“Pelatih!!”

Aku baru berani membuka mataku dan menghembuskan nafas saat seorang siswa taekwondo memanggil Adit. Aku dapat mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Sungguh melegakan.

Ku putuskan untuk menjulurkan kepalaku, berniat mengintip apa yang Adit lakukan dengan siswa tadi. Mereka sedang mengobrol. Entah perihal apa, tapi kelihatannya cukup serius. Terlihat siswa itu menyerahkan paper bag pada Adit.  Aku kembali menenggelamkan tubuhku di balik pohon sejenak, membulatkan tekad, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyianku.

‘DEG’

Langkahku terhalang oleh pria bertubuh tinggi dan postur tegap. Tapi … dia kelihatan tidak asing. Ya, karena dia mengenakan seragam taekwondo, ah tidak, mengenakan celana taewondo dan kaos hitam polos tepatnya.

‘Adit? I’m screwed! Aduh, gimana ini?? Aku mau bilang apa ke Adit?’

Meskipun perasaan ku sudah mengatakan kalau itu Adit, tapi kepala ini tak mau menuruti perintah majikannya. Aku mendongakkan kepala.

Rahang yang kokoh, hidung yang tinggi, bibir tipis dan mata rusa yang indah itu menatap tepat ke bola mata ku. Jarak kami begitu dekat. Jarak antara aku dan Adit. Hanya satu jengkal. Iris mata yang berwarna coklat muda itu sangat indah saat di lihat sedekat ini. Wajah Adit, dari jarak sedekat ini, sangat tampan, namun aku juga bisa merasakan dia menyimpan kepedihan dari tiap gurat di wajahnya.

Entah apa yang ada di pikiran Adit, tapi tiba-tiba dia menurunkan kepalanya, mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan hidung kami hampir bersentuhan, menyisakan jarak tidak lebih dari 5 cm. Panas menjalar ke seluruh tubuhku, mendidihkan darah yang mengalir dari ujung rambut sampai ujung jemari kaki ku. Jantung ku berdegup tak karuan. Aku dapat merasakan semburat merah muncul di pipi ku.

Bagaimana kalau Adit melihat wajahku yang merah seperti ini? Pasti sangat memalukan. Aku segera menghempaskan diri ku ke belakang, menjauh dari tubuh Adit. Naas nya, aku tak mampu mengontrol langkahku dan mengakibatkan aku berakhir dengan tersandung akar pohon.

‘GRAB’

Adit menggenggam pergelangan tanganku dan menarik tubuhku dengan mudahnya, menghindarkan tubuhku dari hantaman tanah. Kami kembali ke posisi semula, dengan jarak yang semakin dekat, detak jantung semakin cepat.

“Hmmm .. aku nggak tau ada tempat seperti ini. Pantas dari tadi kamu diam terus di bawah pohon ini.”, kata Adit dengan tatapan dan senyuman jailnya.

“Ha? Siapa yang memotretmu?! Jangan kepedean deh! A … aku .. aku motret pohon Rhododendron ini kok! Haha, siapa juga yang motret kamu haha.”, aku kebingungan, menjawab sekenanya, memaksakan tawa, memalingkan tubuhku sambil menepuk-nepuk batang Rhododendron.

“Hmmm .. Aku nggak ada nyebut soal kamu ngambil gambarku diam-diam loh Din.”, Adit cekikikan kecil.

“Ha? Mmm … Terus kok kamu bisa nggak pake atasan seragam taekwondo mu lagi? Cepet banget gantinya!”, aku langsung membungkam mulutku setelah sadar apa yang aku katakan, dan melihat Adit semakin tertawa lepas. Suaranya yang berat dan dalam sungguh menarik saat ia tertawa.

“Hahaha kamu lucu banget sih Din. Aduh .. haha aku sampe nangis karena ketawa. Tadi kamu pasti lihat kan? Anak yang ngasih paper bag ke aku, itu isinya baju.”, Adit berjalan mendekat ke arahku yang terpojok, bersandar di batang pohon, membungkam mulut. Aku sangat yakin wajahku saat ini seperti orang kikuk.

“Nggemesin banget kamu.”, kata Adit sedikit tertawa sambil mengacak lembut rambutku dengan tangannya yang besar itu, tangan seorang pria. Aku bisa merasakan kerja keras dan perjuangan yang telah ia lakukan dari sentuhan telapak tangan dan jemarinya itu.

Sekarang dia benar-benar berada di sampingku. Dengan gerakan cepat, Adit melepaskan kalungan kamera di leherku. Entah refleks ku yang lambat atau gerakan Adit yang terlalu cepat, aku tak sempat menghalangi tangan Adit.

“Oh … bagus juga pose-pose ku di sini. Kamu jago photography ya? Keren loh. Aku kelihatan ganteng di sini hahaha.”

‘Tu … tunggu. Adit ngeliat galeri kameraku??!!!’

“Uugh sini kan! Jangan di lihat!. Adiit!! Balikin kameraku!!”, kami memutari pohon selama beberapa menit, selama itu juga aku menghabiskan tenaga untuk merebut kameraku. Berjinjit, melompat, semua sudah ku lakukan, namun apa daya perbedaan tinggi kami benar-benar disadvantage buatku.

“Sepertinya di sini sangat sempurna untuk berfoto.”, Adit menarikku mendekati batang Rhododendron. Dengan kamera yang digenggam tangan kanannya, tiba-tiba dia mengalungkan tangan kirinya di leherku, membuat tak ada jarak di antara kami.

‘A … aku .. aku tidak mimpi kan? Aku berada dalam rangkulan tangan Adit?’

Adit menyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku mematung untuk kesekian kalinya, Adit membuat detak jantungku berhenti sesaat untuk kesekian kalinya.

Aku dapat mencium aroma tubuhnya . Entah sabun apa yang dia pakai, parfum apa yang dia semprotkan, setelah berkeringat seperti tadi, tak ada sedikit pun bau asam dari tubuhnya. Aroma tubuh Adit sangat khas, sangat segar, membuatku ingin selalu di dekapannya seperti ini.

‘Hah? Apa yang ku pikirkan?!! Sadar Dinda! Sadar!!’

‘CEKRIIK CEKRIIK’

Tanpa sempat merubah ekspresi kikukku, Adit sudah mengambil gambar kami berdua. Dengan tangannya yang besar, tak akan sulit untuknya menekan tombol kamera.

“Nih. Jangan dihapus yaa .. Awas aja kalau kamu hapus.”, Adit menyerahkan kameraku sambil tersenyum, lesung pipit nya terlihat sangat manis.

Bagaimana mungkin aku tega untuk menghapus foto yang sangat indah?? Akhirnya aku bisa memiliki foto Adit. Terlebih lagi, dia yang mengajak untuk foto berdua. Bagaimana aku tega menghapus foto mahakarya Yang Kuasa ini?

“Nggak pulang Din? Kayaknya nggak ada kelas tambahan deh.”, Adit berusaha memulai pembicaraan. Mungkin karena dia tak tahan melihatku yang diam daritadi. Masih di tempat yang sama, di bawah pohon Rhododendron, hanya kami berdua, tersembunyi dari tatapan lalu lalang warga sekolah yang lewat.

“Eh .. anu .. tadi kirain ada kelas tambahan, jadi minta jemput Abang jam 11 malam. Ini juga mau pulang tadi, gara-gara kamu jadi telat deh pulangnya.”, jawabku berkilah.

“Oh, jadi gara-gara aku ya? Yaudah, ayo ku antar pulang. Di mana alamat rumahmu?”

‘Apa ini? Kenapa Adit tiba-tiba? Dia nggak ada niat buat nyakitin aku kan? Dia nggak manfaatin rasa suka ku ke dia kan? Kenapa dia tiba-tiba?’, ribuan pertanyaan memenuhi kepalaku. Menyerbu, menimbulkan sedikit keraguan.

“Hei Din? Kenapa bengong? Kamu jangan mikir yang aneh-aneh yaa. Aku bener-bener cuma mau antar kamu pulang.”

“Eh .. nggak mikir apa-apa kok. Iya deh boleh. Jl. Semanggi no. 71, kamu tahu jalannya?”

“Oh situ. Agak lupa sih, nanti kamu kasih tau aja lewat mananya.”, balas Adit menyunggingkan simpul manis di bibirnya.

Adit mengambil beberapa barangnya dulu di pinggir lapangan, sebuah tas jinjing hitam berlogo basket dan jaket hoodie hitam yang mengawali kesan pertamaku tentangnya. Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Puluhan pasang mata menatap tajam mengiringi langkah kami.

Aku merasa ada sesuatu yang salah di sini. Aku tak seharusnya mengiyakan ajakan Adit. Gosip apa lagi yang akan mengudara tentangku? Aku hanya bisa menundukkan kepala, berjalan di belakang Adit, tanpa sedikit pun rasa percaya diri yang tersisa. 

Payah.

“Eh gilaa! Siapa pelatih taekwondo kita yang baru? Ganteeng bangeett sumpah!”

“Iyaaa ganteng bangeett! Biar om-om kalo gantengnya kayak gitu mah Gue embaaatt.”

“Siapa ya namanyaa? Kalo pelatihnya gitu sih, Gue mau ikut ekskul taekwondo ah.”

Susana kelas jadi berubah sejak Adit menampakkan wajahnya di sekolah kami. Mungkin tidak hanya di kelasku saja yang seperti ini. Kemunculan Adit sudah menarik perhatian seisi sekolah, dan membuat siswa laki-laki di sini melipat wajah mereka dalam-dalam. Kesal karena siswi perempuan setiap detik membicarakan tentang Adit. Dan jujur saja aku pun sama seperti siswi yang lain. Masih mengagumi sosok Adit yang sangat memabukkan.

“Berisik banget sih kalian!! Sekolah belum bener udah mikirin om-om kayak gitu?! Mau jadi tante-tante ya sudah?”, suara Sella seketika membuyarkan lamunanku. Menakutkan. Sedikit tersinggung dengan kata tante-tante.

“Apaan sih Lo Sel? Tiap hari bawaannya ngomeell teruss. Emang kenapa kalo kita suka sama yang lebih tua dikit? Cuma beda 3 tahun aja kok.”, kata Rina sewot.

“Iyaaa, kan cinta nggak mandang usia”, sambung Betty sambil meliuk-liukkan tubuhnya, persis cacing kepanasan.

Aku hanya bisa diam mendengarkan kelanjutan dari adu mulut ini. Memutuskan untuk mengerjakan kumpulan soal UN, memerah otak lagi, entah apa yang akan aku tuju. Masa depan seperti apa yang menantiku.

Setelah cukup lama mereka berdebat, akhirnya mereka berhenti saat bel pulang berdering. Hari ini kami bisa pulang lebih awal karena pengajar yang harusnya mengajar kelas tambahan kami tidak masuk karena sakit.

Karena Bang Banu telah ku suruh untuk menjemput jam 11 malam, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi sebelum itu, aku sangat ingin bermain dengan kamera ku. Aku memutuskan untuk pulang terpisah dengan Sella. Karena biasanya Sella selalu menawarkan seat kosong di mobil Honda Jazz nya itu kalau kami pulang lebih awal.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan kamera yang melekat di genggamanku. Jari-jari ku sudah gatal untuk mengcapture setap sudut dan angle yang indah dari tempat dan barang-barang yang ku temui.

Saat jemariku asik memotret sana-sini, di setiap tikungan, kelokan dan sudut dari sekolah, aku menemukan satu pemandangan yang sangat indah, pemandangan yang memabukkan, membuatku mematung di samping pohon Rhododendron di lapangan sekolah.
Di seberang sana, di tengah lapangan, sosok yang indah itu berdiri, membenarkan posisi sabuk taekwondonya.

‘CEKRIIK CEKRIIK’

Tanpa sadar jemariku sudah mengambil gambar Adit. Aku terkesiap menyadari apa yang baru saja ku lakukan. Takut Adit menyadari kalau aku memotretnya, aku bersembunyi, menenggelamkan diri di balik pohon Rhododendron  yang sudah berusia 130 tahun ini. Batang yang cukup besar dan bunga pink dan merahnya yang lebat cukup untuk menyembunyikanku.

Ragu-ragu aku mengintip Adit layaknya seorang penguntit. Di terik matahari Jakarta yang membakar kulit, Adit dengan semangat memberikan pelajaran taekwondo, sesekali menyeka peluh yang bergulir di dahinya. Wajahnya masih menebar senyum meskipun dia sudah terlihat kelelahan. Wajahnya makin terlihat bersinar di tengah berkas cahaya matahari yang menerpa dirinya. Sungguh menawan.

‘CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK’

Aku memotret Adit dengan kecepatan penuh. Entah sudah berapa banyak foto Adit dalam kameraku. Aku terus mengambil gambarnya tanpa henti seperti seorang maniak. Setiap sudut, gerakan, detail, pose tak ada yang terlewatkan dari kameraku.

Jemari ku berhenti mengambil gambar Adit saat aku melihat dari lesa kameraku dan menyadari dia 
melihat ke arahku. Refleks, aku kembali ke tempat persemayamanku. Di balik pohon Rhododendron, memeluk erat kamera ku, berpacu dengan detak jantung yang tak terkontrol, berharap Adit tak akan datang kemari.

Aku bisa mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Berderap perlahan, santai, ke arahku. Semakin dekat, semakin dekat. Kini suara langkah kaki itu terhenti.

‘Oh tidak! Apa dia menemukanku? Apa yang harus ku jelaskan padanya? Bagaimana kalau dia 
menganggap aku penguntit? Adit pasti sangat tidak menyukainya, harapan untuk semakin dekat dengannya sudah hilang!!’

Aku sangat ketakutan. Ku pejamkan mataku, menahan nafas, mematung.

“Pelatih!”



Author : Yay! setelah lama aku ga update cerita :'( terima kasih buat yang masih setia nunggu update an ceritaku yang masih abal-abal ini :') maaf banget chapter kali ini pendek :'( Don't worry author bakal update soon. love youu guys :))