

‘Apa ini? Kenapa Adit tiba-tiba? Dia nggak ada niat buat nyakitin aku kan? Dia nggak manfaatin rasa suka ku ke dia kan? Kenapa dia tiba-tiba?’, ribuan pertanyaan memenuhi kepalaku. Menyerbu, menimbulkan sedikit keraguan.

“Hei Din? Kenapa bengong? Kamu jangan mikir yang aneh-aneh yaa. Aku bener-bener cuma mau antar kamu pulang.”

“Eh .. nggak mikir apa-apa kok. Iya deh boleh. Jl. Semanggi no. 71, kamu tahu jalannya?”

“Oh situ. Agak lupa sih, nanti kamu kasih tau aja lewat mananya.”, balas Adit menyunggingkan simpul manis di bibirnya.

Adit mengambil beberapa barangnya dulu di pinggir lapangan, sebuah tas jinjing hitam berlogo basket dan jaket hoodie hitam yang mengawali kesan pertamaku tentangnya. Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Puluhan pasang mata menatap tajam mengiringi langkah kami.

Aku merasa ada sesuatu yang salah di sini. Aku tak seharusnya mengiyakan ajakan Adit. Gosip apa lagi yang akan mengudara tentangku? Aku hanya bisa menundukkan kepala, berjalan di belakang Adit, tanpa sedikit pun rasa percaya diri yang tersisa. 

Payah.

“Eh gilaa! Siapa pelatih taekwondo kita yang baru? Ganteeng bangeett sumpah!”

“Iyaaa ganteng bangeett! Biar om-om kalo gantengnya kayak gitu mah Gue embaaatt.”

“Siapa ya namanyaa? Kalo pelatihnya gitu sih, Gue mau ikut ekskul taekwondo ah.”

Susana kelas jadi berubah sejak Adit menampakkan wajahnya di sekolah kami. Mungkin tidak hanya di kelasku saja yang seperti ini. Kemunculan Adit sudah menarik perhatian seisi sekolah, dan membuat siswa laki-laki di sini melipat wajah mereka dalam-dalam. Kesal karena siswi perempuan setiap detik membicarakan tentang Adit. Dan jujur saja aku pun sama seperti siswi yang lain. Masih mengagumi sosok Adit yang sangat memabukkan.

“Berisik banget sih kalian!! Sekolah belum bener udah mikirin om-om kayak gitu?! Mau jadi tante-tante ya sudah?”, suara Sella seketika membuyarkan lamunanku. Menakutkan. Sedikit tersinggung dengan kata tante-tante.

“Apaan sih Lo Sel? Tiap hari bawaannya ngomeell teruss. Emang kenapa kalo kita suka sama yang lebih tua dikit? Cuma beda 3 tahun aja kok.”, kata Rina sewot.

“Iyaaa, kan cinta nggak mandang usia”, sambung Betty sambil meliuk-liukkan tubuhnya, persis cacing kepanasan.

Aku hanya bisa diam mendengarkan kelanjutan dari adu mulut ini. Memutuskan untuk mengerjakan kumpulan soal UN, memerah otak lagi, entah apa yang akan aku tuju. Masa depan seperti apa yang menantiku.

Setelah cukup lama mereka berdebat, akhirnya mereka berhenti saat bel pulang berdering. Hari ini kami bisa pulang lebih awal karena pengajar yang harusnya mengajar kelas tambahan kami tidak masuk karena sakit.

Karena Bang Banu telah ku suruh untuk menjemput jam 11 malam, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi sebelum itu, aku sangat ingin bermain dengan kamera ku. Aku memutuskan untuk pulang terpisah dengan Sella. Karena biasanya Sella selalu menawarkan seat kosong di mobil Honda Jazz nya itu kalau kami pulang lebih awal.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan kamera yang melekat di genggamanku. Jari-jari ku sudah gatal untuk mengcapture setap sudut dan angle yang indah dari tempat dan barang-barang yang ku temui.

Saat jemariku asik memotret sana-sini, di setiap tikungan, kelokan dan sudut dari sekolah, aku menemukan satu pemandangan yang sangat indah, pemandangan yang memabukkan, membuatku mematung di samping pohon Rhododendron di lapangan sekolah.
Di seberang sana, di tengah lapangan, sosok yang indah itu berdiri, membenarkan posisi sabuk taekwondonya.

‘CEKRIIK CEKRIIK’

Tanpa sadar jemariku sudah mengambil gambar Adit. Aku terkesiap menyadari apa yang baru saja ku lakukan. Takut Adit menyadari kalau aku memotretnya, aku bersembunyi, menenggelamkan diri di balik pohon Rhododendron  yang sudah berusia 130 tahun ini. Batang yang cukup besar dan bunga pink dan merahnya yang lebat cukup untuk menyembunyikanku.

Ragu-ragu aku mengintip Adit layaknya seorang penguntit. Di terik matahari Jakarta yang membakar kulit, Adit dengan semangat memberikan pelajaran taekwondo, sesekali menyeka peluh yang bergulir di dahinya. Wajahnya masih menebar senyum meskipun dia sudah terlihat kelelahan. Wajahnya makin terlihat bersinar di tengah berkas cahaya matahari yang menerpa dirinya. Sungguh menawan.

‘CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK’

Aku memotret Adit dengan kecepatan penuh. Entah sudah berapa banyak foto Adit dalam kameraku. Aku terus mengambil gambarnya tanpa henti seperti seorang maniak. Setiap sudut, gerakan, detail, pose tak ada yang terlewatkan dari kameraku.

Jemari ku berhenti mengambil gambar Adit saat aku melihat dari lesa kameraku dan menyadari dia 
melihat ke arahku. Refleks, aku kembali ke tempat persemayamanku. Di balik pohon Rhododendron, memeluk erat kamera ku, berpacu dengan detak jantung yang tak terkontrol, berharap Adit tak akan datang kemari.

Aku bisa mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Berderap perlahan, santai, ke arahku. Semakin dekat, semakin dekat. Kini suara langkah kaki itu terhenti.

‘Oh tidak! Apa dia menemukanku? Apa yang harus ku jelaskan padanya? Bagaimana kalau dia 
menganggap aku penguntit? Adit pasti sangat tidak menyukainya, harapan untuk semakin dekat dengannya sudah hilang!!’

Aku sangat ketakutan. Ku pejamkan mataku, menahan nafas, mematung.

“Pelatih!”



Author : Yay! setelah lama aku ga update cerita :'( terima kasih buat yang masih setia nunggu update an ceritaku yang masih abal-abal ini :') maaf banget chapter kali ini pendek :'( Don't worry author bakal update soon. love youu guys :))




Suara ringkihan pagar tua yang sudah dimakan karat ini sungguh mengesalkan. Semoga saja aku tidak membangunkan Ibu. Semoga hujan meredam suara kedatanganku.

Dengan langkah berjinjit aku melewati halaman, menginjak lembut rumput-rumput yang basah diguyur hujan. Setelah meletakkan sepatu di rak dan payung di tempatnya, aku membuka pintu, berusaha setenang mungkin.

“Ibu, Dinda pulang”, bisikku pelan
Lagi-lagi Ibu masih menungguku pulang. Tertidur pulas di kursi rodanya, meskipun aku tahu pasti sangat tidak nyaman tidur seperti itu, tapi Ibu terlihat sangat pulas.

Ibu mengalami gangguan di otot kakinya. Otot kaki Ibu tiba-tiba melemah, sehingga harus memakai kursi roda yang reyot ini. Aku berjanji akan membelikan kursi roda yang bagus untuk Ibu nanti. Pasti. Tunggu sebentar lagi Bu.

Dalam diam, aku membenahkan posisi Ibu, mendorong kursi roda ke kamarnya dan menggendong Ibu ke kasurnya. Tubuh Ibu yang langsing tidaklah berat bagiku.

Sejenak aku memandang wajah Ibu, wajah malaikat yang selalu mengkhawatirkanku. Senyum abadi yang selalu diperlihatkan Ibu ke orang lain, senyuman yang tak akan pernah pudar. Mata Ibu yang berbinar seakan tak pernah redup untuk memancarkan kehangatan. Ibu selalu terlihat kuat di depan orang lain, karena Ibu tahu saat orang lain meremehkan kita, kita tak boleh terlihat lemah, kita tak boleh terlihat seperti yang mereka inginkan.

Namun bagi anak-anaknya, bagiku, Ibu adalah sosok paling kuat yang pernah diberikan padaku.

Tanpa sadar aku menitikan air mata. Aku akan selalu ada di samping Ibu, aku akan selalu berjuang untuk Ibu, aku akan membawa Ibu dan yang lain ke tempat terindah yang bahkan tidak bisa kita bayangkan sebelumnya.

Aku akan membuat Ibu bahagia. Aku berjanji. Ku kecup kening Ibu sambil mengucap dalam diam mantra yang selalu Ibu ajarkan. “Kebahagiaan pasti akan datang”

Aku menyelimuti tubuh Ibu sebelum berlalu ke kamarku. Niat hati ingin bergulat dengan tugas-tugas dan buku-buku ku lagi, namun terima kasih kepada Si Payung Hitam yang berhasil membuatku kepikiran sampai sekarang.

Siapa kah namanya? Bagaimana rupanya? Di mana rumahnya? Semua pertanyaan tentang Dia dari tadi mengusikku. Menelisik masuk, memenuhi setiap rongga dalam otakku. Ku menatap jauh ke luar jendela, kembali ke tempat di mana kami berjumpa, samar-samar, tertutup bulir-bulir hujan.

Sudah pukul 01.00 dini hari, dan kuputuskan untuk merebahkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan coretan-coretan ingatanku dulu bersama Mama dan Papa sebelum akhirnya aku pun terlelap.

***
Kicau burung menyambut pagi di panti. Berto, burung kesayangan Bang Banu ini memang jago kalau soal berkicau. Suara nya merdu, bak nyanyian surgawi, berkumandang menjalar di setiap seluk beluk ruangan panti, menenangkan, melenakan.

Dingin pagi masih menusuk. Sisa hujan kemarin membuatku ingin kembali memeluk guling dan bersembunyi di balik selimut. Namun apa daya, alarm super dahsyat milik panti ini berbunyi dengan kerasnya.

“KAAAAK DINDAAAA BANGUUUUNNN!!! UDAH PAGIII NIII”

Entah dari mana asalnya, tapi gempa setiap pagi selalu terjadi di panti ini, mungkin lebih tepatnya hanya di kamarku saja.

“Haaa, iyaaa Nino sebentar lagi Kakak bangun. 5 menit lagi ya …”

Ya, Nino memang anak yang aktif, rajin dan selalu bangun pagi. Teriakannya adalah alarm nomor 1 di sini. Dan sialnya dia harus berlompat lompat ria di kasurku seperti sedang main trampoline saat membangunkanku.

“NGGAAK BOLEH KAAK!! IBU SUDAH SIAPIN SARAPAN BUAT KITAAA”

‘DUUUK’

Aku terjingkat saat mendengar suara dentuman benda yang jatuh ke lantai yang disusul dengan suara tangisan.

“HHHUUUUUUAAAAAA SAAAKIIIIIT”
Rupa-rupa nya itu suara Nino yang terlempar ke lantai saat lompat-lompat tadi. Spontan aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.

“HAHAHAHAHAHA makanyaa jangan lompat-lompat di kasur Kakak.”

“Kakak JAAHAAATTT, Nino sakit malah di ketawain”

Yah, sangat lucu melihat Nino jatuh seperti tadi, namun juga kasihan. Aku menggendongnya ke atas kasur dan mengelus-elus pantat kecilnya itu.

Aku melihat jam dinding dan terkesiap saat melihat sudah jam 06.40, sedangkan kelas akan dimulai 20 menit lagi. Aku gelagaban bergegas ke kamar mandi, menyabet sekenanya handuk di jemuran, mandi seadanya, dan melesat ke meja makan.

“Ibu, Dinda udah terlambat. Dinda minum susunya aja ya Bu.”

Aku menyambar susu putih yang sudah Ibu siapkan, bergegas ke teras memakai sepatu, melesat tanpa sempat membiarkan Ibu berbicara sepatah kata pun.

“Nanti mau Abang jemput kah Din? Mumpung ga kuliah nih. Daripada kamu malam-malam naik bus, bahaya. Apalagi adek Abang ini cantik banget.”, kata Bang Banu saat aku memakai sepatu, masih menggigit gelas susu yang belum habis.

Bang Banu sudah berumur 27, sudah siap nikah sih, tapi dia milih tetap tinggal di panti ini. Bukan, Bang Banu bukan anak kandung Ibu, Bang Banu juga anak yang kurang beruntung yang Ibu temukan di pinggir jalan dalam kondisi yang menyedihkan, sama seperti kami yang lain.

Mungkin kalian bertanya-tanya aku yang berumur 17 tahun dan Bang Banu yang sudah berumur 27 tahun masih berada di panti ini apa karena tidak ada yang mau mengadopsi kami?

Jangan salah paham, kami adalah anak emas di panti ini, kecerdasan kami mengalahkan anak-anak panti pada umumnya. Aku sekolah di salah satu SMA bergengsi di Indonesia, dan Bang Banu kuliah di Fakultas Kedokteran UI.

Pada awalnya aku juga ingin mendapatkan orang tua asuh, itu sebelum aku mendengar perkataan Bang Banu yang merubah cara pandangku terhadap panti ini.

“Orang tua asuh apaan? Abang ga butuh orang tua lain selain Ibu. memang selama ini yang menyayangi, memasakkan makanan, mengelus kepala sebelum tidur, memandikan, mendidik dan membesarkan Abang siapa? Apa ada orang tua lain yang bisa dan mau ngelakuin itu ke anak seperti Abang saat itu? Ibu mau ngajak Abang buat tinggal di sini dan mau menanggung semua biaya hidup Abang. Jadi ga ada orang tua lain selain Ibu, dan ga ada rumah lain yang bakal jadi tempat Abang pulang selain rumah ini.”

Ya, begitulah perkataan Abang yang menyentuh dan mengetuk hati ku. Aku bertekad akan menemani Ibu di sini.

“Halaah gombal kamu Bang!”, kataku sambil menyodorkan gelas susu yang masih ada isinya itu ke mulut Bang Banu.

“Jam 11 malam ya Bang!”, sambungku melesat ke jalanan, menghilang di macetnya Ibu kota.

***

“PAAAAK PAAAKKK STOOOPPP JANGAAANN TUTUP GERBANGNYA!!!”, suara Sella menyambutku di seberang sana.

Entah siapa yang telat di antar kami berdua, kenapa malah dia yang berteriak agar pak satpam tidak menutup gerbangnya.

“Nggak bisa Mbak Sella, ini sudah telat.”

“BENTAAARRR AJAA PAK!! ITUU!! DIA UDAH LARI KE SINI!! DINDA KAN GA PERNAH TELAT SEBELUMNYA PAK! SAYA JUGA TAHU ATURAN, MASIH ADA 2 MENIT LAGI!!”

Teriakan Sella tak kalah nyaring dengan teriakan Nino. Kenapa hari ini, pagi ku diisi dengan teriakan-teriakan orang? Selagi mereka berdebat, aku berusaha lari secepat mungkin.

Tanpa sempat mengambil nafas, sesampainya di gerbang aku menyambar tangan Sella dan berlari ke kelas, sialnya lagi, kelas kami ada di lantai 3. Kami berdua lari dalam khidmat.

Sesampainya di depan kelas, tersengal-sengal, kami mencoba mengatur nafas kami sebelum kami masuk ke kelas.

Untung saja guru tidak masuk kelas. Dan kami pun memulai kegiatan biasa kami. Belajar masing-masing dalam diam, rasanya hampir seperti kami sedang dalam upacara pemujaan setan. Susananya, kesunyiannya, atmosfer nya, semuanya terasa memuakkan.

Semuanya diam seperti patung, setidaknya begitu sampai bel istirahat berbunyi. Saat bel istirahat sudah mengeluarkan ultimatumnya, seketika semua orang berhambur keluar. Rasanya seperti ruh mereka yang sejak tadi pergi entah ke mana sudah kembali ke raga nya.

“Din ngantin yok. Lo telat kan? Pasti gak bawa bekal kan? Gue bayarin deh!”

“Betulan kamu bayarin ya? Hahaha ayook!!”, hari ini aku sangat kelaparan, sudah tidak sarapan, tak bawa bekal, uang saku juga kelupaan. Mujur sekali nasib ku ini.

Saat kami berjalan melewati lapangan olahraga, aku sangat kebingungan melihat banyak sekali siswi berkumpul di lapangan. Ternyata sama sepertiku, Sella juga penasaran.

“Eh ada apaan sih? Heboh banget!”, tanya Sella pada salah satu siswi yang kegirangan hendak menuju ke sana.

“Mau lihat ekskul Taekwondo!”, jawab siswi yang tak ku kenal itu.

Aku tahu ekskul Taekwondo sebentar lagi akan mengikuti lomba provinsi, tapi sebelumnya tak ada yang berminat untuk menyaksikan mereka latihan. Penasaran, aku dan Sella menyelinap masuk di antara kerumunan itu.

“Dia …”, aku terpaku saat melihatnya. Postur tubuh itu. Aku melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Oh tidak, dia mendekat kemari, dia melangkah kemari, dia menatapku, Si Payung Hitam itu …. Mungkinkah?

“Loh? Mbak Kunti? Sekolah di sini??”, katanya sambil menunjuk ke arahku, tentu saja setelah membubarkan anak buah nya untuk istirahat. Tapi tunggu, apa?? Mbak Kunti??

“Loh? Mas Payung Hitam??”, timpalku. Ternyata benar. Dia orangnya.

“Loh? Tunggu! Lo kenal sama Dinda Dit?”, imbuh Sella. Dit? Namanya Dit? Dit siapa? Dodit? Radit? Medit*1?

*1 bahasa jawanya pelit.

“Oh, jadi nama Mbak Kunti ini Dinda. Halo, kita belum kenalan dengan benar. Kenalin namaku Adit. Aditya Pramasetyo. Senang bertemu lagi.”, dia menyuguhkan tangannya ke arahku, menyunggingkan senyuman yang sangat hangat, mata bulat yang terlihat seperti mata rusa itu tertutup setengah saat dia tersenyum. Sungguh manis.

Aditya Pramasetyo, namanya saja sudah membuat perasaaan aneh ini berdesir di antara urat nadi ku. Alisnya tebal dan proprsional, matanya bulat seperti mata rusa, batang hidung yang tinggi, rahang yang kokoh, bibirnya yang hanum, dan lesung pipit di pipi kanannya. Seni. Wajah ini benar-benar sebuah seni. Seni 3 dimensi yang bejalan. Sungguh indah. Sungguh tampan. Suaranya yang berat dan dalam tidak terdengar seperti seorang penjahat lagi, suaranya sungguh memanjakan telinga. Posturnya yang tinggi tegap menambah auranya yang sangat kuat.

“Ehm iya halo. Namaku Dinda. Senang bertemu lagi dengan Anda.”

“Kampret gue di kacangin! Kapan Lo kenal sama Dinda? Lo gak ngapa-ngapain Dinda kan Dit?”, sela Sella yang kesal karena tak dihiraukan dari tadi.

“La Lo La Lo. Gue lebih tua 3 tahun dari kamu ya Sel. Dasar.”, kata Adit sambil mengacaukan rambut Sella yang entah kenapa harus saat itu dia tidak menguncir rambutnya.

Tapi tunggu, Adit 3 tahun lebih tua dari aku?! Tunggu, serius??!

“Hahahaha, yaudah kita makan bakso aja yuk, aku yang traktir. Baru dapat bayaran nih hahaha.”, kata Adit mengajak kami untuk makan.

“Anu … Kak, eh Mas, eh Bang, eh Om ..”

“Panggil nama aja. Sella juga selama ini kusuruh manggil nama aja tanpa imbuhan ‘kak’. Lagian aku cuma lebih tua 3 tahun dari kalian, bukan berarti aku udah tua banget kan? Biarin aku tetap berasa muda hahaha”, Adit memotong perkataanku sambil sedikit tertawa.

“Ehm, kamu ngapain ada di sini?”, tanyaku.

Sial dari tadi kami tidak bisa makan bakso yang lezat ini dengan tenang. Bahkan untuk sesuap rasanya sulit sekali. Bagaimana tidak, setiap kali kami ingin menyendokkan bulatan daging sapi bersama dengan kuah kaldunya ini selalu saja ada siswi yang berteriak histeris. Apakah ada hantu di sekolah ini? Apa dia kerasukan? Aneh sekali.

“Seperti yang kamu lihat, sekarang aku jadi guru Taekwondo di sini. Guru sebelumnya sudah keluar.”
Aah, ternyata tubuh proporsional itu, lengan dan kaki yang kokoh dan dadanya yang bidang itu bukan dari basket, tapi dari Taekwondo. Aku telah salah tentangnya dari awal.

“Kenapa Lo mau ngajar di sini? Mau ketemu terus sama Gue yaa??”

“Pede banget kamu. Hii siapa yang mau berurusan sama nenek lampir kayak kamu? Baik aku diem di rumah. Aku ngajar ke sini buat nyari anak-anak yang berbakat Taekwondo, akan kulatih dan ku buat jadi juara dunia. Dan paling utama, aku akan menjadikan ekskul Taekwondo di sini jadi ekskul tetap. Taekwondo di sini belum di jadikan ekskul tetap kan? Kalau di sekolah-sekolah yang ku latih sebelumnya, Taekwondonya sudah berhasil ku jadikan ekskul tetap.”

“Jadi, misimu mau jadikan Taekwondo sebagai ekskul tetap? Okay then, Let’s us see your progress in here!”, timpal Sella sambil menyuguhkan tangannya.

“My pleasure.”

Satu kata itu menyudahi acara makan siang kami. Adit harus kembali mengajar anak buahnya agar bisa mencapai misi-misinya itu.

Sedangkan aku dan Sella masih harus berkutat dengan buku, entah apa yang akan kami tuju di masa depan, kami masih belum tahu.

Dan apa yang akan terjadi padaku dan Adit, aku juga tak tahu. Aku hanya berharap semoga kami bisa memiliki waktu bersama yang lebih banyak. Waktu untuk mengenal lebih dalam tentang Adit.


Sebulan lagi, kami akan menghadapi Ujian Nasional. Kepala sekolah mengharuskan semua murid kelas 3 untuk mendapatkan kelas tambahan sepulang sekolah.

Tak jarang kami harus pulang ke rumah larut malam. Semua berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik dan masuk ke Universitas terbaik di Indonesia.

‘RING DING DONG’

Bel berakhirnya kelas tambahan sudah berbunyi. Hari sudah gelap, jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini kami pulang lebih larut dari biasanya. Semua beranjak meninggalkan kelas.

“Lo nggak pulang lagi Din?”, suara lembut dari belakang yang diiringi dengan tepukan di pundak kiri ku membuatku terkejut.

“Pulang lah Sel, tapi nanti dulu. Aku mau belajar sebentar lagi.”

“Hmmm sebentarnya Lo tuh sampe besok pagi Din. Yaudah gue pulang duluan ya. Jangan dipaksain, Lo juga harus jaga kesehatan, bentar lagi kita UN loh.”

“Iya, makasih Sel. Hati-hati ya kamu di jalan.”

Sella meninggalkan ruang kelas sambil melambaikan tangannya kepadaku.

Sekarang benar-benar aku sendiri yang masih tinggal di kelas, ditemani bertumpuk tumpuk buku yang telah menanti untuk di baca, suara goresan-goresan pena dan kopi kotak rasa frech vanilla kesukaanku.

Aku rasa hari ini aku akan pulang jam 11 lagi. Ibu sudah tahu kalau aku pulang larut, berarti aku masih ada di sekolah. Ibu sangat perhatian dan menganggap anak-anak panti sebagai anaknya sendiri.

Tanpa terasa sudah pukul 11 malam.

Sudah waktunya untuk pulang.

Meskipun aku masih ingin berkutat dengan buku-buku dan pena ku, namun aku harus pulang.

Kasihan Ibu. Padahal sudah ku katakan berkali-kali kalau tak usah menungguku, tapi Ibu masih sering menungguku sampai pulang, terlelap di sofa ruang tamu, menanti salah satu anaknya untuk kembali ke rumah, memastikan tak ada satu pun dari kami tidur kedinginan di luar rumah.

Ibu menyediakan kehangatan yang lembut untuk kami, menyediakan rumah untuk kembali, menyediakan sandaran untuk berbagi, mengajarkan kami untuk mengasihi.

Aku berlari terburu-buru, menyusuri lorong demi lorong STAVLENNYA.

Untung saja sekolah kami tak menakutkan di malam hari, banyak petugas keamanan yang masih mondar-mandir mengecek satu per satu ruang kelas. Lampu-lampu juga tidak pernah di matikan.

“Begadang lagi Din?”, sapa Pak Herman. Beliau adalah petugas keamanan sekaligus teman ngobrolku kalau aku pulang telat. Pak Herman sering menghampiriku ke kelas dan memulai pembicaraan denganku.

“Iya Pak, ini kemalaman. Saya duluan ya Pak.”, jawabku sambil terus melesat diantara lorong-lorong, tak mengurangi sedikit pun kecepatan langkahku.

‘TES TES TES’ awan menumpahkan bulir-bulir hujan ke bumi.

Dari tetes-tetes kecil, kemudian turun dalam jumlah yang banyak, dengan kerapatan yang rapat. Tidak deras, namun cukup membuatmu basah kuyup dalam waktu 5 detik.

“Aduh, kenapa harus di saat seperti ini? Sudah terlalu larut kalau harus menunggu hujannya reda.”, gumamku.

Langkahku terhenti di depan gedung sekolah. Dari sini ke gerbang lumayan untuk membuatku basah kuyup meskipun berlari.

“Loh? Mana payungku?”, aku membongkar semua isi tas ku, mengaduknya, namun payung biru ku tidak ketemu. Akhirnya aku nekat untuk lari ke depan gerbang.

Bodohnya aku, aku tak memperkirakan waktu yang akan kuhabiskan untuk menunggu bus datang.

Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh, tak bisa kalau di tempuh dengan jalan kaki. Untung saja masih ada bus yang beroperasi jam segini.

Tapi, sekarang bagaimana? Aku harus menunggu bus itu dulu. Dan sekarang aku sudah berada di depan gerbang, tanpa payung, sendirian, diterpa hujan.

Ah sial, sial sekali. Lagi-lagi hujan membuatku dalam masalah. Aku mengumpat, memejamkan mata, sampai tak menyadari kalau hujan sudah berhenti.

“Eh? Sudah berhenti? Tapi kok?”, aku membuka mataku perlahan.

“Loh loh loh! Kok di sebelah sana masih hujan??? Kok di sini nggak??”, aku terperangah melihat kejadian di depan mataku itu.

Aneh. Aneh sekali. Di luar akal sehat manusia.

“Ehem.”, dehaman pria di sebelahku membuatku merinding.

Kaget. Spontan, ku luncurkan serangan-serangan ke pria itu dengan tas ku. Pria tinggi, mengenakan jaket hoodie hitam dan suaranya yang berat dan dalam cukup membuktikan kalau dia bukan orang baik-baik.

Mana ada orang yang keluar jam segini dengan pakaian seperti itu kalau dia bukan orang jahat?

“Eh eh stop! Saya bukan orang jahat!”

“Alasan kamuu. Sana pergi jauh-jauh dari ku! Mana ada penjahat yang mau ngaku??”

“Iya iya, yaudah saya pergi!”

Seiring dengan langkahnya yang bergesar menjauh, tubuhku kembali terguyur hujan. Ternyata dia yang memberiku tumpangan payung tadi.

Aku merasa tak enak hati, namun bibirku spontan melarangnya pergi.

“Eh eh jangan! Jangan pergi! Sini balik!”, duh sungguh malu aku. Dasar mulut tak tahu diri.

Tapi pria itu dengan senang hati kembali memberiku tumpangan payung.

“Maaf, ku kira kamu orang jahat. Udah jam segini masih keluyuran di luar. Pakai baju hitam-hitam lagi.”, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan dengannya, karena aku merasa bersalah sudah memukulinya seperti tadi.

Sesekali aku memandangnya dari samping. Baru kelihatan kalau dia menenteng sebuah tas yang berlogo basket. Anak basket? Tanyaku dalam sunyi. Pantas saja badannya tinggi dan tegap, lengannya terlihat kuat, perutnya ramping, dan kakinya terlihat kokoh.

“Kalau gitu, ku kira kamu kuntilanak, jam segini keluyuran di luar, pakai baju putih-putih lagi.”

Pria ini, memiliki selera humor yang lumayan juga. Dari tadi, selama kami berbincang tak ada satu pun dari kami yang saling menatap atau pun memperlihatkan wajah kami. Kalau aku, terlalu malu tentunya. Entah apa alasan pria ini.

“Yaudah nih, aku harus pulang cepat-cepat. Udah terlalu malam.”, kata pria itu sambil mengarahkan tanganku untuk mengambil payungnya.

Kemudian dia berlari, menghilang di antara hujan, memberi kenangan indah walau sesaat.

Dia orang yang mengajakku bicara selain Sella. Di pertemuan pertama, sungguh memberikan kesan yang berarti untukku.

Aku hanya menatapnya dari sini. Berharap kalau dia kembali. Ku harap ada sesuatu miliknya yang tertinggal.

Menemaniku sampai bus ku datang, menghabiskan waktu berdua, mengobrol, di tengah rinai hujan, di bawah payung hitam.

Deruman bus membuyarkan khayalanku.

Aku melipat payung hitam, melangkah masuk ke dalam bus, duduk di bangku ke 5 di samping jendela, menatap tempat dimana aku dan dia berbincang yang samar-samar terlihat, tertutup bulir-bulir hujan yang mengalir di jendela bus.

Dia,  yang tak ku ketahui siapa dan bagaimana rupanya, mampu memberikan kesan pertama yang begitu indah dan menyenangkan.

Hanya beberapa kalimat yang kami ucapkan, cukup untuk membuatku penasaran dan terbayang-bayang.

Dia, siapa?
Chapter 2 : Stiff Girl

Riuh. Suasana kelas sangat riuh. Menyanyi, main gitar,  tidur, membully, berdandan, gosip, menyilangkan kaki di meja, persis di angkringan pasar. Sangat mengganggu.

“Tolong tenang teman-teman.”, tak ada yang menghiraukan.

Suaraku tenggelam oleh riuhnya suara mereka. Ah benar, mereka menganggapku tidak ada.

Meskipun aku seorang ketua kelas, mereka tak pernah menghiraukanku.

Karena aku hanyalah anak panti asuhan yang masuk sekolah elit ini karena beasiswa, sedangkan mereka semua adalah anak orang-orang yang berada.

 ‘BBAANG’

“Berisik banget sih kalian. Bisa diem nggak? Ini sekolahan bukan pasar. Jaga attitude kalian!”

Seketika suasana menjadi hening. Semuanya kembali ke posisi masing-masing.

Ya, tak ada yang berani melawan Sella. Ayahnya adalah pemilik dan kepala sekolah ‘STAVLENNYA HIGH SCHOOL’. Sella adalah sahabat baikku. Dia selalu mendukung dan membantuku saat yang lain mengucilkanku. Dia seperti tameng bagiku.

“Lihat, Dinda tuh cuma bayang-bayang nya Sella. Dia bisa apa sih tanpa bantuan Sella? Cari temen aja ga bisa eh malah di tunjuk jadi ketua kelas sama Bu Arum.”

Entah aku harus senang atau marah mempunyai sahabat seperti Sella. Dia selalu mendukungku, tapi hal itu membuatku menjadi bayangannya, seperti yang lain katakan. Aku hanya bayangan Sella. Tak mampu berdiri di atas kaki ku sendiri, tak bernyali untuk mengangkat wajah ku, bahkan untuk bicara saja aku butuh bantuan Sella.

Hal yang bisa ku lakukan dengan kemampuanku sendiri, hanyalah berkutat seharian dengan buku dan kamera yang kubeli dengan uang ku sendiri.

Uang yang kudapat dari menjuarai olimpiade-olimpiade, uang yang ku dapat dari kerja paruh waktu di minimarket, kerja paruh waktu di apotek, kerja paruh waktu di restoran ayam cepat saji, kerja paruh waktu di perpustakaan daerah, uang hasil keringatku sendiri. Tak mungkin aku tega meminta hal-hal mahal seperti kamera ke Ibu Panti. Beliau sudah cukup kesusahan dengan tingkah aneh-aneh kami di panti, ditambah harus memutar otak agar uang donasi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.

“Makasih ya Sel”, bisikku pelan.

Bu Arum, guru wali kelas kami sekaligus guru mata pelajaran Fisika memasuki ruang kelas.

“Oke hari ini kita pelajari materi Fluida Dinamis dan Gelombang Mekanik ya. Kita ngulang pelajaran kelas 11, awas kalau lupa.”

Bu Arum guru yang tegas namun juga pengertian. Beliau wali kelas idaman di sekolah kami. Beruntung sekali kelas kami mendapatkan Bu Arum.

Pelajaran Fisika selama 4 jam berlalu begitu cepat hari ini. Entah mengapa setiap hari mendekati UN terasa begitu cepat, seakan dunia tak mengizinkan kami untuk bernafas lega biar sedetik.

“Yaudah, itu aja materi kita hari ini. Jangan ada yang bolos kelas tambahan loh ya. Semangat belajarnya buat UN.”

“Iya Bu.” Satu kelas menjawab dengan serempak. Bu Arum berlalu meninggalkan kelas yang diiringi oleh bel istirahat.
Keriangan muncul di wajah semua orang.

Ya, istirahat memang paling dinantikan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguras otak. Tanpa komando, semua berhambur ke luar kelas, ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada yang ke perpustakaan dan ada juga yang makan bekal di kelas.

“Ayo Din ke kantin!”, ajak Sella.

Aku hanya menganggukkan kepala, menerima ajakan Sella dan berlalu ke kantin.

Sebenarnya aku membawa bekal setiap hari. Menurutku, masakan Ibu adalah masakan terenak dan yang pasti sehat.

Jadi aku hanya menemani Sella membeli makanan, kemudian kami akan makan bersama. Aku akan mencari tempat duduk, kataku dalam sunyi selagi Sella memesan makanannya.

“Cantik, sini yok duduk sama kita.”, suara yang tak asing. Kim Tae Joon, salah satu anggota BIG CROWN.

Mereka berempat, Adeline, Henry, Christy dan Tae Joon sendiri adalah anak-anak yang paling berkuasa di angkatan kami. Mereka berlatar belakang orang kaya, terkenal dan berpendidikan.

Aku tak menghiraukan ajakannya dan terus melangkahkan kaki ku ke meja yang berada di pojok ruangan dengan view yang menghadap ke luar gedung. Bisa terlihat danau dan taman yang menjadi tempat paling menyenangkan di STAVLENNYA HIGH SCHOOL.

“Hahahaha mampus di kacangi Lo!”, seru Adeline

“Bro! Lo ngajakin makan bareng si Stiff Girl? Ga salah Lo? Selera Lo turun ya ternyata. Hahaha!”, timpal Henry.

“Tae Joon, usaha mu sia-sia. Cewe kaku yang ga bisa nyari temen mana bisa nerima ajakan makan bareng dari cowo. Lagian jangan deh kalau sampe dia duduk bareng kita, ntar kita semua kecelakaan lagi atau bokap kita ntar selingkuh! Mampus kita.”, balas Christy.

Tubuhku gemetaran. Amarahku benar-benar sudah sampai puncaknya. Marah bercampur takut dan sedih akan kenangan-kenangan itu.

Perkataan Christy membangunkan semuanya. Semua ingatan buruk yang berhasil ku pendam selama ini. Pengalaman yang tak seharusnya dialami anak umur 5 tahun.

Panas.

Mataku panas. Aku berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata. Papa, di mana papa saat aku membutuhkannya? Di umurku yang 5 tahun, melihat Mama tergeletak bersimbah darah. Di mana papa? Mana janji papa yang bakal selalu ada buat aku dan kapan pun aku butuh?

*Flashback

20 Maret 2002, 01.40 dini hari

Saat itu, aku hanya bisa menangis melihat keadaan mama dan mbok Sri. Masih tak percaya apa yang terjadi di hadapan mataku.

Aku berharap papa akan datang menyelamatkan mama. Sampai akhirnya aku tersadar kalau papa tak akan datang menyelamatkan kami.

Di tengah hujan lebat, aku menyeret kaki kecilku untuk menyusuri jalanan yang gelap. Menahan dinginnya malam, menahan hantaman hujan yang menyembunyikan air mata.

Setelah lama berjalan, aku memutuskan untuk berhenti di bawah lampu jalan. Remang sinar nya sudah cukup menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya dunia. Memberikan ketenangan.

Sambil terus menangis, aku berharap papa datang. Masih berharap.

Sampai akhirnya aku pingsan dan terbangun di rumah. Bukan, bukan rumah kami yang dulu. Bukan rumah yang penuh canda tawa dan kehangatan yang dulu aku, mama dan papa tinggali.

Aku terbangun di sebuah kamar kecil, namun sangat rapi dan nyaman. Semuanya tertata dengan apik. Wajah hangat seorang ibu-ibu menyapaku, di ikuti dengan wajah-wajah yang baru aku lihat.

“Kak, Kakak nggak apa?”

“Siapa nama Kakak?”

“Kenapa kamu hujan-hujan an malam-malam begini?”

“Kamu nggak apa?”

Rentetan pertanyaan dari wajah-wajah baru itu menghampiriku. Membuatku sangat bingung. Harusnya aku yang bertanya.

Siapa mereka? Di mana aku? Kenapa aku di sini? Mana mama? Mana papa? Hingga aku tersadar kalau mama pergi meninggalkanku selamanya.

Dan papa, papa tidak mencari ku sama sekali, papa tidak ada di saat aku sangat membutuhkannya.

Dan begitulah hidupku berlanjut setelah kecelakaan itu. tinggal di panti asuhan dengan keluarga baru yang lebih menyenangkan dan kehangatan yang lebih hangat dari yang pernah ku rasakan bersama mama dan papa. Berusaha melupakan dan memendam ingatan-ingatan bersama mereka.

*Flashback end

Semua ingatan-ingatan itu terputar seperti film, sangat cepat, sangat nyata, menyesakkan. Semakin aku meningatnya, semakin panas pelupuk mataku. Tak bisa. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis. Di tengah suara tawa kesenangan mereka, aku menangis.

Bukan karena sedih mereka tertawakan, tapi karena kecewa akan diriku yang tak bisa melawan mereka, yang tak bisa mencari teman, yang tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarku.

Tak berharga. Tak berguna. Pecundang.

“Eh eh semua, gue mau ngingetin kalian semua ya, hati-hati kalau deket sama Dinda. Udah pada tau kan kalau dia dapet julukan ‘gadis hujan’? kalau dia sedih, bakalan turun hujan deras, daaan …. Orang yang bikin dia sedih bakal mati karena hujan, entah Lu tenggelem, keseret banjir, kesamber petir, atau yang lain. Hati-hati ya kalian.”

Perkataan Adeline itu disambut tawa kegirangan anak-anak yang lain. Ya, stiff girl, gadis hujan, pembawa sial, anak hujan, anak panti, itu semua adalah julukan ku di sekolah ini.

Semua orang telah mengetahuinya. Banyak rumor tentangku yang beredar di sekolah ini. Terima kasih kepada BIG CROWN yang telah membuatku sangat terkenal.

“STOOP!! Kalo Lo udah tau banyak tentang Dinda, kenapa gak Lo tutup mulut Lo yang busuk itu HAH??!! Tau apa Lo? Gue udah lama temenan sama Dinda gak mati-mati juga tuh. Lo dah bikin Dinda sedih, ati-ati aja ya Lo di jalan. Sapa tau Lo …”, aku menarik lengan Sella untuk mencegah sumpah serapah nya berlanjut, tentu saja setelah menghapus air mataku. Namun Sella menampis tanganku.

“Denger ya kalian semua!! Di sekolah ini, semua siswa nya di haruskan untuk memiliki attitude yang baik!! Sekolah ini bukan untuk ajang saling bully dan unjuk kekayaan. NGERTII??!”

Pidato singkat Sella membuat bulu kuduk merinding. Jiwa pemimpinnya sangat kelihatan saat ini, membuatku terharu. Dia, sekali lagi, Sella kembali menyelamatkanku.

“Dan, sampah seperti kalian berempat gak pantas untuk nginjakin kaki di STAVLENNYA. Kalau kalian bikin ulah lagi, nggak cuma ke Dinda, ke anak lain yang orang tua nya nggak sekaya orang tua kalian, kalau sampai kalian sok berkuasa lagi, nggak bakal gue sembunyiin lagi!! Gue bakal lapor ke kepala sekolah tentang apa yang kalian lakuin.”, tantang Sella dengan berani, menatap tajam ke arah BIG CROWN.

Sella menarik tanganku, meninggalkan pesanannya, meninggalkan kantin. Aku di giringnya ke danau STAVLENNYA.

“Gue heran deh Din sama Lo. Kenapa Lo cuma diem aja digituin? Balas kek sekali-kali. Kadang jadi orang jahat gak salah kok.”

“Nggak Sel. Aku nggak mau nambah musuh lagi.”

“Mereka udah jadi musuh Lo sejak pertama Lo dateng. Di tambah lagi Lo gak mau bergaul sama anak-anak yang lain. Pusing gue sama Lo. Gue gak bisa terus-terusan ada di samping Lo, coba Lo bergaul sama yang lain, gak bakal Lo jadi bahan bully-an di sekolah ini. Aneh banget sih Lo, malah suka main sama kamera yang jelas-jelas gak bisa di ajak ngobrol.”

Bukan aku tak mau bergaul dengan mereka, tapi aku sudah tahu bagaimana jadinya kalau aku bergaul dengan mereka. Mereka hanya akan menginjak-injak ku dan keluargaku. Menginjak-injak Ibu dan keluargaku yang lain di Panti. Derajat kami jelas berbeda, dan mereka tak akan memandang orang-orang seperti kami seperti manusia lainnya.

“Iya Sella …. Mau makan bareng? Ibu masak oseng ikan asin kesukaanmu nih. Ibu bawain bekal buatku kebanyakan. Mau?”, aku berusaha untuk memotong ceramah Sella. Sella sangat suka oseng ikan asin buatan Ibu. Dia juga sering main ke panti.

“Yaudah sini. Gegara kamu, aku ninggal makanan ku.”, balas Sella sambil sedikit cemberut.

Sahabatku ini memang paling menggemaskan kalau sedang cemberut, apalagi kalau ku tawari makanan kesukaannya saat dia marah.

Menyenangkan. Dia seperti adik sekaligus kakak yang aku idam-idam kan.

Sella lebih dari sekadar sahabat bagiku, dia adalah keluargaku.




Hai haii readers yg masih setis membaca ceritaku yang masih abal-abal ini ... Terima aksih banyak kalian masih mau menunggu dan baca nih cerita T^T maaf banget kalau chapter ini ga menarik, monoton, biasa aja, mainstream, kalimat ga indah atau bahkan kalian yg baca sampe stresa krn ga tau artinya T^T Hope you enjoy it ♥♥
Shalsadilla
Hujan adalah anugerah dari Yang Kuasa. Menurunkan berkah namun juga musibah. Aku sangat membenci hujan dari kecil. Sampai aku meyadari keindahan yang muncul setelah hujan berlalu.

Adit. Aku menemukan keindahan dalam sorot matanya. Keindahan pelangi. Dia yang mengenalkanku apa arti cinta di tengah rekayasa dunia yang sedang ku jalani.

Berkat Adit, aku bukanlah Dinda yang dulu. Aku telah banyak belajar dari Adit. Dia adalah orang yang sangat ku cintai, dan selamanya akan begitu.



Halooo readers HUJAN ♥♥ duh maaf banget yaa ... aku lupa naruh sinopsis di sini T^T maafkan kecerobohan yang fatal ini . Huhuhuhu pasti pada bingung yaa ... kenapa di prolog nyeritain Dinda, eh kok di chapter 1 nyeritain Adit. Maaf banget yaaa .... nah sekarang kebingungan kalian akan terjawab di sinopsis ini ^^
Sekali lagi maaf kan kecerobohanku ini
Much Love ♥
Shalsadilla