Suara ringkihan pagar tua yang sudah dimakan karat ini sungguh mengesalkan. Semoga saja aku tidak membangunkan Ibu. Semoga hujan meredam suara kedatanganku.

Dengan langkah berjinjit aku melewati halaman, menginjak lembut rumput-rumput yang basah diguyur hujan. Setelah meletakkan sepatu di rak dan payung di tempatnya, aku membuka pintu, berusaha setenang mungkin.

“Ibu, Dinda pulang”, bisikku pelan
Lagi-lagi Ibu masih menungguku pulang. Tertidur pulas di kursi rodanya, meskipun aku tahu pasti sangat tidak nyaman tidur seperti itu, tapi Ibu terlihat sangat pulas.

Ibu mengalami gangguan di otot kakinya. Otot kaki Ibu tiba-tiba melemah, sehingga harus memakai kursi roda yang reyot ini. Aku berjanji akan membelikan kursi roda yang bagus untuk Ibu nanti. Pasti. Tunggu sebentar lagi Bu.

Dalam diam, aku membenahkan posisi Ibu, mendorong kursi roda ke kamarnya dan menggendong Ibu ke kasurnya. Tubuh Ibu yang langsing tidaklah berat bagiku.

Sejenak aku memandang wajah Ibu, wajah malaikat yang selalu mengkhawatirkanku. Senyum abadi yang selalu diperlihatkan Ibu ke orang lain, senyuman yang tak akan pernah pudar. Mata Ibu yang berbinar seakan tak pernah redup untuk memancarkan kehangatan. Ibu selalu terlihat kuat di depan orang lain, karena Ibu tahu saat orang lain meremehkan kita, kita tak boleh terlihat lemah, kita tak boleh terlihat seperti yang mereka inginkan.

Namun bagi anak-anaknya, bagiku, Ibu adalah sosok paling kuat yang pernah diberikan padaku.

Tanpa sadar aku menitikan air mata. Aku akan selalu ada di samping Ibu, aku akan selalu berjuang untuk Ibu, aku akan membawa Ibu dan yang lain ke tempat terindah yang bahkan tidak bisa kita bayangkan sebelumnya.

Aku akan membuat Ibu bahagia. Aku berjanji. Ku kecup kening Ibu sambil mengucap dalam diam mantra yang selalu Ibu ajarkan. “Kebahagiaan pasti akan datang”

Aku menyelimuti tubuh Ibu sebelum berlalu ke kamarku. Niat hati ingin bergulat dengan tugas-tugas dan buku-buku ku lagi, namun terima kasih kepada Si Payung Hitam yang berhasil membuatku kepikiran sampai sekarang.

Siapa kah namanya? Bagaimana rupanya? Di mana rumahnya? Semua pertanyaan tentang Dia dari tadi mengusikku. Menelisik masuk, memenuhi setiap rongga dalam otakku. Ku menatap jauh ke luar jendela, kembali ke tempat di mana kami berjumpa, samar-samar, tertutup bulir-bulir hujan.

Sudah pukul 01.00 dini hari, dan kuputuskan untuk merebahkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan coretan-coretan ingatanku dulu bersama Mama dan Papa sebelum akhirnya aku pun terlelap.

***
Kicau burung menyambut pagi di panti. Berto, burung kesayangan Bang Banu ini memang jago kalau soal berkicau. Suara nya merdu, bak nyanyian surgawi, berkumandang menjalar di setiap seluk beluk ruangan panti, menenangkan, melenakan.

Dingin pagi masih menusuk. Sisa hujan kemarin membuatku ingin kembali memeluk guling dan bersembunyi di balik selimut. Namun apa daya, alarm super dahsyat milik panti ini berbunyi dengan kerasnya.

“KAAAAK DINDAAAA BANGUUUUNNN!!! UDAH PAGIII NIII”

Entah dari mana asalnya, tapi gempa setiap pagi selalu terjadi di panti ini, mungkin lebih tepatnya hanya di kamarku saja.

“Haaa, iyaaa Nino sebentar lagi Kakak bangun. 5 menit lagi ya …”

Ya, Nino memang anak yang aktif, rajin dan selalu bangun pagi. Teriakannya adalah alarm nomor 1 di sini. Dan sialnya dia harus berlompat lompat ria di kasurku seperti sedang main trampoline saat membangunkanku.

“NGGAAK BOLEH KAAK!! IBU SUDAH SIAPIN SARAPAN BUAT KITAAA”

‘DUUUK’

Aku terjingkat saat mendengar suara dentuman benda yang jatuh ke lantai yang disusul dengan suara tangisan.

“HHHUUUUUUAAAAAA SAAAKIIIIIT”
Rupa-rupa nya itu suara Nino yang terlempar ke lantai saat lompat-lompat tadi. Spontan aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.

“HAHAHAHAHAHA makanyaa jangan lompat-lompat di kasur Kakak.”

“Kakak JAAHAAATTT, Nino sakit malah di ketawain”

Yah, sangat lucu melihat Nino jatuh seperti tadi, namun juga kasihan. Aku menggendongnya ke atas kasur dan mengelus-elus pantat kecilnya itu.

Aku melihat jam dinding dan terkesiap saat melihat sudah jam 06.40, sedangkan kelas akan dimulai 20 menit lagi. Aku gelagaban bergegas ke kamar mandi, menyabet sekenanya handuk di jemuran, mandi seadanya, dan melesat ke meja makan.

“Ibu, Dinda udah terlambat. Dinda minum susunya aja ya Bu.”

Aku menyambar susu putih yang sudah Ibu siapkan, bergegas ke teras memakai sepatu, melesat tanpa sempat membiarkan Ibu berbicara sepatah kata pun.

“Nanti mau Abang jemput kah Din? Mumpung ga kuliah nih. Daripada kamu malam-malam naik bus, bahaya. Apalagi adek Abang ini cantik banget.”, kata Bang Banu saat aku memakai sepatu, masih menggigit gelas susu yang belum habis.

Bang Banu sudah berumur 27, sudah siap nikah sih, tapi dia milih tetap tinggal di panti ini. Bukan, Bang Banu bukan anak kandung Ibu, Bang Banu juga anak yang kurang beruntung yang Ibu temukan di pinggir jalan dalam kondisi yang menyedihkan, sama seperti kami yang lain.

Mungkin kalian bertanya-tanya aku yang berumur 17 tahun dan Bang Banu yang sudah berumur 27 tahun masih berada di panti ini apa karena tidak ada yang mau mengadopsi kami?

Jangan salah paham, kami adalah anak emas di panti ini, kecerdasan kami mengalahkan anak-anak panti pada umumnya. Aku sekolah di salah satu SMA bergengsi di Indonesia, dan Bang Banu kuliah di Fakultas Kedokteran UI.

Pada awalnya aku juga ingin mendapatkan orang tua asuh, itu sebelum aku mendengar perkataan Bang Banu yang merubah cara pandangku terhadap panti ini.

“Orang tua asuh apaan? Abang ga butuh orang tua lain selain Ibu. memang selama ini yang menyayangi, memasakkan makanan, mengelus kepala sebelum tidur, memandikan, mendidik dan membesarkan Abang siapa? Apa ada orang tua lain yang bisa dan mau ngelakuin itu ke anak seperti Abang saat itu? Ibu mau ngajak Abang buat tinggal di sini dan mau menanggung semua biaya hidup Abang. Jadi ga ada orang tua lain selain Ibu, dan ga ada rumah lain yang bakal jadi tempat Abang pulang selain rumah ini.”

Ya, begitulah perkataan Abang yang menyentuh dan mengetuk hati ku. Aku bertekad akan menemani Ibu di sini.

“Halaah gombal kamu Bang!”, kataku sambil menyodorkan gelas susu yang masih ada isinya itu ke mulut Bang Banu.

“Jam 11 malam ya Bang!”, sambungku melesat ke jalanan, menghilang di macetnya Ibu kota.

***

“PAAAAK PAAAKKK STOOOPPP JANGAAANN TUTUP GERBANGNYA!!!”, suara Sella menyambutku di seberang sana.

Entah siapa yang telat di antar kami berdua, kenapa malah dia yang berteriak agar pak satpam tidak menutup gerbangnya.

“Nggak bisa Mbak Sella, ini sudah telat.”

“BENTAAARRR AJAA PAK!! ITUU!! DIA UDAH LARI KE SINI!! DINDA KAN GA PERNAH TELAT SEBELUMNYA PAK! SAYA JUGA TAHU ATURAN, MASIH ADA 2 MENIT LAGI!!”

Teriakan Sella tak kalah nyaring dengan teriakan Nino. Kenapa hari ini, pagi ku diisi dengan teriakan-teriakan orang? Selagi mereka berdebat, aku berusaha lari secepat mungkin.

Tanpa sempat mengambil nafas, sesampainya di gerbang aku menyambar tangan Sella dan berlari ke kelas, sialnya lagi, kelas kami ada di lantai 3. Kami berdua lari dalam khidmat.

Sesampainya di depan kelas, tersengal-sengal, kami mencoba mengatur nafas kami sebelum kami masuk ke kelas.

Untung saja guru tidak masuk kelas. Dan kami pun memulai kegiatan biasa kami. Belajar masing-masing dalam diam, rasanya hampir seperti kami sedang dalam upacara pemujaan setan. Susananya, kesunyiannya, atmosfer nya, semuanya terasa memuakkan.

Semuanya diam seperti patung, setidaknya begitu sampai bel istirahat berbunyi. Saat bel istirahat sudah mengeluarkan ultimatumnya, seketika semua orang berhambur keluar. Rasanya seperti ruh mereka yang sejak tadi pergi entah ke mana sudah kembali ke raga nya.

“Din ngantin yok. Lo telat kan? Pasti gak bawa bekal kan? Gue bayarin deh!”

“Betulan kamu bayarin ya? Hahaha ayook!!”, hari ini aku sangat kelaparan, sudah tidak sarapan, tak bawa bekal, uang saku juga kelupaan. Mujur sekali nasib ku ini.

Saat kami berjalan melewati lapangan olahraga, aku sangat kebingungan melihat banyak sekali siswi berkumpul di lapangan. Ternyata sama sepertiku, Sella juga penasaran.

“Eh ada apaan sih? Heboh banget!”, tanya Sella pada salah satu siswi yang kegirangan hendak menuju ke sana.

“Mau lihat ekskul Taekwondo!”, jawab siswi yang tak ku kenal itu.

Aku tahu ekskul Taekwondo sebentar lagi akan mengikuti lomba provinsi, tapi sebelumnya tak ada yang berminat untuk menyaksikan mereka latihan. Penasaran, aku dan Sella menyelinap masuk di antara kerumunan itu.

“Dia …”, aku terpaku saat melihatnya. Postur tubuh itu. Aku melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Oh tidak, dia mendekat kemari, dia melangkah kemari, dia menatapku, Si Payung Hitam itu …. Mungkinkah?

“Loh? Mbak Kunti? Sekolah di sini??”, katanya sambil menunjuk ke arahku, tentu saja setelah membubarkan anak buah nya untuk istirahat. Tapi tunggu, apa?? Mbak Kunti??

“Loh? Mas Payung Hitam??”, timpalku. Ternyata benar. Dia orangnya.

“Loh? Tunggu! Lo kenal sama Dinda Dit?”, imbuh Sella. Dit? Namanya Dit? Dit siapa? Dodit? Radit? Medit*1?

*1 bahasa jawanya pelit.

“Oh, jadi nama Mbak Kunti ini Dinda. Halo, kita belum kenalan dengan benar. Kenalin namaku Adit. Aditya Pramasetyo. Senang bertemu lagi.”, dia menyuguhkan tangannya ke arahku, menyunggingkan senyuman yang sangat hangat, mata bulat yang terlihat seperti mata rusa itu tertutup setengah saat dia tersenyum. Sungguh manis.

Aditya Pramasetyo, namanya saja sudah membuat perasaaan aneh ini berdesir di antara urat nadi ku. Alisnya tebal dan proprsional, matanya bulat seperti mata rusa, batang hidung yang tinggi, rahang yang kokoh, bibirnya yang hanum, dan lesung pipit di pipi kanannya. Seni. Wajah ini benar-benar sebuah seni. Seni 3 dimensi yang bejalan. Sungguh indah. Sungguh tampan. Suaranya yang berat dan dalam tidak terdengar seperti seorang penjahat lagi, suaranya sungguh memanjakan telinga. Posturnya yang tinggi tegap menambah auranya yang sangat kuat.

“Ehm iya halo. Namaku Dinda. Senang bertemu lagi dengan Anda.”

“Kampret gue di kacangin! Kapan Lo kenal sama Dinda? Lo gak ngapa-ngapain Dinda kan Dit?”, sela Sella yang kesal karena tak dihiraukan dari tadi.

“La Lo La Lo. Gue lebih tua 3 tahun dari kamu ya Sel. Dasar.”, kata Adit sambil mengacaukan rambut Sella yang entah kenapa harus saat itu dia tidak menguncir rambutnya.

Tapi tunggu, Adit 3 tahun lebih tua dari aku?! Tunggu, serius??!

“Hahahaha, yaudah kita makan bakso aja yuk, aku yang traktir. Baru dapat bayaran nih hahaha.”, kata Adit mengajak kami untuk makan.

“Anu … Kak, eh Mas, eh Bang, eh Om ..”

“Panggil nama aja. Sella juga selama ini kusuruh manggil nama aja tanpa imbuhan ‘kak’. Lagian aku cuma lebih tua 3 tahun dari kalian, bukan berarti aku udah tua banget kan? Biarin aku tetap berasa muda hahaha”, Adit memotong perkataanku sambil sedikit tertawa.

“Ehm, kamu ngapain ada di sini?”, tanyaku.

Sial dari tadi kami tidak bisa makan bakso yang lezat ini dengan tenang. Bahkan untuk sesuap rasanya sulit sekali. Bagaimana tidak, setiap kali kami ingin menyendokkan bulatan daging sapi bersama dengan kuah kaldunya ini selalu saja ada siswi yang berteriak histeris. Apakah ada hantu di sekolah ini? Apa dia kerasukan? Aneh sekali.

“Seperti yang kamu lihat, sekarang aku jadi guru Taekwondo di sini. Guru sebelumnya sudah keluar.”
Aah, ternyata tubuh proporsional itu, lengan dan kaki yang kokoh dan dadanya yang bidang itu bukan dari basket, tapi dari Taekwondo. Aku telah salah tentangnya dari awal.

“Kenapa Lo mau ngajar di sini? Mau ketemu terus sama Gue yaa??”

“Pede banget kamu. Hii siapa yang mau berurusan sama nenek lampir kayak kamu? Baik aku diem di rumah. Aku ngajar ke sini buat nyari anak-anak yang berbakat Taekwondo, akan kulatih dan ku buat jadi juara dunia. Dan paling utama, aku akan menjadikan ekskul Taekwondo di sini jadi ekskul tetap. Taekwondo di sini belum di jadikan ekskul tetap kan? Kalau di sekolah-sekolah yang ku latih sebelumnya, Taekwondonya sudah berhasil ku jadikan ekskul tetap.”

“Jadi, misimu mau jadikan Taekwondo sebagai ekskul tetap? Okay then, Let’s us see your progress in here!”, timpal Sella sambil menyuguhkan tangannya.

“My pleasure.”

Satu kata itu menyudahi acara makan siang kami. Adit harus kembali mengajar anak buahnya agar bisa mencapai misi-misinya itu.

Sedangkan aku dan Sella masih harus berkutat dengan buku, entah apa yang akan kami tuju di masa depan, kami masih belum tahu.

Dan apa yang akan terjadi padaku dan Adit, aku juga tak tahu. Aku hanya berharap semoga kami bisa memiliki waktu bersama yang lebih banyak. Waktu untuk mengenal lebih dalam tentang Adit.


Sebulan lagi, kami akan menghadapi Ujian Nasional. Kepala sekolah mengharuskan semua murid kelas 3 untuk mendapatkan kelas tambahan sepulang sekolah.

Tak jarang kami harus pulang ke rumah larut malam. Semua berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik dan masuk ke Universitas terbaik di Indonesia.

‘RING DING DONG’

Bel berakhirnya kelas tambahan sudah berbunyi. Hari sudah gelap, jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini kami pulang lebih larut dari biasanya. Semua beranjak meninggalkan kelas.

“Lo nggak pulang lagi Din?”, suara lembut dari belakang yang diiringi dengan tepukan di pundak kiri ku membuatku terkejut.

“Pulang lah Sel, tapi nanti dulu. Aku mau belajar sebentar lagi.”

“Hmmm sebentarnya Lo tuh sampe besok pagi Din. Yaudah gue pulang duluan ya. Jangan dipaksain, Lo juga harus jaga kesehatan, bentar lagi kita UN loh.”

“Iya, makasih Sel. Hati-hati ya kamu di jalan.”

Sella meninggalkan ruang kelas sambil melambaikan tangannya kepadaku.

Sekarang benar-benar aku sendiri yang masih tinggal di kelas, ditemani bertumpuk tumpuk buku yang telah menanti untuk di baca, suara goresan-goresan pena dan kopi kotak rasa frech vanilla kesukaanku.

Aku rasa hari ini aku akan pulang jam 11 lagi. Ibu sudah tahu kalau aku pulang larut, berarti aku masih ada di sekolah. Ibu sangat perhatian dan menganggap anak-anak panti sebagai anaknya sendiri.

Tanpa terasa sudah pukul 11 malam.

Sudah waktunya untuk pulang.

Meskipun aku masih ingin berkutat dengan buku-buku dan pena ku, namun aku harus pulang.

Kasihan Ibu. Padahal sudah ku katakan berkali-kali kalau tak usah menungguku, tapi Ibu masih sering menungguku sampai pulang, terlelap di sofa ruang tamu, menanti salah satu anaknya untuk kembali ke rumah, memastikan tak ada satu pun dari kami tidur kedinginan di luar rumah.

Ibu menyediakan kehangatan yang lembut untuk kami, menyediakan rumah untuk kembali, menyediakan sandaran untuk berbagi, mengajarkan kami untuk mengasihi.

Aku berlari terburu-buru, menyusuri lorong demi lorong STAVLENNYA.

Untung saja sekolah kami tak menakutkan di malam hari, banyak petugas keamanan yang masih mondar-mandir mengecek satu per satu ruang kelas. Lampu-lampu juga tidak pernah di matikan.

“Begadang lagi Din?”, sapa Pak Herman. Beliau adalah petugas keamanan sekaligus teman ngobrolku kalau aku pulang telat. Pak Herman sering menghampiriku ke kelas dan memulai pembicaraan denganku.

“Iya Pak, ini kemalaman. Saya duluan ya Pak.”, jawabku sambil terus melesat diantara lorong-lorong, tak mengurangi sedikit pun kecepatan langkahku.

‘TES TES TES’ awan menumpahkan bulir-bulir hujan ke bumi.

Dari tetes-tetes kecil, kemudian turun dalam jumlah yang banyak, dengan kerapatan yang rapat. Tidak deras, namun cukup membuatmu basah kuyup dalam waktu 5 detik.

“Aduh, kenapa harus di saat seperti ini? Sudah terlalu larut kalau harus menunggu hujannya reda.”, gumamku.

Langkahku terhenti di depan gedung sekolah. Dari sini ke gerbang lumayan untuk membuatku basah kuyup meskipun berlari.

“Loh? Mana payungku?”, aku membongkar semua isi tas ku, mengaduknya, namun payung biru ku tidak ketemu. Akhirnya aku nekat untuk lari ke depan gerbang.

Bodohnya aku, aku tak memperkirakan waktu yang akan kuhabiskan untuk menunggu bus datang.

Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh, tak bisa kalau di tempuh dengan jalan kaki. Untung saja masih ada bus yang beroperasi jam segini.

Tapi, sekarang bagaimana? Aku harus menunggu bus itu dulu. Dan sekarang aku sudah berada di depan gerbang, tanpa payung, sendirian, diterpa hujan.

Ah sial, sial sekali. Lagi-lagi hujan membuatku dalam masalah. Aku mengumpat, memejamkan mata, sampai tak menyadari kalau hujan sudah berhenti.

“Eh? Sudah berhenti? Tapi kok?”, aku membuka mataku perlahan.

“Loh loh loh! Kok di sebelah sana masih hujan??? Kok di sini nggak??”, aku terperangah melihat kejadian di depan mataku itu.

Aneh. Aneh sekali. Di luar akal sehat manusia.

“Ehem.”, dehaman pria di sebelahku membuatku merinding.

Kaget. Spontan, ku luncurkan serangan-serangan ke pria itu dengan tas ku. Pria tinggi, mengenakan jaket hoodie hitam dan suaranya yang berat dan dalam cukup membuktikan kalau dia bukan orang baik-baik.

Mana ada orang yang keluar jam segini dengan pakaian seperti itu kalau dia bukan orang jahat?

“Eh eh stop! Saya bukan orang jahat!”

“Alasan kamuu. Sana pergi jauh-jauh dari ku! Mana ada penjahat yang mau ngaku??”

“Iya iya, yaudah saya pergi!”

Seiring dengan langkahnya yang bergesar menjauh, tubuhku kembali terguyur hujan. Ternyata dia yang memberiku tumpangan payung tadi.

Aku merasa tak enak hati, namun bibirku spontan melarangnya pergi.

“Eh eh jangan! Jangan pergi! Sini balik!”, duh sungguh malu aku. Dasar mulut tak tahu diri.

Tapi pria itu dengan senang hati kembali memberiku tumpangan payung.

“Maaf, ku kira kamu orang jahat. Udah jam segini masih keluyuran di luar. Pakai baju hitam-hitam lagi.”, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan dengannya, karena aku merasa bersalah sudah memukulinya seperti tadi.

Sesekali aku memandangnya dari samping. Baru kelihatan kalau dia menenteng sebuah tas yang berlogo basket. Anak basket? Tanyaku dalam sunyi. Pantas saja badannya tinggi dan tegap, lengannya terlihat kuat, perutnya ramping, dan kakinya terlihat kokoh.

“Kalau gitu, ku kira kamu kuntilanak, jam segini keluyuran di luar, pakai baju putih-putih lagi.”

Pria ini, memiliki selera humor yang lumayan juga. Dari tadi, selama kami berbincang tak ada satu pun dari kami yang saling menatap atau pun memperlihatkan wajah kami. Kalau aku, terlalu malu tentunya. Entah apa alasan pria ini.

“Yaudah nih, aku harus pulang cepat-cepat. Udah terlalu malam.”, kata pria itu sambil mengarahkan tanganku untuk mengambil payungnya.

Kemudian dia berlari, menghilang di antara hujan, memberi kenangan indah walau sesaat.

Dia orang yang mengajakku bicara selain Sella. Di pertemuan pertama, sungguh memberikan kesan yang berarti untukku.

Aku hanya menatapnya dari sini. Berharap kalau dia kembali. Ku harap ada sesuatu miliknya yang tertinggal.

Menemaniku sampai bus ku datang, menghabiskan waktu berdua, mengobrol, di tengah rinai hujan, di bawah payung hitam.

Deruman bus membuyarkan khayalanku.

Aku melipat payung hitam, melangkah masuk ke dalam bus, duduk di bangku ke 5 di samping jendela, menatap tempat dimana aku dan dia berbincang yang samar-samar terlihat, tertutup bulir-bulir hujan yang mengalir di jendela bus.

Dia,  yang tak ku ketahui siapa dan bagaimana rupanya, mampu memberikan kesan pertama yang begitu indah dan menyenangkan.

Hanya beberapa kalimat yang kami ucapkan, cukup untuk membuatku penasaran dan terbayang-bayang.

Dia, siapa?
Chapter 2 : Stiff Girl

Riuh. Suasana kelas sangat riuh. Menyanyi, main gitar,  tidur, membully, berdandan, gosip, menyilangkan kaki di meja, persis di angkringan pasar. Sangat mengganggu.

“Tolong tenang teman-teman.”, tak ada yang menghiraukan.

Suaraku tenggelam oleh riuhnya suara mereka. Ah benar, mereka menganggapku tidak ada.

Meskipun aku seorang ketua kelas, mereka tak pernah menghiraukanku.

Karena aku hanyalah anak panti asuhan yang masuk sekolah elit ini karena beasiswa, sedangkan mereka semua adalah anak orang-orang yang berada.

 ‘BBAANG’

“Berisik banget sih kalian. Bisa diem nggak? Ini sekolahan bukan pasar. Jaga attitude kalian!”

Seketika suasana menjadi hening. Semuanya kembali ke posisi masing-masing.

Ya, tak ada yang berani melawan Sella. Ayahnya adalah pemilik dan kepala sekolah ‘STAVLENNYA HIGH SCHOOL’. Sella adalah sahabat baikku. Dia selalu mendukung dan membantuku saat yang lain mengucilkanku. Dia seperti tameng bagiku.

“Lihat, Dinda tuh cuma bayang-bayang nya Sella. Dia bisa apa sih tanpa bantuan Sella? Cari temen aja ga bisa eh malah di tunjuk jadi ketua kelas sama Bu Arum.”

Entah aku harus senang atau marah mempunyai sahabat seperti Sella. Dia selalu mendukungku, tapi hal itu membuatku menjadi bayangannya, seperti yang lain katakan. Aku hanya bayangan Sella. Tak mampu berdiri di atas kaki ku sendiri, tak bernyali untuk mengangkat wajah ku, bahkan untuk bicara saja aku butuh bantuan Sella.

Hal yang bisa ku lakukan dengan kemampuanku sendiri, hanyalah berkutat seharian dengan buku dan kamera yang kubeli dengan uang ku sendiri.

Uang yang kudapat dari menjuarai olimpiade-olimpiade, uang yang ku dapat dari kerja paruh waktu di minimarket, kerja paruh waktu di apotek, kerja paruh waktu di restoran ayam cepat saji, kerja paruh waktu di perpustakaan daerah, uang hasil keringatku sendiri. Tak mungkin aku tega meminta hal-hal mahal seperti kamera ke Ibu Panti. Beliau sudah cukup kesusahan dengan tingkah aneh-aneh kami di panti, ditambah harus memutar otak agar uang donasi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.

“Makasih ya Sel”, bisikku pelan.

Bu Arum, guru wali kelas kami sekaligus guru mata pelajaran Fisika memasuki ruang kelas.

“Oke hari ini kita pelajari materi Fluida Dinamis dan Gelombang Mekanik ya. Kita ngulang pelajaran kelas 11, awas kalau lupa.”

Bu Arum guru yang tegas namun juga pengertian. Beliau wali kelas idaman di sekolah kami. Beruntung sekali kelas kami mendapatkan Bu Arum.

Pelajaran Fisika selama 4 jam berlalu begitu cepat hari ini. Entah mengapa setiap hari mendekati UN terasa begitu cepat, seakan dunia tak mengizinkan kami untuk bernafas lega biar sedetik.

“Yaudah, itu aja materi kita hari ini. Jangan ada yang bolos kelas tambahan loh ya. Semangat belajarnya buat UN.”

“Iya Bu.” Satu kelas menjawab dengan serempak. Bu Arum berlalu meninggalkan kelas yang diiringi oleh bel istirahat.
Keriangan muncul di wajah semua orang.

Ya, istirahat memang paling dinantikan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguras otak. Tanpa komando, semua berhambur ke luar kelas, ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada yang ke perpustakaan dan ada juga yang makan bekal di kelas.

“Ayo Din ke kantin!”, ajak Sella.

Aku hanya menganggukkan kepala, menerima ajakan Sella dan berlalu ke kantin.

Sebenarnya aku membawa bekal setiap hari. Menurutku, masakan Ibu adalah masakan terenak dan yang pasti sehat.

Jadi aku hanya menemani Sella membeli makanan, kemudian kami akan makan bersama. Aku akan mencari tempat duduk, kataku dalam sunyi selagi Sella memesan makanannya.

“Cantik, sini yok duduk sama kita.”, suara yang tak asing. Kim Tae Joon, salah satu anggota BIG CROWN.

Mereka berempat, Adeline, Henry, Christy dan Tae Joon sendiri adalah anak-anak yang paling berkuasa di angkatan kami. Mereka berlatar belakang orang kaya, terkenal dan berpendidikan.

Aku tak menghiraukan ajakannya dan terus melangkahkan kaki ku ke meja yang berada di pojok ruangan dengan view yang menghadap ke luar gedung. Bisa terlihat danau dan taman yang menjadi tempat paling menyenangkan di STAVLENNYA HIGH SCHOOL.

“Hahahaha mampus di kacangi Lo!”, seru Adeline

“Bro! Lo ngajakin makan bareng si Stiff Girl? Ga salah Lo? Selera Lo turun ya ternyata. Hahaha!”, timpal Henry.

“Tae Joon, usaha mu sia-sia. Cewe kaku yang ga bisa nyari temen mana bisa nerima ajakan makan bareng dari cowo. Lagian jangan deh kalau sampe dia duduk bareng kita, ntar kita semua kecelakaan lagi atau bokap kita ntar selingkuh! Mampus kita.”, balas Christy.

Tubuhku gemetaran. Amarahku benar-benar sudah sampai puncaknya. Marah bercampur takut dan sedih akan kenangan-kenangan itu.

Perkataan Christy membangunkan semuanya. Semua ingatan buruk yang berhasil ku pendam selama ini. Pengalaman yang tak seharusnya dialami anak umur 5 tahun.

Panas.

Mataku panas. Aku berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata. Papa, di mana papa saat aku membutuhkannya? Di umurku yang 5 tahun, melihat Mama tergeletak bersimbah darah. Di mana papa? Mana janji papa yang bakal selalu ada buat aku dan kapan pun aku butuh?

*Flashback

20 Maret 2002, 01.40 dini hari

Saat itu, aku hanya bisa menangis melihat keadaan mama dan mbok Sri. Masih tak percaya apa yang terjadi di hadapan mataku.

Aku berharap papa akan datang menyelamatkan mama. Sampai akhirnya aku tersadar kalau papa tak akan datang menyelamatkan kami.

Di tengah hujan lebat, aku menyeret kaki kecilku untuk menyusuri jalanan yang gelap. Menahan dinginnya malam, menahan hantaman hujan yang menyembunyikan air mata.

Setelah lama berjalan, aku memutuskan untuk berhenti di bawah lampu jalan. Remang sinar nya sudah cukup menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya dunia. Memberikan ketenangan.

Sambil terus menangis, aku berharap papa datang. Masih berharap.

Sampai akhirnya aku pingsan dan terbangun di rumah. Bukan, bukan rumah kami yang dulu. Bukan rumah yang penuh canda tawa dan kehangatan yang dulu aku, mama dan papa tinggali.

Aku terbangun di sebuah kamar kecil, namun sangat rapi dan nyaman. Semuanya tertata dengan apik. Wajah hangat seorang ibu-ibu menyapaku, di ikuti dengan wajah-wajah yang baru aku lihat.

“Kak, Kakak nggak apa?”

“Siapa nama Kakak?”

“Kenapa kamu hujan-hujan an malam-malam begini?”

“Kamu nggak apa?”

Rentetan pertanyaan dari wajah-wajah baru itu menghampiriku. Membuatku sangat bingung. Harusnya aku yang bertanya.

Siapa mereka? Di mana aku? Kenapa aku di sini? Mana mama? Mana papa? Hingga aku tersadar kalau mama pergi meninggalkanku selamanya.

Dan papa, papa tidak mencari ku sama sekali, papa tidak ada di saat aku sangat membutuhkannya.

Dan begitulah hidupku berlanjut setelah kecelakaan itu. tinggal di panti asuhan dengan keluarga baru yang lebih menyenangkan dan kehangatan yang lebih hangat dari yang pernah ku rasakan bersama mama dan papa. Berusaha melupakan dan memendam ingatan-ingatan bersama mereka.

*Flashback end

Semua ingatan-ingatan itu terputar seperti film, sangat cepat, sangat nyata, menyesakkan. Semakin aku meningatnya, semakin panas pelupuk mataku. Tak bisa. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis. Di tengah suara tawa kesenangan mereka, aku menangis.

Bukan karena sedih mereka tertawakan, tapi karena kecewa akan diriku yang tak bisa melawan mereka, yang tak bisa mencari teman, yang tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarku.

Tak berharga. Tak berguna. Pecundang.

“Eh eh semua, gue mau ngingetin kalian semua ya, hati-hati kalau deket sama Dinda. Udah pada tau kan kalau dia dapet julukan ‘gadis hujan’? kalau dia sedih, bakalan turun hujan deras, daaan …. Orang yang bikin dia sedih bakal mati karena hujan, entah Lu tenggelem, keseret banjir, kesamber petir, atau yang lain. Hati-hati ya kalian.”

Perkataan Adeline itu disambut tawa kegirangan anak-anak yang lain. Ya, stiff girl, gadis hujan, pembawa sial, anak hujan, anak panti, itu semua adalah julukan ku di sekolah ini.

Semua orang telah mengetahuinya. Banyak rumor tentangku yang beredar di sekolah ini. Terima kasih kepada BIG CROWN yang telah membuatku sangat terkenal.

“STOOP!! Kalo Lo udah tau banyak tentang Dinda, kenapa gak Lo tutup mulut Lo yang busuk itu HAH??!! Tau apa Lo? Gue udah lama temenan sama Dinda gak mati-mati juga tuh. Lo dah bikin Dinda sedih, ati-ati aja ya Lo di jalan. Sapa tau Lo …”, aku menarik lengan Sella untuk mencegah sumpah serapah nya berlanjut, tentu saja setelah menghapus air mataku. Namun Sella menampis tanganku.

“Denger ya kalian semua!! Di sekolah ini, semua siswa nya di haruskan untuk memiliki attitude yang baik!! Sekolah ini bukan untuk ajang saling bully dan unjuk kekayaan. NGERTII??!”

Pidato singkat Sella membuat bulu kuduk merinding. Jiwa pemimpinnya sangat kelihatan saat ini, membuatku terharu. Dia, sekali lagi, Sella kembali menyelamatkanku.

“Dan, sampah seperti kalian berempat gak pantas untuk nginjakin kaki di STAVLENNYA. Kalau kalian bikin ulah lagi, nggak cuma ke Dinda, ke anak lain yang orang tua nya nggak sekaya orang tua kalian, kalau sampai kalian sok berkuasa lagi, nggak bakal gue sembunyiin lagi!! Gue bakal lapor ke kepala sekolah tentang apa yang kalian lakuin.”, tantang Sella dengan berani, menatap tajam ke arah BIG CROWN.

Sella menarik tanganku, meninggalkan pesanannya, meninggalkan kantin. Aku di giringnya ke danau STAVLENNYA.

“Gue heran deh Din sama Lo. Kenapa Lo cuma diem aja digituin? Balas kek sekali-kali. Kadang jadi orang jahat gak salah kok.”

“Nggak Sel. Aku nggak mau nambah musuh lagi.”

“Mereka udah jadi musuh Lo sejak pertama Lo dateng. Di tambah lagi Lo gak mau bergaul sama anak-anak yang lain. Pusing gue sama Lo. Gue gak bisa terus-terusan ada di samping Lo, coba Lo bergaul sama yang lain, gak bakal Lo jadi bahan bully-an di sekolah ini. Aneh banget sih Lo, malah suka main sama kamera yang jelas-jelas gak bisa di ajak ngobrol.”

Bukan aku tak mau bergaul dengan mereka, tapi aku sudah tahu bagaimana jadinya kalau aku bergaul dengan mereka. Mereka hanya akan menginjak-injak ku dan keluargaku. Menginjak-injak Ibu dan keluargaku yang lain di Panti. Derajat kami jelas berbeda, dan mereka tak akan memandang orang-orang seperti kami seperti manusia lainnya.

“Iya Sella …. Mau makan bareng? Ibu masak oseng ikan asin kesukaanmu nih. Ibu bawain bekal buatku kebanyakan. Mau?”, aku berusaha untuk memotong ceramah Sella. Sella sangat suka oseng ikan asin buatan Ibu. Dia juga sering main ke panti.

“Yaudah sini. Gegara kamu, aku ninggal makanan ku.”, balas Sella sambil sedikit cemberut.

Sahabatku ini memang paling menggemaskan kalau sedang cemberut, apalagi kalau ku tawari makanan kesukaannya saat dia marah.

Menyenangkan. Dia seperti adik sekaligus kakak yang aku idam-idam kan.

Sella lebih dari sekadar sahabat bagiku, dia adalah keluargaku.




Hai haii readers yg masih setis membaca ceritaku yang masih abal-abal ini ... Terima aksih banyak kalian masih mau menunggu dan baca nih cerita T^T maaf banget kalau chapter ini ga menarik, monoton, biasa aja, mainstream, kalimat ga indah atau bahkan kalian yg baca sampe stresa krn ga tau artinya T^T Hope you enjoy it ♥♥
Shalsadilla
Hujan adalah anugerah dari Yang Kuasa. Menurunkan berkah namun juga musibah. Aku sangat membenci hujan dari kecil. Sampai aku meyadari keindahan yang muncul setelah hujan berlalu.

Adit. Aku menemukan keindahan dalam sorot matanya. Keindahan pelangi. Dia yang mengenalkanku apa arti cinta di tengah rekayasa dunia yang sedang ku jalani.

Berkat Adit, aku bukanlah Dinda yang dulu. Aku telah banyak belajar dari Adit. Dia adalah orang yang sangat ku cintai, dan selamanya akan begitu.



Halooo readers HUJAN ♥♥ duh maaf banget yaa ... aku lupa naruh sinopsis di sini T^T maafkan kecerobohan yang fatal ini . Huhuhuhu pasti pada bingung yaa ... kenapa di prolog nyeritain Dinda, eh kok di chapter 1 nyeritain Adit. Maaf banget yaaa .... nah sekarang kebingungan kalian akan terjawab di sinopsis ini ^^
Sekali lagi maaf kan kecerobohanku ini
Much Love ♥
Shalsadilla


The Answer is Yes

Bulir embun merangkak di atas dedaunan. Kabut masih menyelimuti gedung-gedung pembelah cakrawala. Di sini, di antara barikade gedung-gedung gagah, aku duduk di bawah teralis coffee shop bernuansa vintage, menyeduh secangkir Cappuccino pesananku. Sudah menjadi ritual bagiku untuk mengawali hari dengan meneguk kafein yang memiliki cita rasa yang khas ini.

Entah kenapa hari ini Coffee Radish penuh sesak dengan para pelanggan, sehingga di sinilah aku berakhir, di beranda Coffee Radish memandang hamparan gedung-gedung pecakar langit di bawah lereng bukit.

Angin berhembus menghasilkan melodi merdu dari gesekan ranting pohon, burung-burung bersajak bersahut-sahutan, desis mesin kopi samar-samar terdengar, menyajikan suara yang khas di telinga diselingi tawa renyah dan obrolan para pelanggan bagai alunan yang menyejukkan hati. Ditambah dengan aroma biji kopi yang baru dipanggang, menambah ketenangan di pagi hari sebelum disibukkan dengan rutinitas kuliah.

‘Klinting’ , lonceng pintu Coffee Radish berbunyi. Ada seorang pemuda berperawakan tinggi, tegap, sedang berjalan menuju ke arahku, sepertinya dia tidak dapat tempat duduk sama sepertiku.

Dia mengenakan kaos putih yang dilapis dengan kemeja tartan biru dan celana jeans hitam. Terlihat tas gitar terselempang di bahunya yang tegap.

Tanpa sadar aku melambaikan tangan padanya dan mengisyaratkan bahwa kursi di depanku kosong. Perlahan dia berjalan menghampiri mejaku, “May I?”, tanyanya sopan. Dia memiliki suara yang halus dan lembut, batang hidungnya tinggi dan memiliki mata yang teduh, rambutnya tertata rapi dan tidak gondrong.

“Uh, Ya .. ya .. silahkan”, tak biasanya aku gugup saat berbicara dengan orang lain.

Perlahan dia menuangkan Americano di atas gelato miliknya, menghasilkan desis yang sangat merdu di telinga. Setelah menikmati beberapa suap Affogato nya itu, dia menatapku dan tersenyum.

“Kamu mahasiswa Institut Seni ya?”, tanyanya ringan.

“Hmm .. tau dari mana?”, aku sedikit bingung karena dia tahu kampusku. Dia tertawa kecil lalu menunjuk ke arahku.

“Jas almamater …”, katanya sambil tersenyum melihatku.

“Anak sniper juga ya?”, sambungnya sambil menatapku teduh.

“Iya, kok kamu tau banyak sih?”, kali ini aku benar-benar terkejut, karena tidak ada identitas yang menunjukkan bahwa aku anak fakultas seni pertunjukan di jas almamaterku kecuali sebuah pin, itu pun hanya anak fakultas seni pertunjukkan yang memiliki dan mengetahui tentang pin ini.

Lalu. Pemuda tersebut mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Astagaaaa, kamu satu fakultas sama aku?? Satu universitas jugaa??!”, sontak saja aku terkejut saat dia mengeluarkan jas almamaternya. Dia hanya tertawa kecil melihat tingkahku.

“Iya, aku mahasiswa tahun ke tiga. Kenalin, namaku Afif.”, dia menyodorkan tangannya padaku. “Kenalin, namaku Ai, mahasiswa tahun ke tiga juga.”, kataku sambil menyambut tangan Afif.

“Pantas kamu tau Universitas sama fakultasku, ternyata kamu juga mahasiswa di sana.”, akhirnya rasa canggung yang muncul dari tadi telah hilang.
 
“Hmm .. tapi aku nggak pernah liat kamu di kampus. Sering bolos yaaa?”, kata Afif dengan nada mengejek.

“Tcchhh …. Enak aja … aku mahasiswa teladan tau …. . Aku lebih sering di Perpustakaan sama di Auditorium atau nongkrong di studio musik kampus kita”.

 “Oooouuhhh murid teladan niih .. hahaha.”, ejek Afif sambil mengusap kepalaku, ah, merusak tatanan rambutku lebih tepatnya.

Anehnya aku tidak merasa takut, canggung atau pun marah pada Afif, padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya, meskipun dia satu fakultas denganku tapi baru pertama kali ini kami bertatap muka. “Heeeiiiihhh ..” gerutuku seraya merapikan tatanan rambutku. Afif hanya tersenyum menatapku.

“Hey, kamu sering ke sini?? Fif?”, pertanyaanku tak mendapat jawaban, rupanya Afif sedang dalam dunia nya saat ini a.k.a ‘melamun’. Oh, dia menatapku! Sedikit menakutkan melihat dia melamun tapi pandangannya tertuju padaku.

“Hey! Fif?? Jangan ngelamun! Masih pagii niiih.”, akhirnya dia tersadar dari lamunannya saat aku menyentikkan jariku di depan wajahnya. “Eh, iyaa?? Siapa yang ngelamun?? Kenapa tadii??”. “Hmm, kamu sering ke sini?”, aku terpaksa harus mengulang pertanyaanku.

Sebenarnya ingin sekali aku menanyakan kenapa dia menatapku seperti itu, tapi aku tak ingin merubah suasana akrab kami menjadi canggung lagi. “Uh, sekarang aku jarang ke sini.”, jawabnya sambil mengaduk Affogato nya yang hampir meleleh seluruhnya.

“Sekarang? Kalau dulu?” tambahku. “Dulu aku sering ke sini sama someone, hampir setiap hari kita habisin waktu bareng di sini.” . “Terus kenapa jadi jarang ke sini?” , entah kenapa aku sangat penasaran sama cerita Afif.

“Someone itu udah ngga ada”, Afif menjawab dengan nada yang sendu, membuatku merasa bersalah karena ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.

Harusnya aku tak menanyakan hal itu lebih lanjut. “Oh, maaf Fif. Aku nggak tau kalau dia udah meninggal. Beneran, aku nggak maksud bikin kamu flashback.”. Afif justru tertawa kecil mendengar perkataanku.

“Haha, dia ngga meninggal kok. Dia berubah jadi orang asing bagiku.”, Afif menjawab sambil tersenyum, tapi aku tahu dalam hatinya ada luka yang sangat dalam. Sepertinya someone yang sering menghabiskan waktu di Coffee Radish bersama Afif ini sangat berarti untuknya.

“Uh, aku lah yang buat dia jadi orang asing.”, sambung Afif. Kali ini, raut wajahnya tidak lagi menunjukkan sedikit pun lekukan pada bibirnya yang hanum itu. Dia menatap dan mencengkeram erat cangkirnya. Terlihat jelas sebuah penyesalan yang besar dalam hatinya saat ini.

Tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibirnya. “Uh, maaf maksudnya gimana ya? Kamu ngusir dia ke luar negeri??”, aku berusaha untuk menghidupkan suasana, aku ingin melihat Afif seperti tadi saat kita berkenalan. “Pppft … Eiiiiihh sudahlah kamu nggak akan ngerti.”, Afif lagi-lagi melancarkan serangannya ke rambutku yang malang.

Akhirnya, lekuk indah terukir di kedua bibirnya. “Apanya yang mahasiswa teladan? Omongan begitu aja nggak ngerti.”, sepertinya aku salah telah mengembalikan Afif ke keadaan semula, alhasil aku jadi bahan olokannya lagi.

“Tapi, bagaimana pun juga aku senang. Karena dia masih hidup dengan baik dan bahagia, dia pasti telah mendapat banyak cinta dari orang-orang di sekitarnya.” . Mood nya telah benar-benar kembali bagus, aku senang untuk itu.

Kami bercerita banyak sekali, mulai dari makanan favorit, lagu kesukaan, idola, alat musik, film kesukaan, dan masih banyak lagi. Ternyata kami punya cukup banyak kesamaan, entah kenapa aku merasa sangat nyaman berbincang dengan Afif.

“Oh! kayaknya kita telat nih!”, aku baru sadar saat melihat jam tanganku.

“Ayo berangkat! Mau bareng?”, Tanya Afif.

“Eung … aku bawa motor kok”.

Saat membayar di kasir, tiba-tiba Afif meyerobot. “Kayak biasa, sama pesanan cewe ini ya”, Afif menyodorkan kartu kreditnya ke Tony, kasir sekaligus barista di Coffee Radish. Orangnya ramah, jemari-jemarinya sangat terampil meracik kopi, cekatan juga rajin. Aku sering ngobrol dengan Tony, orangnya asik dan juga seorang pendengar yang baik.

“Aku yang bayar ..”, kata Afif sambil tersenyum padaku. Apa boleh buat, karena kartu kreditnya sudah tergesek di mesin kasir, aku hanya bisa tersenyum.

Lagi-lagi Afif meyerobot secepat kilat dan membuka pintu Coffee Radish. “Lady first”, katanya saat membuka pintu. Tanganya memberi isyarat mempersilahkanku untuk keluar terlebih dahulu.
******
Ditemani remang-remang pijar lampu dan lantunan musik Mozart, aku masih harus menggoreskan pena di atas lusinan kertas pada pukul 02.00 WIB dini hari karena para dosen tercinta yang tak tanggung memberikan tugas untuk merangkum 3 Bab sekaligus. Dan megerikannya lagi, 1 Bab berisi 150 lebih halaman.

Tepat pukul 03.00 WIB aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku di atas pulau kapuk. Aku mengatur alarm dan mengecek handphone, siapa tahu ada seseorang yang merindukanku dan mengirimiku pesan. Selang beberapa menit, mataku tak sanggup lagi terjaga.
******
Berkas cahaya matahari telah merambat masuk ke kamarku, menerobos tirai tepat memapar wajahku. “Selamat pagi Ma.”, ucapku lalu memeluk mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan dari belakang. ‘Chuu’ aku melayangkan ciuman di pipi mama.

“Selamat pagi sayang.”.

“Selamat pagi Pa.”, aku memberikan salam pada papa, lalu mencium papa yang hanya bisa berdiam diri di dalam bingkai foto yang tergantung di dinding.

Meskipun hanya berdiam diri, senyum indah papa masih sangat hidup. Ya, papa sudah tiada saat aku berumur 5 tahun. Beliau meninggal saat ditugaskan ke Palestina sebagai dokter sukarelawan untuk membantu para korban perang di sana. Aku hanya bisa mengucap salam dan mencium foto papa setiap pagi.

Sepiring panekuk hangat yang baru diangkat dari pan dan disiram dengan madu di atasnya adalah menu sarapan paling lezat yang pernah kumakan. Apalagi panekuk buatan mama, tidak ada tandingannya.

“Oh ya Ma, Ai semalam mimpi aneh.”, kataku sambil melahap panekuk ku.

“Mimpi apa sayang?”

“Ai mimpi Ai sedang di rawat di rumah sakit, Mama menangis dan juga ada seorang pria di sana, tapi Ai nggak tau siapa, soalnya dia hadap belakang. Tapi kayaknya pria ini dekat sama Mama, soalnya dia meluk Mama gitu, buat nenangin Mama.”, Mendengar ceritaku, mama hanya terdiam menatapku. Bukan tatapan kosong, tapi lebih ke tatapan cemas. Mungkin ceritaku telah membuat mama khawatir akan kesehatanku.

“Kamu ngomong apa sih Ai? Jangan dipikirin ya! Itu cuma mimpi. Mama nggak akan biarin anak Mama satu-satunya masuk rumah sakit! Selesaikan sarapanmu terus berangkat kuliah gih, udah siang loh ini.” meskipun mama bilang kalau itu cuma mimpi, tapi mimpiku tadi benar-benar terasa sangat nyata.

“Ai berangkat ya Ma …”. Setelah melahap semua paket sarapan yang diberikan mama, aku langsung tancap gas, bukan ke kampus, tapi aku sempatkan mampir ke Coffee Radish untuk menuntaskan ritualku. Yup, meneguk secangkir Cappucino racikan tangan Tony.

Akhirnya aku mendapatkan kembali spot favoritku di Coffee Radish, di sebuah sofa beige disamping jendela Coffee Radish yang berhiaskan goresan-goresan glass painting para seniman Coffee Radish. Dari sini, para pelanggan dapat melihat langsung menuju jalanan yang tak seberapa padat lalu lalang kendaraan bermotor.

“Here you are. Special Cappucino just for Ai.”, Tony datang membawakan secangkir Cappucino panas ke mejaku. “Be careful! Still hot!”, tambahnya.

“Oh, apa ini? Bonus note? Heeeiih … tumben banget … mau ngomong apaan sih? Pakai note segala .. ngomong langsung kan bisa Ton.”

“Kepedean banget sih Lo.”, ejek Tony. “Itu bukan dari aku. Tadi Afif dateng pagi banget. Pas aku dateng, dia udah nunggu di kursi itu.”, Tony menunjuk sebuah kursi di sebelah Wall of Expression khas Cofee Radish. “Note itu dari dia, dia nitip aku. Katanya, kalau kamu udah dateng, suruh kasih ke kamu.”, sambungnya.

Huh? Secarik note dari Afif? Aku sangat penasaran akan isinya.

‘Let’s meet this evening at College’s Music Studio’

Begitulah isi note tersebut. Di bagian kanan bawah dari note tersebut, tertera pula ilustrasi wajah Afif sedang tersenyum. Sore ini, di studio musik kampus, mau ngapain?? Aku bertanya-tanya akan isi note tersebut. Sedikit rasa curiga dan banyak rasa senang saat ini dalam hatiku.

“Woy! Ngelamun terus … keburu dingin tuh!”, Tony menepukkan kedua telapak tangannya yang pucat di hadapanku, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Apa isinya?”, Tanya Tony.

“Ih kepoo deh Lo!”.

“Huuh dasaar … dah berangkat kuliah sono! Ngaret mulu kerjaan Lo!”, kata Tony sambil mengambil nampan dan beranjak ke belakang meja mesin-mesin kopi lagi.

Aku pun bergegas meneguk semua Cappucino yang tersisa di cangkirku. “Berangkat ya Ton!”. Tony hanya melambaikan tangan padaku, karena dia sibuk meracik kopi pesanan para pelanggan yang mulai ramai berdatangan.

Hari ini di kampus aku sangat merasa tidak bersemangat, kepalaku pusing dan banyak hal yang terjadi belakangan ini, mulai dari yang menyenangkan sampai yang benar-benar menyiksa. Bertemu Afif menjadi salah satu hal yang menyenangkan.

Satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan di kampus, adalah bertemu Afif sore ini. Kurang 1 jam lagi kelas dibubarkan, dan tepat pukul 3 sore ini, aku akan langsung melesat ke studio musik kampus.

‘beep beep beep’ bel tanda berakhirnya kelas sudah berbunyi, aku langsung memantapkan langkahku untuk berlari menuju studio musik, tempat di mana Afif mengajakku bertemu.

‘Sreek’ aku menggeser pintu studio perlahan, berusaha untuk tak menghasilkan sedikitpun suara. Studio sangat hening, tak ada satu pun orang di dalam sini. Perlahan aku memasuki studio lebih dalam, samar-samar terdengar melodi indah dari tuts-tuts piano. Langkahku mengikuti arah asal datangnya melodi yang indah itu. Semakin lama semakin jelas terdengar. Nada-nadanya sangat indah dan menenangkan, dimainkan dengan sangat apik dan rapi, sampai merinding aku dibuatnya. Tapi jelas sekali, bukan merinding saat kau merasakan hawa keberadaan makhluk ghaib.

Di ujung lorong, terdapat suatu ruangan yang di beri sekat sebuah rak buku klasik modern dari kayu. Terlihat sang maestro penghasil melodi-melodi yang memabukkan tadi.

Afif?? Aku terkejut saat menemukan bahwa ‘sang maestro’ itu adalah Afif. Yup, Afif lah yang memainkan piano dengan sangat rapi dan apik tadi, dia bermain seperti pianis handal. Dia sangat menghayati lagu yang tengah ia mainkan, tak sengaja aku melihat tetes air mata mengalir di tepi hidungnya yang tinggi itu.

Lagu yang dia mainkan saat ini sama sekali bukan lah lagu sedih, aku ingat sekali, aku sangat mengenali lagu ini, lagu ini sangat sering aku mainkan bersama … Afif?? Hah? Afif? Tiba-tiba muncul bayangan dalam kepalaku aku sedang memainkan lagu ini, di sini, bersama Afif.

Dejavu macam apa ini? Ada apa denganku? Apa aku menyukai Afif? Sampai-sampai berkhayal bermain piano bersama Afif. Apa ini tidak keterlaluan? Maksudku, baru kemarin aku bertemu Afif dan sudah jatuh hati padanya? Sampai mebayangkan hal-hal memalukan seperti tadi? Aku membeku, hanya bisa diam terpaku menyadari hal tak biasa itu. Tanpa kusadari, hangat tetes air mata membanjiri pelupuk mata ku, mungkin karena aku melihat Afif sangat menghayati sampai menitihkan air mata saat memainkan lagu ini.

“Ai! Kenapa nggak langsung masuk?”, mungkin aku akan menangis jika Afif tidak menyadarkanku.

“Uh .. hmm … anu .. aku nggak mau rusak konsentrasimu.”, jawabku terbata-bata. Aku masih bingung akan dejavu yang barusan ku alami.

“Oh, kamu lihat ya? Haha ini bukan lagu sedih, tapi nggak tau kenapa sekarang aku nangis tiap kali main lagu ini. Lagu ini ngingatin aku sama seseorang.”.

“Orang yang sama yang kamu bilang pas di Coffee Radish?”.

“Uhmm …”, Afif menganggukkan kepalanya. Orang yang sering menghabiskan waktu bersama Afif di Coffee Radish dan orang yang membuat Afif menitihkan air mata saat memainkan lagu tadi ternyata adalah orang yang sama.

“Hey! Sini!”, Afif menyuruhku untuk duduk di sampingnya.

“Aku nggak bisa main piano Fif. Aku pegang tuts piano aja nggak pernah.” .

“Bisa kok, pasti bisa!”, Afif memaksaku untuk duet main piano dengannya. Dia mengajariku kunci dasar piano dan cara menekan tuts-tuts piano dengan sangat sabar.

Kami memainkan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’ sebagai permulaan. Aku rasa aku cukup berbakat dalam bermain piano. Aku merasa jari-jariku bergerak secara refleks, seperti aku sudah lama bermain piano.

Setelah meyelesaikan beberapa lagu, kami sampai pada lagu ‘Happy – Pharrell Williams’ tak lain dan tak bukan lagu yang berhasil membuatku merinding tadi, sekaligus lagu yang membuat Afif menangis.

Jemariku tak bisa berhenti, mereka terus memainkan tiap nada dengan sangat rapi, benar-benar terasa seperti aku telah handal bermain piano. Kami berdua memainkan lagu dengan sangat kompak dan harmonis. Entah kenapa aku merasa sangat senang, dadaku terasa panas, aku ingin menangis, tangisan bahagia, melihat Afif sangat bahagia dan menikmati lagu ini, sangat berbeda saat aku melihatnya tadi bermain sendirian.

Dejavu itu datang lagi, bayangan aku sedang bermain lagu yang sama, di tempat yang sama, dengan suasana yang sama, bersama Afif. Tapi aku tak menghiraukannya, aku tidak ingin merusak moment berharga ini.

“Gimana? Bisa kan main piano? Udah hebat pula ..”, kata Afif saat kami menuju tempat parkir.

“Hahaha iyaa dong, namanya talenta nih ya gini dah, belajar sebentar langsung pro”, celotehku.

“Sok banget kamu”. Untuk sekian kalinya, Afif merusak tatanan rambutku.
Kemudian dia melingkarkan lengannya di bahuku, membuat telingaku mendengar detak jantungnya. Aku tahu dia tinggi, tapi tak kusangka dia akan setinggi ini dari dekat. Tinggiku hanya sebahunya saja.

Afif mengantarku sampai parkiran. Uhm, benar-benar sampai depan motor ku lebih tepatnya.

“Makasih ya Fif, udah ajarin aku main piano. Makasih juga udah ngantar sampai sini.”.

“Mmmm .. enjoy ajaa.”.

“Kamu duluan aja, nggak apa kok”, kataku karena Afif tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

“Uh? Nggak apa kok, aku pastiin dulu kamu pulang, baru aku pergi.”, jawab Afif.
 Sungguh, saat ini jantungku berdebar, darahku mengalir cepat, apa ini yang namanya jatuh cinta? Saat kau menerima perhatian khusus dan tubuhmu merespon dengan menghasilkan energi aneh yang membuatmu merasa sangat bahagia? Jika ya, berarti aku sudah jatuh cinta sama Afif.

“Hahahaha kok bisa ban motormu bocor?” .

Malu setengah mati aku, saat aku menghidupkan motorku tadi, ternyata banku bocor entah terkena apa dan di mana. Untung Afif masih nunggu aku, jadi dia menelfon bengkel langganannya untuk membawa motorku. Alhasil, aku diantar pulang naik mobilnya.

“Nggak tau juga tuh motor kenapa. By the way, makasih banget ya udah mau repot-repot ngantar aku pulang.”, ujarku.

“No problem! Nggak usah bilang makasih kalii … kayak orang lain aja.”
Rute menuju rumahku memang agak sulit, karena harus melewati tebing yang cukup curam. Don’t blame me! Bukan salahku memiliki rumah yang menyusahkan orang lain untuk mengantar pulang.

“Mau putar lagu?”, tanya Afif.

“Yes, please!”. Sejauh ini, tidak ada diantara kami yang bersuara. Tidak ada suara selain lagu Talking to The Moon yang dinyanyikan Bruno Mars. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi Afif saat mengemudi.

Saat melewati terowongan, lagi-lagi aku mengalami dejavu. Setiap hari aku pasti melewati terowongan ini, dan tak pernah sekalipun aku mengalami dejavu seperti saat ini.

Terlintas bayangan aku sedang mengendarai mobil putih dengan kecepatan yang sangat tinggi melintasi terowongan ini, entah apa penyebabnya tapi aku “di sana” sedang menangis. Bayangan itu hanya terlihat sekilas. Akhir-akhir ini aku sering mengalami dejavu yang sangat aneh, dan jujur saja itu sedikit membuatku ketakutan.

Aku berpikiran untuk menceritakan hal ini ke Afif, tapi saat melihat wajahnya saat ini, lagi-lagi sepenggal “penglihatan” itu muncul lagi. Kali ini, Afif membelakangiku, hanya terlihat punggungnya yang berjalan menjauh. Sebenarnya ada apa ini?? Kenapa denganku? Kenapa aku mengalami dejavu seaneh ini? Dan kenapa Afif ada di dalamnya? Karena “penglihatan itu”, aku mengurungkan niat untuk memberi tahu Afif tentang hal-hal aneh yang kualami belakangan ini.

Ketakutanku memuncak saat kami tengah menyusuri tebing yang cukup curam. Afif tiba-tiba mengerem mobilnya, membuat tubuhku terhempas ke depan.

“Kenapa Fif?? Jangan ngerem mendadak gitu dong!”. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Selama perjalanan tadi, bayangan saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan bayangan Afif yang membelakangiku terus terputar di kepalaku seperti film sudah cukup membuatku ketakutan, ditambah Afif berhenti mendadak berhasil membuatku jantungan.  

Pandangan Afif terpaku ke depan, nafasnya tersengal-sengal, kringat dingin membasahi keningnya.

“Ada… hhh ..  di depan … ada kecelakaan di depan … kecelakaan hebat ..”, kata Afif dengan nafas tersengal-sengal.

Aku memberanikan diri untuk melihat kecelakaan yang terjadi tepat di depan mobil kami. Perlahan aku mulai menghadapkan wajahku ke depan. Mataku terbelalak, sungguh kecelakaan paling mengerikan yang pernah kulihat. Sebuah mobil putih telah remuk tak berbentuk tertabrak sebuah truk yang besar.

‘BOOM!!’ tak lama mobil putih tersebut meledak dan terbakar. Aku hanya terbelalak, tak bisa berkata apa-apa, pelupuk mataku panas, kini bayangan-bayangan itu datang lagi, berurutan, jelas, dan sangat nyata.

Playback

16 September 2013 ….
‘Drrrttt …drrrrttt’ handphoneku bergetar, ada LINE masuk rupanya. Afif, “Ketemuan yuk! Ada sesuatu yang mau aku omongin, aku tunggu jam 3 sore ini di pinggir tebing biasa ya.”. Begitu isi LINE yang Afif kirim. Dia pasti ingin memberi kejutan di hari spesialku ini.

Oh, masih jam 10 rupanya. Aku ingin terlihat menawan saat bertemu dengan Afif hari ini, jadi kuputuskan untuk pergi ke mall membeli dress baru, kemudian ke salon untuk 
perawatan diri. Aku ingin terlihat spesial di hadapan Afif.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membeli baju dan mempercantik diri di salon, aku siap untuk bertemu Afif. Mengenakan mini dress berwarna putih polos, hanya ada pita hitam lebar yang melingkar di pinggul sebagai hiasannya, sepatu heel putih dan rambut yang kubiarkan terurai.

Mama sedang ada urusan hari ini, jadi aku diijinkan naik mobil untuk keperluanku. 
Aku menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarainya.

Sudah pukul 15.30 WIB namun Afif tak kunjung datang. Sudah setengah jam aku menunggu di sini, di bawah pohon maple, di tepi tebing tempat kami biasa bertemu.

Kami suka melihat pemandangan dari atas sini, hamparan gedung, perumahan, perkebunan, dan lautan manusia bisa kami lihat dengan jelas. Saat malam, pijar lampu dari perumahan penduduk dan gedung-gedung tinggi, juga lampu-lampu kendaraan bermotor yang lalu lalang terlihat bagai ribuan bintang yang diapit oleh pegunungan dan perbukitan. Ditambah sebuah pohon maple yang sangat jarang ditemukan di Indonesia, tumbuh dengan subur di tepi tebing ini.

Tak lama kemudian, aku melihat sosok pria tinggi mengenakan sweater berwarna navy sedang berjalan ke arahku. Cara berjalannya tegap dan langkahnya panjang.
Akhirnya  Afif datang walaupun sudah terlambat 40 menit dari waktu yang dia janjikan.

“Hai, maaf telat.”, katanya.

“Hmmm … nggak apa kok. Aku juga baru dateng.”. Afif terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tak ada secercah pun cahaya yang terpancar dari wajahnya yang tampan itu.

“Hei! Nggak usah tegang gitu dong. Aku barusan dateng, serius deh!”, celotehku sambil melayangkan tinju kecil ke bahunya. Aku bermaksud untuk merubah suasana hatinya, namun air mukanya tak berubah.

Afif menatapku dengan tajam tepat ke mataku, lalu menghela nafas dalam sebelum berkata sesuatu. “Gimana progress asmaramu sama Rexy?”.

“Asmara apaan? Kamu jangan ngaco ya Fif. Aneh-aneh aja.”, aku sangat terkejut saat Afif berkata seperti itu. Kenapa dia menyinggung soal Rexy dan bukannya memberikan surprise untukku.

“Ai! Aku nggak suka kamu deket-deket sama Rexy! Pokoknya kamu harus jauh-jauh dari dia!”, kata Afif dengan nada yang agak tinggi.

“Kamu kenapa sih Fif? Nggak jelas banget deh, dateng-dateng nyuruh aku jauhi Rexy. Memang kenapa kalau aku deket sama Rexy?”. Aku sangat terkejut, tak biasanya Afif berbicara dengan nada tinggi padaku. Mataku terasa panas, dadaku sesak dan aku tak bisa bernafas dengar normal, rasanya seperti sesuatu membekap hidungku.

“Soalnya aku tahu sifat Rexy itu gimana. Dia nggak baik buat kamu!”.

“Terus, yang baik buat aku gimana? Memangnya kamu tahu? Yang menurutmu nggak baik, belum tentu nggak baik juga buat aku. Memang kamu siapa berhak ngatur masalah pribadiku?”.

Tanpa kusadari, aku tersulut emosi. Bukan karena Afif yang sok mencampuri urusanku, tapi karena Afif yang membawa orang lain dalam percakapan yang harusnya hanya berisi tentang aku dan dia.

“Ooooh .. jadi selama ini kamu nggak anggap aku siapa-siapa dalam hidup kamu? Selama bertahun-tahun aku selalu ada di sampingmu dan itu semua nggak ada artinya di mata kamu??”, kata Afif dengan nada yang bertambah tinggi. Wajah Afif merah padam, matanya merah menahan air mata.

Apa yang telah kukatakan? Kejahatan macam apa yang telah kuperbuat sampai-sampai membuat pria yang selalu ceria di hadapanku kini menangis di hadapanku.

“Bukan … bukan itu maksudku Fif ..”.

“Sudahlah, sekarang aku tahu posisiku di mata kamu. Orang asing.”

Setelah megucapkan kalimat terakhirnya itu, Afif melangkah membelakangiku. Hanya terlihat punggungnya yang berjalan menjauh. Aku hanya menatap Afif dari tempatku berdiri, berharap dia akan berbalik dan mengatakan bahwa semua ini hanya kejutan yang dia persiapkan. Afif semakin menjauh dan tidak menunjukkan pergerakan bahwa dia akan berlari kembali ke arahku.

“Afif!! Kalau kamu terusin langkahmu, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi!! Aku akan anggap kita benar-benar dua orang asing yang nggak saling kenal!!”, teriakku berharap Afif berhenti. Air mataku tak bisa ku bendung lagi. Afif tak mengurangi kecepatan langkahnya sedikit pun. “Afif!! Pliss … berhentii Fif … Pliss .. jangan biarin kita jadi orang asing Fif ..”, isakku.

Perasaanku tercampur aduk. Air mata mengalir deras di wajahku, dadaku sesak, darahku memanas. Aku kehilangan kendali diri, aku mengendarai mobil dengan kecepatan 150 km/jam. Aku sangat terpuruk karena kejadian tadi, berulang kali kuhantamkan tubuhku ke jok mobil. Kulepaskan kemudi dan memejamkan mata saat melewati terowongan, berusaha untuk menenangkan diri.

Saat aku membuka mata, aku hanya bisa terperangah karena sebuah truk besar melaju dengan cepat ke arahku. ‘BOOM!!’

Playback End

“AAARRGGGHHH!!”, aku teriak sambil meremas rambutku. Aku masih tidak percaya akan segala hal yang baru saja berdesakan masuk ke dalam kepalaku.

“Shhh .. shhh … nggak apa, aku ada di sini  sekarang. Kamu nggak perlu takut.”, tiba-tiba kehangatan muncul dari dekapan Afif. Entah aku harus berterima kasih atau marah pada Afif saat ini.

“Antar aku pulang sekarang.”, ujarku melepas dekapan Afif.
Turun dari mobil, Afif mengantarku sampai ke depan pagar.

“Aku udah ingat. Siapa aku, siapa kamu, apa yang udah terjadi sampai aku lupa semuanya dan ingat alasan yang bikin aku lupa semuanya.”, ujarku.

“Uh? Kapan? Sejak kapan kamu ingat semuanya?”.

“Tadi waktu lihat kecelakaan, semua bayangan muncul di kepalaku.”, aku masih sangat syok akan kenyataan ini.

“Setelah kamu menghilang selama ini, sekarang kamu muncul lagi? Mengukir kenangan baru sebagai orang baru? Kamu manfaatin hilangnya ingatanku ini buat deket lagi sama aku?? Kenapa? Kamu ngerasa bersalah?? Harusnya kamu balik ke aku waktu itu di tebing!!”, aku mengeluarkan semua pertanyaan yang sejak tadi ku simpan selama perjalanan. Tanpa sadar aku menitihkan air mata.

“Bukan seperti itu Ai, aku bisa jelaskan semuanya sama kamu.”.

“Aku minta kamu pulang sekarang, makasih udah ngantar aku. Tolong jangan temui aku dulu.”.

“Maaf”

Sepatah kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan Afif padaku.

Sudah berminggu-minggu aku mengunci diri di kamar. Mencari penggalan-penggalan ingatanku yang hilang setiap hari. Setiap hari pula, mama masuk ke kamar membawa bucket bunga dari Afif. Setiap hari dengan bunga berbeda dan kartu ucapan yang berbeda perlahan-lahan berhasil membuatku memaafkan Afif. Sore ini, kami telah membuat janji untuk bertemu di Coffee Radish.

‘KLINING’ aku membuka pintu Coffee Radish dan melihat Afif telah duduk di spot favoritku dan telah memesankan secangkir Cappucino untukku.

“Hai!”, Afif melambaikan tangannya.

“Hai, sudah lama nunggu?”, tanyaku.

“Nggak, baru nyampai kok”. Kami duduk berhadapan, namun tak ada stu pun yang memulai pembicaraan. Akhirnya, aku mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan, karena aku lah yang meminta Afif untuk datang ke sini.

“Ummm lama nggak ketemu ya. Gimana kabarmu?”, tanyaku.

“Iya, baik kok. Makasih. Gimana kabarmu?”.

“Luar biasa.”, jawabku sambil tersenyum padanya.

“Waktu itu di tebing aku benar-benar minta maaf.”

“Nggak apa kok Fif, aku udah maafin kamu.” 

“Tunggu dulu, biar aku lanjutin dulu. Aku benar-benar nggak bermaksud buat marah sama kamu. Waktu itu aku cuma mau bikin kamu nangis sebelum aku kasih surprise ulang tahunmu. Aku ngikuti kamu waktu kamu ngebut, aku udah klakson kamu berulang kali, agar kamu kurangi kecepatan mobilmu. Tapi kamu nggak kurangi kecepatan mobilmu sedikit pun. Aku sangat khawatir waktu itu, dan aku sangat syok saat melihat kamu tertabrak di depan mataku. Aku hampir hilang harapan, sampai aku lihat kalau kamu masih selamat. Aku langsung keluarin kamu sebelum akhirnya mobilmu meledak. Ai, aku benar-benar minta maaf. Karena aku, kamu harus dirawat di rumah sakit selama 3 bulan dan harus kehilangan ingatanmu.”

Afif menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Aku sangat berterima kasih karena Afif  mengeluarkanku dari dalam mobil saat kecelakaan itu.

“Aku selalu ada buat kamu Ai. Bahkan setelah kecelakaan. Aku udah janji ke mama kamu buat jadi orang asing bagimu. Bukan mamamu yang menyuruh, tapi aku sendiri yang ingin melakukannya, karena aku nggak ingin setiap kali kamu ngelihat aku, kamu akan teringat kecelakaan itu. Juga, aku nggak tahan kalau harus melihat wajahmu, itu selalu membuatku merasa bersalah. Kita sering bertemu, tapi aku memutuskan untuk menjauh. Tiap kali kita berpapasan di kampus, aku selalu memalingkan wajahku. Aku berusaha sebisaku agar tak terlihat olehmu.”, sambung Afif.

Ternyata selama ini, Afif tetap ada di sampingku walaupun aku ngga tahu.

“Aku ngerti Fif, dan aku udah maafin kamu kok. By the way, surprise apa yang mau kamu kasih ke aku waktu itu?”

Afif mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan berlutut di depanku. “Will you be my girlfriend?”, ucap Afif sambil memperlihatkan isi kotak merah jambu yang di bawanya.

Liontin.

Liontin bertuliskan namaku, sangat indah dan elegan. Aku terpana menyaksikan momen ini. Afif nembak aku??

“Fif, kamu udah lama kenal sama aku. Kamu udah hafal betul bagaimana sifatku, apa saja kekurangan dan kelebihanku, kebiasaan-kebiasaan burukku dan semua kesukaanku. Aku selalu menceritakan semuanya sama kamu. Aku benar-benar bersyukur punya sahabat sepertimu di hidupku.”, jawabku.

“Mmm .. aku mengerti. Nggak usah khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu dan selalu menjadi sahabat terbaikmu.”, kata Afif sedikit membuatku merasa bersalah.

“Ada orang yang hanya cocok menjadi sahabat ada pula orang yang cocok untuk menjadi pasangan.”, tambahku .

“Dan aku?”, tanya Afif.

“Kau cocok untuk menjadi sahabat saat aku bercerita, cocok untuk menjadi ayah saat aku butuh perlindungan, cocok menjadi anak kecil sebagai teman bermainku, dan sebagai pasangan untuk berbagi pendapat.”, jawabku sambil tersenyum.

Wajah Afif sangat lugu saat dia terperangah mendengar jawabanku.

“What’s that mean?”, tanyanya dengan senyum sumringah.

“Yes, I do”