The Answer is Yes
Bulir embun merangkak di atas dedaunan. Kabut masih
menyelimuti gedung-gedung pembelah cakrawala. Di sini, di antara barikade
gedung-gedung gagah, aku duduk di bawah teralis coffee shop bernuansa vintage, menyeduh secangkir Cappuccino pesananku. Sudah menjadi
ritual bagiku untuk mengawali hari dengan meneguk kafein yang memiliki cita
rasa yang khas ini.
Entah kenapa hari ini Coffee Radish penuh sesak dengan para pelanggan, sehingga di sinilah
aku berakhir, di beranda Coffee Radish
memandang hamparan gedung-gedung pecakar langit di bawah lereng bukit.
Angin berhembus menghasilkan melodi merdu dari
gesekan ranting pohon, burung-burung bersajak bersahut-sahutan, desis mesin
kopi samar-samar terdengar, menyajikan suara yang khas di telinga diselingi
tawa renyah dan obrolan para pelanggan bagai alunan yang menyejukkan hati.
Ditambah dengan aroma biji kopi yang baru dipanggang, menambah ketenangan di
pagi hari sebelum disibukkan dengan rutinitas kuliah.
‘Klinting’
, lonceng pintu Coffee Radish
berbunyi. Ada seorang pemuda berperawakan tinggi, tegap, sedang berjalan menuju
ke arahku, sepertinya dia tidak dapat tempat duduk sama sepertiku.
Dia mengenakan kaos putih yang dilapis dengan kemeja
tartan biru dan celana jeans hitam.
Terlihat tas gitar terselempang di bahunya yang tegap.
Tanpa sadar aku melambaikan tangan padanya dan
mengisyaratkan bahwa kursi di depanku kosong. Perlahan dia berjalan menghampiri
mejaku, “May I?”, tanyanya sopan. Dia memiliki suara yang halus dan lembut,
batang hidungnya tinggi dan memiliki mata yang teduh, rambutnya tertata rapi dan
tidak gondrong.
“Uh, Ya .. ya .. silahkan”, tak biasanya aku gugup
saat berbicara dengan orang lain.
Perlahan dia menuangkan Americano di atas gelato
miliknya, menghasilkan desis yang sangat merdu di telinga. Setelah menikmati
beberapa suap Affogato nya itu, dia
menatapku dan tersenyum.
“Kamu mahasiswa Institut Seni ya?”, tanyanya ringan.
“Hmm .. tau dari mana?”, aku sedikit bingung karena
dia tahu kampusku. Dia tertawa kecil lalu menunjuk ke arahku.
“Jas almamater …”, katanya sambil tersenyum
melihatku.
“Anak sniper
juga ya?”, sambungnya sambil menatapku teduh.
“Iya, kok kamu tau banyak sih?”, kali ini aku
benar-benar terkejut, karena tidak ada identitas yang menunjukkan bahwa aku
anak fakultas seni pertunjukan di jas almamaterku kecuali sebuah pin, itu pun
hanya anak fakultas seni pertunjukkan yang memiliki dan mengetahui tentang pin
ini.
Lalu. Pemuda tersebut mengeluarkan sesuatu dari
tasnya.
“Astagaaaa, kamu satu fakultas sama aku?? Satu
universitas jugaa??!”, sontak saja aku terkejut saat dia mengeluarkan jas
almamaternya. Dia hanya tertawa kecil melihat tingkahku.
“Iya, aku mahasiswa tahun ke tiga. Kenalin, namaku
Afif.”, dia menyodorkan tangannya padaku. “Kenalin, namaku Ai, mahasiswa tahun
ke tiga juga.”, kataku sambil menyambut tangan Afif.
“Pantas kamu tau Universitas sama fakultasku,
ternyata kamu juga mahasiswa di sana.”, akhirnya rasa canggung yang muncul dari
tadi telah hilang.
“Hmm .. tapi
aku nggak pernah liat kamu di kampus. Sering bolos yaaa?”, kata Afif dengan
nada mengejek.
“Tcchhh …. Enak aja … aku mahasiswa teladan tau …. .
Aku lebih sering di Perpustakaan sama di Auditorium atau nongkrong di studio
musik kampus kita”.
“Oooouuhhh
murid teladan niih .. hahaha.”, ejek Afif sambil mengusap kepalaku, ah, merusak
tatanan rambutku lebih tepatnya.
Anehnya aku tidak merasa takut, canggung atau pun
marah pada Afif, padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya, meskipun dia
satu fakultas denganku tapi baru pertama kali ini kami bertatap muka. “Heeeiiiihhh
..” gerutuku seraya merapikan tatanan rambutku. Afif hanya tersenyum menatapku.
“Hey, kamu sering ke sini?? Fif?”, pertanyaanku tak
mendapat jawaban, rupanya Afif sedang dalam dunia nya saat ini a.k.a ‘melamun’.
Oh, dia menatapku! Sedikit menakutkan melihat dia melamun tapi pandangannya tertuju
padaku.
“Hey! Fif?? Jangan ngelamun! Masih pagii niiih.”,
akhirnya dia tersadar dari lamunannya saat aku menyentikkan jariku di depan
wajahnya. “Eh, iyaa?? Siapa yang ngelamun?? Kenapa tadii??”. “Hmm, kamu sering
ke sini?”, aku terpaksa harus mengulang pertanyaanku.
Sebenarnya ingin sekali aku menanyakan kenapa dia
menatapku seperti itu, tapi aku tak ingin merubah suasana akrab kami menjadi
canggung lagi. “Uh, sekarang aku jarang ke sini.”, jawabnya sambil mengaduk Affogato nya yang hampir meleleh
seluruhnya.
“Sekarang? Kalau dulu?” tambahku. “Dulu aku sering
ke sini sama someone, hampir setiap
hari kita habisin waktu bareng di sini.” . “Terus kenapa jadi jarang ke sini?”
, entah kenapa aku sangat penasaran sama cerita Afif.
“Someone
itu udah ngga ada”, Afif menjawab dengan nada yang sendu, membuatku merasa
bersalah karena ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.
Harusnya aku tak menanyakan hal itu lebih lanjut.
“Oh, maaf Fif. Aku nggak tau kalau dia udah meninggal. Beneran, aku nggak
maksud bikin kamu flashback.”. Afif
justru tertawa kecil mendengar perkataanku.
“Haha, dia ngga meninggal kok. Dia berubah jadi
orang asing bagiku.”, Afif menjawab sambil tersenyum, tapi aku tahu dalam
hatinya ada luka yang sangat dalam. Sepertinya someone yang sering menghabiskan waktu di Coffee Radish bersama Afif ini sangat berarti untuknya.
“Uh, aku lah yang buat dia jadi orang asing.”,
sambung Afif. Kali ini, raut wajahnya tidak lagi menunjukkan sedikit pun
lekukan pada bibirnya yang hanum itu. Dia menatap dan mencengkeram erat
cangkirnya. Terlihat jelas sebuah penyesalan yang besar dalam hatinya saat ini.
Tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibirnya.
“Uh, maaf maksudnya gimana ya? Kamu ngusir dia ke luar negeri??”, aku berusaha
untuk menghidupkan suasana, aku ingin melihat Afif seperti tadi saat kita
berkenalan. “Pppft … Eiiiiihh sudahlah kamu nggak akan ngerti.”, Afif lagi-lagi
melancarkan serangannya ke rambutku yang malang.
Akhirnya, lekuk indah terukir di kedua bibirnya.
“Apanya yang mahasiswa teladan? Omongan begitu aja nggak ngerti.”, sepertinya
aku salah telah mengembalikan Afif ke keadaan semula, alhasil aku jadi bahan
olokannya lagi.
“Tapi, bagaimana pun juga aku senang. Karena dia
masih hidup dengan baik dan bahagia, dia pasti telah mendapat banyak cinta dari
orang-orang di sekitarnya.” . Mood nya telah benar-benar kembali bagus, aku
senang untuk itu.
Kami bercerita banyak sekali, mulai dari makanan
favorit, lagu kesukaan, idola, alat musik, film kesukaan, dan masih banyak
lagi. Ternyata kami punya cukup banyak kesamaan, entah kenapa aku merasa sangat
nyaman berbincang dengan Afif.
“Oh! kayaknya kita telat nih!”, aku baru sadar saat
melihat jam tanganku.
“Ayo berangkat! Mau bareng?”, Tanya Afif.
“Eung … aku bawa motor kok”.
Saat membayar di kasir, tiba-tiba Afif meyerobot.
“Kayak biasa, sama pesanan cewe ini ya”, Afif menyodorkan kartu kreditnya ke
Tony, kasir sekaligus barista di Coffee
Radish. Orangnya ramah, jemari-jemarinya sangat terampil meracik kopi,
cekatan juga rajin. Aku sering ngobrol dengan Tony, orangnya asik dan juga
seorang pendengar yang baik.
“Aku yang bayar ..”, kata Afif sambil tersenyum
padaku. Apa boleh buat, karena kartu kreditnya sudah tergesek di mesin kasir,
aku hanya bisa tersenyum.
Lagi-lagi Afif meyerobot secepat kilat dan membuka
pintu Coffee Radish. “Lady first”,
katanya saat membuka pintu. Tanganya memberi isyarat mempersilahkanku untuk
keluar terlebih dahulu.
******
Ditemani remang-remang pijar lampu dan lantunan musik
Mozart, aku masih harus menggoreskan
pena di atas lusinan kertas pada pukul 02.00 WIB dini hari karena para dosen
tercinta yang tak tanggung memberikan tugas untuk merangkum 3 Bab sekaligus. Dan megerikannya lagi, 1 Bab berisi 150 lebih halaman.
Tepat pukul 03.00 WIB aku memutuskan untuk
merebahkan tubuhku di atas pulau kapuk. Aku mengatur alarm dan mengecek
handphone, siapa tahu ada seseorang yang merindukanku dan mengirimiku pesan.
Selang beberapa menit, mataku tak sanggup lagi terjaga.
******
Berkas cahaya matahari telah merambat masuk ke
kamarku, menerobos tirai tepat memapar wajahku. “Selamat pagi Ma.”, ucapku lalu
memeluk mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan dari belakang. ‘Chuu’ aku melayangkan ciuman di pipi
mama.
“Selamat pagi sayang.”.
“Selamat pagi Pa.”, aku memberikan salam pada papa,
lalu mencium papa yang hanya bisa berdiam diri di dalam bingkai foto yang
tergantung di dinding.
Meskipun hanya berdiam diri, senyum indah papa masih
sangat hidup. Ya, papa sudah tiada saat aku berumur 5 tahun. Beliau meninggal
saat ditugaskan ke Palestina sebagai dokter sukarelawan untuk membantu para
korban perang di sana. Aku hanya bisa mengucap salam dan mencium foto papa
setiap pagi.
Sepiring panekuk hangat yang baru diangkat dari pan dan disiram dengan madu di atasnya
adalah menu sarapan paling lezat yang pernah kumakan. Apalagi panekuk buatan
mama, tidak ada tandingannya.
“Oh ya Ma, Ai semalam mimpi aneh.”, kataku sambil
melahap panekuk ku.
“Mimpi apa sayang?”
“Ai mimpi Ai sedang di rawat di rumah sakit, Mama
menangis dan juga ada seorang pria di sana, tapi Ai nggak tau siapa, soalnya
dia hadap belakang. Tapi kayaknya pria ini dekat sama Mama, soalnya dia meluk
Mama gitu, buat nenangin Mama.”, Mendengar ceritaku, mama hanya terdiam menatapku.
Bukan tatapan kosong, tapi lebih ke tatapan cemas. Mungkin ceritaku telah
membuat mama khawatir akan kesehatanku.
“Kamu ngomong apa sih Ai? Jangan dipikirin ya! Itu
cuma mimpi. Mama nggak akan biarin anak Mama satu-satunya masuk rumah sakit! Selesaikan
sarapanmu terus berangkat kuliah gih, udah siang loh ini.” meskipun mama bilang
kalau itu cuma mimpi, tapi mimpiku tadi benar-benar terasa sangat nyata.
“Ai berangkat ya Ma …”. Setelah melahap semua paket
sarapan yang diberikan mama, aku langsung tancap gas, bukan ke kampus, tapi aku
sempatkan mampir ke Coffee Radish
untuk menuntaskan ritualku. Yup, meneguk secangkir Cappucino racikan tangan Tony.
Akhirnya aku mendapatkan kembali spot favoritku di Coffee Radish, di
sebuah sofa beige disamping jendela
Coffee Radish yang berhiaskan goresan-goresan glass painting para seniman Coffee
Radish. Dari sini, para pelanggan dapat melihat langsung menuju jalanan
yang tak seberapa padat lalu lalang kendaraan bermotor.
“Here you are. Special Cappucino just for Ai.”, Tony datang membawakan secangkir Cappucino panas ke mejaku. “Be careful!
Still hot!”, tambahnya.
“Oh, apa ini? Bonus note? Heeeiih … tumben banget … mau ngomong apaan sih? Pakai note segala .. ngomong langsung kan bisa
Ton.”
“Kepedean banget sih Lo.”, ejek Tony. “Itu bukan
dari aku. Tadi Afif dateng pagi banget. Pas aku dateng, dia udah nunggu di
kursi itu.”, Tony menunjuk sebuah kursi di sebelah Wall of Expression khas Cofee
Radish. “Note itu dari dia, dia
nitip aku. Katanya, kalau kamu udah dateng, suruh kasih ke kamu.”, sambungnya.
Huh? Secarik note
dari Afif? Aku sangat penasaran akan isinya.
‘Let’s
meet this evening at College’s Music Studio’
Begitulah isi note
tersebut. Di bagian kanan bawah dari note
tersebut, tertera pula ilustrasi wajah Afif sedang tersenyum. Sore ini, di
studio musik kampus, mau ngapain?? Aku bertanya-tanya akan isi note tersebut. Sedikit rasa curiga dan
banyak rasa senang saat ini dalam hatiku.
“Woy! Ngelamun terus … keburu dingin tuh!”, Tony
menepukkan kedua telapak tangannya yang pucat di hadapanku, membuatku tersadar
dari lamunanku.
“Apa isinya?”, Tanya Tony.
“Ih kepoo deh Lo!”.
“Huuh dasaar … dah berangkat kuliah sono! Ngaret
mulu kerjaan Lo!”, kata Tony sambil mengambil nampan dan beranjak ke belakang
meja mesin-mesin kopi lagi.
Aku pun bergegas meneguk semua Cappucino yang tersisa di cangkirku. “Berangkat ya Ton!”. Tony
hanya melambaikan tangan padaku, karena dia sibuk meracik kopi pesanan para
pelanggan yang mulai ramai berdatangan.
Hari ini di kampus aku sangat merasa tidak
bersemangat, kepalaku pusing dan banyak hal yang terjadi belakangan ini, mulai
dari yang menyenangkan sampai yang benar-benar menyiksa. Bertemu Afif menjadi
salah satu hal yang menyenangkan.
Satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan di
kampus, adalah bertemu Afif sore ini. Kurang 1 jam lagi kelas dibubarkan, dan
tepat pukul 3 sore ini, aku akan langsung melesat ke studio musik kampus.
‘beep
beep beep’ bel tanda berakhirnya kelas sudah berbunyi, aku
langsung memantapkan langkahku untuk berlari menuju studio musik, tempat di
mana Afif mengajakku bertemu.
‘Sreek’
aku menggeser pintu studio perlahan, berusaha untuk tak menghasilkan sedikitpun
suara. Studio sangat hening, tak ada satu pun orang di dalam sini. Perlahan aku
memasuki studio lebih dalam, samar-samar terdengar melodi indah dari tuts-tuts piano. Langkahku mengikuti
arah asal datangnya melodi yang indah itu. Semakin lama semakin jelas
terdengar. Nada-nadanya sangat indah dan menenangkan, dimainkan dengan sangat
apik dan rapi, sampai merinding aku dibuatnya. Tapi jelas sekali, bukan
merinding saat kau merasakan hawa keberadaan makhluk ghaib.
Di ujung lorong, terdapat suatu ruangan yang di beri
sekat sebuah rak buku klasik modern dari kayu. Terlihat sang maestro penghasil melodi-melodi yang
memabukkan tadi.
Afif?? Aku terkejut saat menemukan bahwa ‘sang maestro’ itu adalah Afif. Yup, Afif lah yang memainkan piano dengan
sangat rapi dan apik tadi, dia bermain seperti pianis handal. Dia sangat
menghayati lagu yang tengah ia mainkan, tak sengaja aku melihat tetes air mata
mengalir di tepi hidungnya yang tinggi itu.
Lagu yang dia mainkan saat ini sama sekali bukan lah
lagu sedih, aku ingat sekali, aku sangat mengenali lagu ini, lagu ini sangat
sering aku mainkan bersama … Afif?? Hah? Afif? Tiba-tiba muncul bayangan dalam
kepalaku aku sedang memainkan lagu ini, di sini, bersama Afif.
Dejavu
macam apa ini? Ada apa denganku? Apa aku menyukai Afif? Sampai-sampai berkhayal
bermain piano bersama Afif. Apa ini tidak keterlaluan? Maksudku, baru kemarin
aku bertemu Afif dan sudah jatuh hati padanya? Sampai mebayangkan hal-hal
memalukan seperti tadi? Aku membeku, hanya bisa diam terpaku menyadari hal tak
biasa itu. Tanpa kusadari, hangat tetes air mata membanjiri pelupuk mata ku,
mungkin karena aku melihat Afif sangat menghayati sampai menitihkan air mata
saat memainkan lagu ini.
“Ai! Kenapa nggak langsung masuk?”, mungkin aku akan
menangis jika Afif tidak menyadarkanku.
“Uh .. hmm … anu .. aku nggak mau rusak
konsentrasimu.”, jawabku terbata-bata. Aku masih bingung akan dejavu yang barusan ku alami.
“Oh, kamu lihat ya? Haha ini bukan lagu sedih, tapi
nggak tau kenapa sekarang aku nangis tiap kali main lagu ini. Lagu ini
ngingatin aku sama seseorang.”.
“Orang yang sama yang kamu bilang pas di Coffee Radish?”.
“Uhmm …”, Afif menganggukkan kepalanya. Orang yang
sering menghabiskan waktu bersama Afif di Coffee
Radish dan orang yang membuat Afif menitihkan air mata saat memainkan lagu
tadi ternyata adalah orang yang sama.
“Hey! Sini!”, Afif menyuruhku untuk duduk di
sampingnya.
“Aku nggak bisa main piano Fif. Aku pegang tuts piano aja nggak pernah.” .
“Bisa kok, pasti bisa!”, Afif memaksaku untuk duet
main piano dengannya. Dia mengajariku kunci dasar piano dan cara menekan
tuts-tuts piano dengan sangat sabar.
Kami memainkan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’ sebagai permulaan. Aku rasa aku cukup
berbakat dalam bermain piano. Aku merasa jari-jariku bergerak secara refleks,
seperti aku sudah lama bermain piano.
Setelah meyelesaikan beberapa lagu, kami sampai pada
lagu ‘Happy – Pharrell Williams’ tak
lain dan tak bukan lagu yang berhasil membuatku merinding tadi, sekaligus lagu
yang membuat Afif menangis.
Jemariku tak bisa berhenti, mereka terus memainkan
tiap nada dengan sangat rapi, benar-benar terasa seperti aku telah handal
bermain piano. Kami berdua memainkan lagu dengan sangat kompak dan harmonis.
Entah kenapa aku merasa sangat senang, dadaku terasa panas, aku ingin menangis,
tangisan bahagia, melihat Afif sangat bahagia dan menikmati lagu ini, sangat
berbeda saat aku melihatnya tadi bermain sendirian.
Dejavu
itu datang lagi, bayangan aku sedang bermain lagu yang sama, di tempat yang
sama, dengan suasana yang sama, bersama Afif. Tapi aku tak menghiraukannya, aku
tidak ingin merusak moment berharga ini.
“Gimana? Bisa kan main piano? Udah hebat pula ..”,
kata Afif saat kami menuju tempat parkir.
“Hahaha iyaa dong, namanya talenta nih ya gini dah,
belajar sebentar langsung pro”,
celotehku.
“Sok banget kamu”. Untuk sekian kalinya, Afif
merusak tatanan rambutku.
Kemudian dia melingkarkan lengannya di bahuku,
membuat telingaku mendengar detak jantungnya. Aku tahu dia tinggi, tapi tak
kusangka dia akan setinggi ini dari dekat. Tinggiku hanya sebahunya saja.
Afif mengantarku sampai parkiran. Uhm, benar-benar
sampai depan motor ku lebih tepatnya.
“Makasih ya Fif, udah ajarin aku main piano. Makasih
juga udah ngantar sampai sini.”.
“Mmmm .. enjoy ajaa.”.
“Kamu duluan aja, nggak apa kok”, kataku karena Afif
tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
“Uh? Nggak apa kok, aku pastiin dulu kamu pulang, baru
aku pergi.”, jawab Afif.
Sungguh, saat
ini jantungku berdebar, darahku mengalir cepat, apa ini yang namanya jatuh
cinta? Saat kau menerima perhatian khusus dan tubuhmu merespon dengan
menghasilkan energi aneh yang membuatmu merasa sangat bahagia? Jika ya, berarti
aku sudah jatuh cinta sama Afif.
“Hahahaha kok bisa ban motormu bocor?” .
Malu setengah mati aku, saat aku menghidupkan
motorku tadi, ternyata banku bocor entah terkena apa dan di mana. Untung Afif
masih nunggu aku, jadi dia menelfon bengkel langganannya untuk membawa motorku.
Alhasil, aku diantar pulang naik mobilnya.
“Nggak tau juga tuh motor kenapa. By the way,
makasih banget ya udah mau repot-repot ngantar aku pulang.”, ujarku.
“No problem! Nggak usah bilang makasih kalii … kayak
orang lain aja.”
Rute menuju rumahku memang agak sulit, karena harus
melewati tebing yang cukup curam. Don’t
blame me! Bukan salahku memiliki rumah yang menyusahkan orang lain untuk
mengantar pulang.
“Mau putar lagu?”, tanya Afif.
“Yes, please!”. Sejauh ini, tidak ada diantara kami
yang bersuara. Tidak ada suara selain lagu Talking
to The Moon yang dinyanyikan Bruno
Mars. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi Afif saat mengemudi.
Saat melewati terowongan, lagi-lagi aku mengalami dejavu. Setiap hari aku pasti melewati
terowongan ini, dan tak pernah sekalipun aku mengalami dejavu seperti saat ini.
Terlintas bayangan aku sedang mengendarai mobil
putih dengan kecepatan yang sangat tinggi melintasi terowongan ini, entah apa
penyebabnya tapi aku “di sana” sedang menangis. Bayangan itu hanya terlihat
sekilas. Akhir-akhir ini aku sering mengalami dejavu yang sangat aneh, dan jujur saja itu sedikit membuatku
ketakutan.
Aku berpikiran untuk menceritakan hal ini ke Afif,
tapi saat melihat wajahnya saat ini, lagi-lagi sepenggal “penglihatan” itu
muncul lagi. Kali ini, Afif membelakangiku, hanya terlihat punggungnya yang
berjalan menjauh. Sebenarnya ada apa ini?? Kenapa denganku? Kenapa aku
mengalami dejavu seaneh ini? Dan
kenapa Afif ada di dalamnya? Karena “penglihatan itu”, aku mengurungkan niat
untuk memberi tahu Afif tentang hal-hal aneh yang kualami belakangan ini.
Ketakutanku memuncak saat kami tengah menyusuri
tebing yang cukup curam. Afif tiba-tiba mengerem mobilnya, membuat tubuhku
terhempas ke depan.
“Kenapa Fif?? Jangan ngerem mendadak gitu dong!”.
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Selama perjalanan tadi, bayangan
saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan bayangan Afif yang
membelakangiku terus terputar di kepalaku seperti film sudah cukup membuatku
ketakutan, ditambah Afif berhenti mendadak berhasil membuatku jantungan.
Pandangan Afif terpaku ke depan, nafasnya
tersengal-sengal, kringat dingin membasahi keningnya.
“Ada… hhh .. di
depan … ada kecelakaan di depan … kecelakaan hebat ..”, kata Afif dengan nafas
tersengal-sengal.
Aku memberanikan diri untuk melihat kecelakaan yang
terjadi tepat di depan mobil kami. Perlahan aku mulai menghadapkan wajahku ke
depan. Mataku terbelalak, sungguh kecelakaan paling mengerikan yang pernah
kulihat. Sebuah mobil putih telah remuk tak berbentuk tertabrak sebuah truk
yang besar.
‘BOOM!!’
tak lama mobil putih tersebut meledak dan terbakar. Aku hanya terbelalak, tak
bisa berkata apa-apa, pelupuk mataku panas, kini bayangan-bayangan itu datang
lagi, berurutan, jelas, dan sangat nyata.
Playback
16 September 2013 ….
‘Drrrttt
…drrrrttt’ handphoneku bergetar, ada LINE masuk rupanya. Afif,
“Ketemuan yuk! Ada sesuatu yang mau aku omongin, aku tunggu jam 3 sore ini di
pinggir tebing biasa ya.”. Begitu isi LINE
yang Afif kirim. Dia pasti ingin memberi kejutan di hari spesialku ini.
Oh, masih jam 10 rupanya. Aku ingin terlihat menawan
saat bertemu dengan Afif hari ini, jadi kuputuskan untuk pergi ke mall membeli dress baru, kemudian ke salon untuk
perawatan diri. Aku ingin terlihat spesial di hadapan Afif.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membeli
baju dan mempercantik diri di salon, aku siap untuk bertemu Afif. Mengenakan mini dress berwarna putih polos, hanya
ada pita hitam lebar yang melingkar di pinggul sebagai hiasannya, sepatu heel putih dan rambut yang kubiarkan
terurai.
Mama sedang ada urusan hari ini, jadi aku diijinkan
naik mobil untuk keperluanku.
Aku menyalakan mesin mobil dan mulai
mengendarainya.
Sudah pukul 15.30 WIB namun Afif tak kunjung datang.
Sudah setengah jam aku menunggu di sini, di bawah pohon maple, di tepi tebing tempat kami biasa bertemu.
Kami suka melihat pemandangan dari atas sini,
hamparan gedung, perumahan, perkebunan, dan lautan manusia bisa kami lihat
dengan jelas. Saat malam, pijar lampu dari perumahan penduduk dan gedung-gedung
tinggi, juga lampu-lampu kendaraan bermotor yang lalu lalang terlihat bagai
ribuan bintang yang diapit oleh pegunungan dan perbukitan. Ditambah sebuah
pohon maple yang sangat jarang
ditemukan di Indonesia, tumbuh dengan subur di tepi tebing ini.
Tak lama kemudian, aku melihat sosok pria tinggi
mengenakan sweater berwarna navy sedang berjalan ke arahku. Cara
berjalannya tegap dan langkahnya panjang.
Akhirnya Afif
datang walaupun sudah terlambat 40 menit dari waktu yang dia janjikan.
“Hai, maaf telat.”, katanya.
“Hmmm … nggak apa kok. Aku juga baru dateng.”. Afif
terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tak ada secercah pun cahaya yang
terpancar dari wajahnya yang tampan itu.
“Hei! Nggak usah tegang gitu dong. Aku barusan
dateng, serius deh!”, celotehku sambil melayangkan tinju kecil ke bahunya. Aku
bermaksud untuk merubah suasana hatinya, namun air mukanya tak berubah.
Afif menatapku dengan tajam tepat ke mataku, lalu
menghela nafas dalam sebelum berkata sesuatu. “Gimana progress asmaramu sama Rexy?”.
“Asmara apaan? Kamu jangan ngaco ya Fif. Aneh-aneh
aja.”, aku sangat terkejut saat Afif berkata seperti itu. Kenapa dia
menyinggung soal Rexy dan bukannya memberikan surprise untukku.
“Ai! Aku nggak suka kamu deket-deket sama Rexy!
Pokoknya kamu harus jauh-jauh dari dia!”, kata Afif dengan nada yang agak
tinggi.
“Kamu kenapa sih Fif? Nggak jelas banget deh,
dateng-dateng nyuruh aku jauhi Rexy. Memang kenapa kalau aku deket sama Rexy?”.
Aku sangat terkejut, tak biasanya Afif berbicara dengan nada tinggi padaku.
Mataku terasa panas, dadaku sesak dan aku tak bisa bernafas dengar normal,
rasanya seperti sesuatu membekap hidungku.
“Soalnya aku tahu sifat Rexy itu gimana. Dia nggak
baik buat kamu!”.
“Terus, yang baik buat aku gimana? Memangnya kamu
tahu? Yang menurutmu nggak baik, belum tentu nggak baik juga buat aku. Memang
kamu siapa berhak ngatur masalah pribadiku?”.
Tanpa kusadari, aku tersulut emosi. Bukan karena
Afif yang sok mencampuri urusanku, tapi karena Afif yang membawa orang lain
dalam percakapan yang harusnya hanya berisi tentang aku dan dia.
“Ooooh .. jadi selama ini kamu nggak anggap aku
siapa-siapa dalam hidup kamu? Selama bertahun-tahun aku selalu ada di sampingmu
dan itu semua nggak ada artinya di mata kamu??”, kata Afif dengan nada yang
bertambah tinggi. Wajah Afif merah padam, matanya merah menahan air mata.
Apa yang telah kukatakan? Kejahatan macam apa yang
telah kuperbuat sampai-sampai membuat pria yang selalu ceria di hadapanku kini
menangis di hadapanku.
“Bukan … bukan itu maksudku Fif ..”.
“Sudahlah, sekarang aku tahu posisiku di mata kamu.
Orang asing.”
Setelah megucapkan kalimat terakhirnya itu, Afif
melangkah membelakangiku. Hanya terlihat punggungnya yang berjalan menjauh. Aku
hanya menatap Afif dari tempatku berdiri, berharap dia akan berbalik dan
mengatakan bahwa semua ini hanya kejutan yang dia persiapkan. Afif semakin
menjauh dan tidak menunjukkan pergerakan bahwa dia akan berlari kembali ke
arahku.
“Afif!! Kalau kamu terusin langkahmu, aku nggak akan
ngomong sama kamu lagi!! Aku akan anggap kita benar-benar dua orang asing yang
nggak saling kenal!!”, teriakku berharap Afif berhenti. Air mataku tak bisa ku
bendung lagi. Afif tak mengurangi kecepatan langkahnya sedikit pun. “Afif!!
Pliss … berhentii Fif … Pliss .. jangan biarin kita jadi orang asing Fif ..”,
isakku.
Perasaanku tercampur aduk. Air mata mengalir deras
di wajahku, dadaku sesak, darahku memanas. Aku kehilangan kendali diri, aku
mengendarai mobil dengan kecepatan 150 km/jam. Aku sangat terpuruk karena
kejadian tadi, berulang kali kuhantamkan tubuhku ke jok mobil. Kulepaskan
kemudi dan memejamkan mata saat melewati terowongan, berusaha untuk menenangkan
diri.
Saat aku membuka mata, aku hanya bisa terperangah
karena sebuah truk besar melaju dengan cepat ke arahku. ‘BOOM!!’
Playback
End
“AAARRGGGHHH!!”, aku teriak sambil meremas rambutku.
Aku masih tidak percaya akan segala hal yang baru saja berdesakan masuk ke
dalam kepalaku.
“Shhh .. shhh … nggak apa, aku ada di sini sekarang. Kamu nggak perlu takut.”, tiba-tiba
kehangatan muncul dari dekapan Afif. Entah aku harus berterima kasih atau marah
pada Afif saat ini.
“Antar aku pulang sekarang.”, ujarku melepas dekapan
Afif.
Turun dari mobil, Afif mengantarku sampai ke depan
pagar.
“Aku udah ingat. Siapa aku, siapa kamu, apa yang
udah terjadi sampai aku lupa semuanya dan ingat alasan yang bikin aku lupa
semuanya.”, ujarku.
“Uh? Kapan? Sejak kapan kamu ingat semuanya?”.
“Tadi waktu lihat kecelakaan, semua bayangan muncul di
kepalaku.”, aku masih sangat syok akan kenyataan ini.
“Setelah kamu menghilang selama ini, sekarang kamu
muncul lagi? Mengukir kenangan baru sebagai orang baru? Kamu manfaatin
hilangnya ingatanku ini buat deket lagi sama aku?? Kenapa? Kamu ngerasa bersalah??
Harusnya kamu balik ke aku waktu itu di tebing!!”, aku mengeluarkan semua
pertanyaan yang sejak tadi ku simpan selama perjalanan. Tanpa sadar aku
menitihkan air mata.
“Bukan seperti itu Ai, aku bisa jelaskan semuanya
sama kamu.”.
“Aku minta kamu pulang sekarang, makasih udah
ngantar aku. Tolong jangan temui aku dulu.”.
“Maaf”
Sepatah kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan
Afif padaku.
Sudah berminggu-minggu aku mengunci diri di kamar.
Mencari penggalan-penggalan ingatanku yang hilang setiap hari. Setiap hari
pula, mama masuk ke kamar membawa bucket
bunga dari Afif. Setiap hari dengan bunga berbeda dan kartu ucapan yang berbeda
perlahan-lahan berhasil membuatku memaafkan Afif. Sore ini, kami telah membuat
janji untuk bertemu di Coffee Radish.
‘KLINING’
aku membuka pintu Coffee Radish dan
melihat Afif telah duduk di spot favoritku dan telah memesankan secangkir Cappucino untukku.
“Hai!”, Afif melambaikan tangannya.
“Hai, sudah lama nunggu?”, tanyaku.
“Nggak, baru nyampai kok”. Kami duduk berhadapan,
namun tak ada stu pun yang memulai pembicaraan. Akhirnya, aku mengambil
inisiatif untuk memulai pembicaraan, karena aku lah yang meminta Afif untuk
datang ke sini.
“Ummm lama nggak ketemu ya. Gimana kabarmu?”,
tanyaku.
“Iya, baik kok. Makasih. Gimana kabarmu?”.
“Luar biasa.”, jawabku sambil tersenyum padanya.
“Waktu itu di tebing aku benar-benar minta maaf.”
“Nggak apa kok Fif, aku udah maafin kamu.”
“Tunggu
dulu, biar aku lanjutin dulu. Aku benar-benar nggak bermaksud buat marah sama
kamu. Waktu itu aku cuma mau bikin kamu nangis sebelum aku kasih surprise ulang
tahunmu. Aku ngikuti kamu waktu kamu ngebut, aku udah klakson kamu berulang
kali, agar kamu kurangi kecepatan mobilmu. Tapi kamu nggak kurangi kecepatan
mobilmu sedikit pun. Aku sangat khawatir waktu itu, dan aku sangat syok saat
melihat kamu tertabrak di depan mataku. Aku hampir hilang harapan, sampai aku
lihat kalau kamu masih selamat. Aku langsung keluarin kamu sebelum akhirnya
mobilmu meledak. Ai, aku benar-benar minta maaf. Karena aku, kamu harus dirawat
di rumah sakit selama 3 bulan dan harus kehilangan ingatanmu.”
Afif menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu
itu. Aku sangat berterima kasih karena Afif
mengeluarkanku dari dalam mobil saat kecelakaan itu.
“Aku selalu ada buat kamu Ai. Bahkan setelah
kecelakaan. Aku udah janji ke mama kamu buat jadi orang asing bagimu. Bukan
mamamu yang menyuruh, tapi aku sendiri yang ingin melakukannya, karena aku
nggak ingin setiap kali kamu ngelihat aku, kamu akan teringat kecelakaan itu.
Juga, aku nggak tahan kalau harus melihat wajahmu, itu selalu membuatku merasa
bersalah. Kita sering bertemu, tapi aku memutuskan untuk menjauh. Tiap kali
kita berpapasan di kampus, aku selalu memalingkan wajahku. Aku berusaha
sebisaku agar tak terlihat olehmu.”, sambung Afif.
Ternyata selama ini, Afif tetap ada di sampingku
walaupun aku ngga tahu.
“Aku ngerti Fif, dan aku udah maafin kamu kok. By
the way, surprise apa yang mau kamu kasih ke aku waktu itu?”
Afif mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan
berlutut di depanku. “Will you be my girlfriend?”, ucap Afif sambil
memperlihatkan isi kotak merah jambu yang di bawanya.
Liontin.
Liontin bertuliskan namaku, sangat indah dan elegan.
Aku terpana menyaksikan momen ini. Afif nembak aku??
“Fif, kamu udah lama kenal sama aku. Kamu udah hafal
betul bagaimana sifatku, apa saja kekurangan dan kelebihanku,
kebiasaan-kebiasaan burukku dan semua kesukaanku. Aku selalu menceritakan
semuanya sama kamu. Aku benar-benar bersyukur punya sahabat sepertimu di
hidupku.”, jawabku.
“Mmm .. aku mengerti. Nggak usah khawatir, aku akan
selalu ada di sampingmu dan selalu menjadi sahabat terbaikmu.”, kata Afif
sedikit membuatku merasa bersalah.
“Ada orang yang hanya cocok menjadi sahabat ada pula
orang yang cocok untuk menjadi pasangan.”, tambahku .
“Dan aku?”, tanya Afif.
“Kau cocok untuk menjadi sahabat saat aku bercerita,
cocok untuk menjadi ayah saat aku butuh perlindungan, cocok menjadi anak kecil
sebagai teman bermainku, dan sebagai pasangan untuk berbagi pendapat.”, jawabku
sambil tersenyum.
Wajah Afif sangat lugu saat dia terperangah
mendengar jawabanku.
“What’s that mean?”, tanyanya dengan senyum
sumringah.
“Yes,
I do”