The Answer is Yes



The Answer is Yes

Bulir embun merangkak di atas dedaunan. Kabut masih menyelimuti gedung-gedung pembelah cakrawala. Di sini, di antara barikade gedung-gedung gagah, aku duduk di bawah teralis coffee shop bernuansa vintage, menyeduh secangkir Cappuccino pesananku. Sudah menjadi ritual bagiku untuk mengawali hari dengan meneguk kafein yang memiliki cita rasa yang khas ini.

Entah kenapa hari ini Coffee Radish penuh sesak dengan para pelanggan, sehingga di sinilah aku berakhir, di beranda Coffee Radish memandang hamparan gedung-gedung pecakar langit di bawah lereng bukit.

Angin berhembus menghasilkan melodi merdu dari gesekan ranting pohon, burung-burung bersajak bersahut-sahutan, desis mesin kopi samar-samar terdengar, menyajikan suara yang khas di telinga diselingi tawa renyah dan obrolan para pelanggan bagai alunan yang menyejukkan hati. Ditambah dengan aroma biji kopi yang baru dipanggang, menambah ketenangan di pagi hari sebelum disibukkan dengan rutinitas kuliah.

‘Klinting’ , lonceng pintu Coffee Radish berbunyi. Ada seorang pemuda berperawakan tinggi, tegap, sedang berjalan menuju ke arahku, sepertinya dia tidak dapat tempat duduk sama sepertiku.

Dia mengenakan kaos putih yang dilapis dengan kemeja tartan biru dan celana jeans hitam. Terlihat tas gitar terselempang di bahunya yang tegap.

Tanpa sadar aku melambaikan tangan padanya dan mengisyaratkan bahwa kursi di depanku kosong. Perlahan dia berjalan menghampiri mejaku, “May I?”, tanyanya sopan. Dia memiliki suara yang halus dan lembut, batang hidungnya tinggi dan memiliki mata yang teduh, rambutnya tertata rapi dan tidak gondrong.

“Uh, Ya .. ya .. silahkan”, tak biasanya aku gugup saat berbicara dengan orang lain.

Perlahan dia menuangkan Americano di atas gelato miliknya, menghasilkan desis yang sangat merdu di telinga. Setelah menikmati beberapa suap Affogato nya itu, dia menatapku dan tersenyum.

“Kamu mahasiswa Institut Seni ya?”, tanyanya ringan.

“Hmm .. tau dari mana?”, aku sedikit bingung karena dia tahu kampusku. Dia tertawa kecil lalu menunjuk ke arahku.

“Jas almamater …”, katanya sambil tersenyum melihatku.

“Anak sniper juga ya?”, sambungnya sambil menatapku teduh.

“Iya, kok kamu tau banyak sih?”, kali ini aku benar-benar terkejut, karena tidak ada identitas yang menunjukkan bahwa aku anak fakultas seni pertunjukan di jas almamaterku kecuali sebuah pin, itu pun hanya anak fakultas seni pertunjukkan yang memiliki dan mengetahui tentang pin ini.

Lalu. Pemuda tersebut mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Astagaaaa, kamu satu fakultas sama aku?? Satu universitas jugaa??!”, sontak saja aku terkejut saat dia mengeluarkan jas almamaternya. Dia hanya tertawa kecil melihat tingkahku.

“Iya, aku mahasiswa tahun ke tiga. Kenalin, namaku Afif.”, dia menyodorkan tangannya padaku. “Kenalin, namaku Ai, mahasiswa tahun ke tiga juga.”, kataku sambil menyambut tangan Afif.

“Pantas kamu tau Universitas sama fakultasku, ternyata kamu juga mahasiswa di sana.”, akhirnya rasa canggung yang muncul dari tadi telah hilang.
 
“Hmm .. tapi aku nggak pernah liat kamu di kampus. Sering bolos yaaa?”, kata Afif dengan nada mengejek.

“Tcchhh …. Enak aja … aku mahasiswa teladan tau …. . Aku lebih sering di Perpustakaan sama di Auditorium atau nongkrong di studio musik kampus kita”.

 “Oooouuhhh murid teladan niih .. hahaha.”, ejek Afif sambil mengusap kepalaku, ah, merusak tatanan rambutku lebih tepatnya.

Anehnya aku tidak merasa takut, canggung atau pun marah pada Afif, padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya, meskipun dia satu fakultas denganku tapi baru pertama kali ini kami bertatap muka. “Heeeiiiihhh ..” gerutuku seraya merapikan tatanan rambutku. Afif hanya tersenyum menatapku.

“Hey, kamu sering ke sini?? Fif?”, pertanyaanku tak mendapat jawaban, rupanya Afif sedang dalam dunia nya saat ini a.k.a ‘melamun’. Oh, dia menatapku! Sedikit menakutkan melihat dia melamun tapi pandangannya tertuju padaku.

“Hey! Fif?? Jangan ngelamun! Masih pagii niiih.”, akhirnya dia tersadar dari lamunannya saat aku menyentikkan jariku di depan wajahnya. “Eh, iyaa?? Siapa yang ngelamun?? Kenapa tadii??”. “Hmm, kamu sering ke sini?”, aku terpaksa harus mengulang pertanyaanku.

Sebenarnya ingin sekali aku menanyakan kenapa dia menatapku seperti itu, tapi aku tak ingin merubah suasana akrab kami menjadi canggung lagi. “Uh, sekarang aku jarang ke sini.”, jawabnya sambil mengaduk Affogato nya yang hampir meleleh seluruhnya.

“Sekarang? Kalau dulu?” tambahku. “Dulu aku sering ke sini sama someone, hampir setiap hari kita habisin waktu bareng di sini.” . “Terus kenapa jadi jarang ke sini?” , entah kenapa aku sangat penasaran sama cerita Afif.

“Someone itu udah ngga ada”, Afif menjawab dengan nada yang sendu, membuatku merasa bersalah karena ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.

Harusnya aku tak menanyakan hal itu lebih lanjut. “Oh, maaf Fif. Aku nggak tau kalau dia udah meninggal. Beneran, aku nggak maksud bikin kamu flashback.”. Afif justru tertawa kecil mendengar perkataanku.

“Haha, dia ngga meninggal kok. Dia berubah jadi orang asing bagiku.”, Afif menjawab sambil tersenyum, tapi aku tahu dalam hatinya ada luka yang sangat dalam. Sepertinya someone yang sering menghabiskan waktu di Coffee Radish bersama Afif ini sangat berarti untuknya.

“Uh, aku lah yang buat dia jadi orang asing.”, sambung Afif. Kali ini, raut wajahnya tidak lagi menunjukkan sedikit pun lekukan pada bibirnya yang hanum itu. Dia menatap dan mencengkeram erat cangkirnya. Terlihat jelas sebuah penyesalan yang besar dalam hatinya saat ini.

Tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibirnya. “Uh, maaf maksudnya gimana ya? Kamu ngusir dia ke luar negeri??”, aku berusaha untuk menghidupkan suasana, aku ingin melihat Afif seperti tadi saat kita berkenalan. “Pppft … Eiiiiihh sudahlah kamu nggak akan ngerti.”, Afif lagi-lagi melancarkan serangannya ke rambutku yang malang.

Akhirnya, lekuk indah terukir di kedua bibirnya. “Apanya yang mahasiswa teladan? Omongan begitu aja nggak ngerti.”, sepertinya aku salah telah mengembalikan Afif ke keadaan semula, alhasil aku jadi bahan olokannya lagi.

“Tapi, bagaimana pun juga aku senang. Karena dia masih hidup dengan baik dan bahagia, dia pasti telah mendapat banyak cinta dari orang-orang di sekitarnya.” . Mood nya telah benar-benar kembali bagus, aku senang untuk itu.

Kami bercerita banyak sekali, mulai dari makanan favorit, lagu kesukaan, idola, alat musik, film kesukaan, dan masih banyak lagi. Ternyata kami punya cukup banyak kesamaan, entah kenapa aku merasa sangat nyaman berbincang dengan Afif.

“Oh! kayaknya kita telat nih!”, aku baru sadar saat melihat jam tanganku.

“Ayo berangkat! Mau bareng?”, Tanya Afif.

“Eung … aku bawa motor kok”.

Saat membayar di kasir, tiba-tiba Afif meyerobot. “Kayak biasa, sama pesanan cewe ini ya”, Afif menyodorkan kartu kreditnya ke Tony, kasir sekaligus barista di Coffee Radish. Orangnya ramah, jemari-jemarinya sangat terampil meracik kopi, cekatan juga rajin. Aku sering ngobrol dengan Tony, orangnya asik dan juga seorang pendengar yang baik.

“Aku yang bayar ..”, kata Afif sambil tersenyum padaku. Apa boleh buat, karena kartu kreditnya sudah tergesek di mesin kasir, aku hanya bisa tersenyum.

Lagi-lagi Afif meyerobot secepat kilat dan membuka pintu Coffee Radish. “Lady first”, katanya saat membuka pintu. Tanganya memberi isyarat mempersilahkanku untuk keluar terlebih dahulu.
******
Ditemani remang-remang pijar lampu dan lantunan musik Mozart, aku masih harus menggoreskan pena di atas lusinan kertas pada pukul 02.00 WIB dini hari karena para dosen tercinta yang tak tanggung memberikan tugas untuk merangkum 3 Bab sekaligus. Dan megerikannya lagi, 1 Bab berisi 150 lebih halaman.

Tepat pukul 03.00 WIB aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku di atas pulau kapuk. Aku mengatur alarm dan mengecek handphone, siapa tahu ada seseorang yang merindukanku dan mengirimiku pesan. Selang beberapa menit, mataku tak sanggup lagi terjaga.
******
Berkas cahaya matahari telah merambat masuk ke kamarku, menerobos tirai tepat memapar wajahku. “Selamat pagi Ma.”, ucapku lalu memeluk mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan dari belakang. ‘Chuu’ aku melayangkan ciuman di pipi mama.

“Selamat pagi sayang.”.

“Selamat pagi Pa.”, aku memberikan salam pada papa, lalu mencium papa yang hanya bisa berdiam diri di dalam bingkai foto yang tergantung di dinding.

Meskipun hanya berdiam diri, senyum indah papa masih sangat hidup. Ya, papa sudah tiada saat aku berumur 5 tahun. Beliau meninggal saat ditugaskan ke Palestina sebagai dokter sukarelawan untuk membantu para korban perang di sana. Aku hanya bisa mengucap salam dan mencium foto papa setiap pagi.

Sepiring panekuk hangat yang baru diangkat dari pan dan disiram dengan madu di atasnya adalah menu sarapan paling lezat yang pernah kumakan. Apalagi panekuk buatan mama, tidak ada tandingannya.

“Oh ya Ma, Ai semalam mimpi aneh.”, kataku sambil melahap panekuk ku.

“Mimpi apa sayang?”

“Ai mimpi Ai sedang di rawat di rumah sakit, Mama menangis dan juga ada seorang pria di sana, tapi Ai nggak tau siapa, soalnya dia hadap belakang. Tapi kayaknya pria ini dekat sama Mama, soalnya dia meluk Mama gitu, buat nenangin Mama.”, Mendengar ceritaku, mama hanya terdiam menatapku. Bukan tatapan kosong, tapi lebih ke tatapan cemas. Mungkin ceritaku telah membuat mama khawatir akan kesehatanku.

“Kamu ngomong apa sih Ai? Jangan dipikirin ya! Itu cuma mimpi. Mama nggak akan biarin anak Mama satu-satunya masuk rumah sakit! Selesaikan sarapanmu terus berangkat kuliah gih, udah siang loh ini.” meskipun mama bilang kalau itu cuma mimpi, tapi mimpiku tadi benar-benar terasa sangat nyata.

“Ai berangkat ya Ma …”. Setelah melahap semua paket sarapan yang diberikan mama, aku langsung tancap gas, bukan ke kampus, tapi aku sempatkan mampir ke Coffee Radish untuk menuntaskan ritualku. Yup, meneguk secangkir Cappucino racikan tangan Tony.

Akhirnya aku mendapatkan kembali spot favoritku di Coffee Radish, di sebuah sofa beige disamping jendela Coffee Radish yang berhiaskan goresan-goresan glass painting para seniman Coffee Radish. Dari sini, para pelanggan dapat melihat langsung menuju jalanan yang tak seberapa padat lalu lalang kendaraan bermotor.

“Here you are. Special Cappucino just for Ai.”, Tony datang membawakan secangkir Cappucino panas ke mejaku. “Be careful! Still hot!”, tambahnya.

“Oh, apa ini? Bonus note? Heeeiih … tumben banget … mau ngomong apaan sih? Pakai note segala .. ngomong langsung kan bisa Ton.”

“Kepedean banget sih Lo.”, ejek Tony. “Itu bukan dari aku. Tadi Afif dateng pagi banget. Pas aku dateng, dia udah nunggu di kursi itu.”, Tony menunjuk sebuah kursi di sebelah Wall of Expression khas Cofee Radish. “Note itu dari dia, dia nitip aku. Katanya, kalau kamu udah dateng, suruh kasih ke kamu.”, sambungnya.

Huh? Secarik note dari Afif? Aku sangat penasaran akan isinya.

‘Let’s meet this evening at College’s Music Studio’

Begitulah isi note tersebut. Di bagian kanan bawah dari note tersebut, tertera pula ilustrasi wajah Afif sedang tersenyum. Sore ini, di studio musik kampus, mau ngapain?? Aku bertanya-tanya akan isi note tersebut. Sedikit rasa curiga dan banyak rasa senang saat ini dalam hatiku.

“Woy! Ngelamun terus … keburu dingin tuh!”, Tony menepukkan kedua telapak tangannya yang pucat di hadapanku, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Apa isinya?”, Tanya Tony.

“Ih kepoo deh Lo!”.

“Huuh dasaar … dah berangkat kuliah sono! Ngaret mulu kerjaan Lo!”, kata Tony sambil mengambil nampan dan beranjak ke belakang meja mesin-mesin kopi lagi.

Aku pun bergegas meneguk semua Cappucino yang tersisa di cangkirku. “Berangkat ya Ton!”. Tony hanya melambaikan tangan padaku, karena dia sibuk meracik kopi pesanan para pelanggan yang mulai ramai berdatangan.

Hari ini di kampus aku sangat merasa tidak bersemangat, kepalaku pusing dan banyak hal yang terjadi belakangan ini, mulai dari yang menyenangkan sampai yang benar-benar menyiksa. Bertemu Afif menjadi salah satu hal yang menyenangkan.

Satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan di kampus, adalah bertemu Afif sore ini. Kurang 1 jam lagi kelas dibubarkan, dan tepat pukul 3 sore ini, aku akan langsung melesat ke studio musik kampus.

‘beep beep beep’ bel tanda berakhirnya kelas sudah berbunyi, aku langsung memantapkan langkahku untuk berlari menuju studio musik, tempat di mana Afif mengajakku bertemu.

‘Sreek’ aku menggeser pintu studio perlahan, berusaha untuk tak menghasilkan sedikitpun suara. Studio sangat hening, tak ada satu pun orang di dalam sini. Perlahan aku memasuki studio lebih dalam, samar-samar terdengar melodi indah dari tuts-tuts piano. Langkahku mengikuti arah asal datangnya melodi yang indah itu. Semakin lama semakin jelas terdengar. Nada-nadanya sangat indah dan menenangkan, dimainkan dengan sangat apik dan rapi, sampai merinding aku dibuatnya. Tapi jelas sekali, bukan merinding saat kau merasakan hawa keberadaan makhluk ghaib.

Di ujung lorong, terdapat suatu ruangan yang di beri sekat sebuah rak buku klasik modern dari kayu. Terlihat sang maestro penghasil melodi-melodi yang memabukkan tadi.

Afif?? Aku terkejut saat menemukan bahwa ‘sang maestro’ itu adalah Afif. Yup, Afif lah yang memainkan piano dengan sangat rapi dan apik tadi, dia bermain seperti pianis handal. Dia sangat menghayati lagu yang tengah ia mainkan, tak sengaja aku melihat tetes air mata mengalir di tepi hidungnya yang tinggi itu.

Lagu yang dia mainkan saat ini sama sekali bukan lah lagu sedih, aku ingat sekali, aku sangat mengenali lagu ini, lagu ini sangat sering aku mainkan bersama … Afif?? Hah? Afif? Tiba-tiba muncul bayangan dalam kepalaku aku sedang memainkan lagu ini, di sini, bersama Afif.

Dejavu macam apa ini? Ada apa denganku? Apa aku menyukai Afif? Sampai-sampai berkhayal bermain piano bersama Afif. Apa ini tidak keterlaluan? Maksudku, baru kemarin aku bertemu Afif dan sudah jatuh hati padanya? Sampai mebayangkan hal-hal memalukan seperti tadi? Aku membeku, hanya bisa diam terpaku menyadari hal tak biasa itu. Tanpa kusadari, hangat tetes air mata membanjiri pelupuk mata ku, mungkin karena aku melihat Afif sangat menghayati sampai menitihkan air mata saat memainkan lagu ini.

“Ai! Kenapa nggak langsung masuk?”, mungkin aku akan menangis jika Afif tidak menyadarkanku.

“Uh .. hmm … anu .. aku nggak mau rusak konsentrasimu.”, jawabku terbata-bata. Aku masih bingung akan dejavu yang barusan ku alami.

“Oh, kamu lihat ya? Haha ini bukan lagu sedih, tapi nggak tau kenapa sekarang aku nangis tiap kali main lagu ini. Lagu ini ngingatin aku sama seseorang.”.

“Orang yang sama yang kamu bilang pas di Coffee Radish?”.

“Uhmm …”, Afif menganggukkan kepalanya. Orang yang sering menghabiskan waktu bersama Afif di Coffee Radish dan orang yang membuat Afif menitihkan air mata saat memainkan lagu tadi ternyata adalah orang yang sama.

“Hey! Sini!”, Afif menyuruhku untuk duduk di sampingnya.

“Aku nggak bisa main piano Fif. Aku pegang tuts piano aja nggak pernah.” .

“Bisa kok, pasti bisa!”, Afif memaksaku untuk duet main piano dengannya. Dia mengajariku kunci dasar piano dan cara menekan tuts-tuts piano dengan sangat sabar.

Kami memainkan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’ sebagai permulaan. Aku rasa aku cukup berbakat dalam bermain piano. Aku merasa jari-jariku bergerak secara refleks, seperti aku sudah lama bermain piano.

Setelah meyelesaikan beberapa lagu, kami sampai pada lagu ‘Happy – Pharrell Williams’ tak lain dan tak bukan lagu yang berhasil membuatku merinding tadi, sekaligus lagu yang membuat Afif menangis.

Jemariku tak bisa berhenti, mereka terus memainkan tiap nada dengan sangat rapi, benar-benar terasa seperti aku telah handal bermain piano. Kami berdua memainkan lagu dengan sangat kompak dan harmonis. Entah kenapa aku merasa sangat senang, dadaku terasa panas, aku ingin menangis, tangisan bahagia, melihat Afif sangat bahagia dan menikmati lagu ini, sangat berbeda saat aku melihatnya tadi bermain sendirian.

Dejavu itu datang lagi, bayangan aku sedang bermain lagu yang sama, di tempat yang sama, dengan suasana yang sama, bersama Afif. Tapi aku tak menghiraukannya, aku tidak ingin merusak moment berharga ini.

“Gimana? Bisa kan main piano? Udah hebat pula ..”, kata Afif saat kami menuju tempat parkir.

“Hahaha iyaa dong, namanya talenta nih ya gini dah, belajar sebentar langsung pro”, celotehku.

“Sok banget kamu”. Untuk sekian kalinya, Afif merusak tatanan rambutku.
Kemudian dia melingkarkan lengannya di bahuku, membuat telingaku mendengar detak jantungnya. Aku tahu dia tinggi, tapi tak kusangka dia akan setinggi ini dari dekat. Tinggiku hanya sebahunya saja.

Afif mengantarku sampai parkiran. Uhm, benar-benar sampai depan motor ku lebih tepatnya.

“Makasih ya Fif, udah ajarin aku main piano. Makasih juga udah ngantar sampai sini.”.

“Mmmm .. enjoy ajaa.”.

“Kamu duluan aja, nggak apa kok”, kataku karena Afif tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

“Uh? Nggak apa kok, aku pastiin dulu kamu pulang, baru aku pergi.”, jawab Afif.
 Sungguh, saat ini jantungku berdebar, darahku mengalir cepat, apa ini yang namanya jatuh cinta? Saat kau menerima perhatian khusus dan tubuhmu merespon dengan menghasilkan energi aneh yang membuatmu merasa sangat bahagia? Jika ya, berarti aku sudah jatuh cinta sama Afif.

“Hahahaha kok bisa ban motormu bocor?” .

Malu setengah mati aku, saat aku menghidupkan motorku tadi, ternyata banku bocor entah terkena apa dan di mana. Untung Afif masih nunggu aku, jadi dia menelfon bengkel langganannya untuk membawa motorku. Alhasil, aku diantar pulang naik mobilnya.

“Nggak tau juga tuh motor kenapa. By the way, makasih banget ya udah mau repot-repot ngantar aku pulang.”, ujarku.

“No problem! Nggak usah bilang makasih kalii … kayak orang lain aja.”
Rute menuju rumahku memang agak sulit, karena harus melewati tebing yang cukup curam. Don’t blame me! Bukan salahku memiliki rumah yang menyusahkan orang lain untuk mengantar pulang.

“Mau putar lagu?”, tanya Afif.

“Yes, please!”. Sejauh ini, tidak ada diantara kami yang bersuara. Tidak ada suara selain lagu Talking to The Moon yang dinyanyikan Bruno Mars. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi Afif saat mengemudi.

Saat melewati terowongan, lagi-lagi aku mengalami dejavu. Setiap hari aku pasti melewati terowongan ini, dan tak pernah sekalipun aku mengalami dejavu seperti saat ini.

Terlintas bayangan aku sedang mengendarai mobil putih dengan kecepatan yang sangat tinggi melintasi terowongan ini, entah apa penyebabnya tapi aku “di sana” sedang menangis. Bayangan itu hanya terlihat sekilas. Akhir-akhir ini aku sering mengalami dejavu yang sangat aneh, dan jujur saja itu sedikit membuatku ketakutan.

Aku berpikiran untuk menceritakan hal ini ke Afif, tapi saat melihat wajahnya saat ini, lagi-lagi sepenggal “penglihatan” itu muncul lagi. Kali ini, Afif membelakangiku, hanya terlihat punggungnya yang berjalan menjauh. Sebenarnya ada apa ini?? Kenapa denganku? Kenapa aku mengalami dejavu seaneh ini? Dan kenapa Afif ada di dalamnya? Karena “penglihatan itu”, aku mengurungkan niat untuk memberi tahu Afif tentang hal-hal aneh yang kualami belakangan ini.

Ketakutanku memuncak saat kami tengah menyusuri tebing yang cukup curam. Afif tiba-tiba mengerem mobilnya, membuat tubuhku terhempas ke depan.

“Kenapa Fif?? Jangan ngerem mendadak gitu dong!”. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Selama perjalanan tadi, bayangan saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan bayangan Afif yang membelakangiku terus terputar di kepalaku seperti film sudah cukup membuatku ketakutan, ditambah Afif berhenti mendadak berhasil membuatku jantungan.  

Pandangan Afif terpaku ke depan, nafasnya tersengal-sengal, kringat dingin membasahi keningnya.

“Ada… hhh ..  di depan … ada kecelakaan di depan … kecelakaan hebat ..”, kata Afif dengan nafas tersengal-sengal.

Aku memberanikan diri untuk melihat kecelakaan yang terjadi tepat di depan mobil kami. Perlahan aku mulai menghadapkan wajahku ke depan. Mataku terbelalak, sungguh kecelakaan paling mengerikan yang pernah kulihat. Sebuah mobil putih telah remuk tak berbentuk tertabrak sebuah truk yang besar.

‘BOOM!!’ tak lama mobil putih tersebut meledak dan terbakar. Aku hanya terbelalak, tak bisa berkata apa-apa, pelupuk mataku panas, kini bayangan-bayangan itu datang lagi, berurutan, jelas, dan sangat nyata.

Playback

16 September 2013 ….
‘Drrrttt …drrrrttt’ handphoneku bergetar, ada LINE masuk rupanya. Afif, “Ketemuan yuk! Ada sesuatu yang mau aku omongin, aku tunggu jam 3 sore ini di pinggir tebing biasa ya.”. Begitu isi LINE yang Afif kirim. Dia pasti ingin memberi kejutan di hari spesialku ini.

Oh, masih jam 10 rupanya. Aku ingin terlihat menawan saat bertemu dengan Afif hari ini, jadi kuputuskan untuk pergi ke mall membeli dress baru, kemudian ke salon untuk 
perawatan diri. Aku ingin terlihat spesial di hadapan Afif.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membeli baju dan mempercantik diri di salon, aku siap untuk bertemu Afif. Mengenakan mini dress berwarna putih polos, hanya ada pita hitam lebar yang melingkar di pinggul sebagai hiasannya, sepatu heel putih dan rambut yang kubiarkan terurai.

Mama sedang ada urusan hari ini, jadi aku diijinkan naik mobil untuk keperluanku. 
Aku menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarainya.

Sudah pukul 15.30 WIB namun Afif tak kunjung datang. Sudah setengah jam aku menunggu di sini, di bawah pohon maple, di tepi tebing tempat kami biasa bertemu.

Kami suka melihat pemandangan dari atas sini, hamparan gedung, perumahan, perkebunan, dan lautan manusia bisa kami lihat dengan jelas. Saat malam, pijar lampu dari perumahan penduduk dan gedung-gedung tinggi, juga lampu-lampu kendaraan bermotor yang lalu lalang terlihat bagai ribuan bintang yang diapit oleh pegunungan dan perbukitan. Ditambah sebuah pohon maple yang sangat jarang ditemukan di Indonesia, tumbuh dengan subur di tepi tebing ini.

Tak lama kemudian, aku melihat sosok pria tinggi mengenakan sweater berwarna navy sedang berjalan ke arahku. Cara berjalannya tegap dan langkahnya panjang.
Akhirnya  Afif datang walaupun sudah terlambat 40 menit dari waktu yang dia janjikan.

“Hai, maaf telat.”, katanya.

“Hmmm … nggak apa kok. Aku juga baru dateng.”. Afif terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tak ada secercah pun cahaya yang terpancar dari wajahnya yang tampan itu.

“Hei! Nggak usah tegang gitu dong. Aku barusan dateng, serius deh!”, celotehku sambil melayangkan tinju kecil ke bahunya. Aku bermaksud untuk merubah suasana hatinya, namun air mukanya tak berubah.

Afif menatapku dengan tajam tepat ke mataku, lalu menghela nafas dalam sebelum berkata sesuatu. “Gimana progress asmaramu sama Rexy?”.

“Asmara apaan? Kamu jangan ngaco ya Fif. Aneh-aneh aja.”, aku sangat terkejut saat Afif berkata seperti itu. Kenapa dia menyinggung soal Rexy dan bukannya memberikan surprise untukku.

“Ai! Aku nggak suka kamu deket-deket sama Rexy! Pokoknya kamu harus jauh-jauh dari dia!”, kata Afif dengan nada yang agak tinggi.

“Kamu kenapa sih Fif? Nggak jelas banget deh, dateng-dateng nyuruh aku jauhi Rexy. Memang kenapa kalau aku deket sama Rexy?”. Aku sangat terkejut, tak biasanya Afif berbicara dengan nada tinggi padaku. Mataku terasa panas, dadaku sesak dan aku tak bisa bernafas dengar normal, rasanya seperti sesuatu membekap hidungku.

“Soalnya aku tahu sifat Rexy itu gimana. Dia nggak baik buat kamu!”.

“Terus, yang baik buat aku gimana? Memangnya kamu tahu? Yang menurutmu nggak baik, belum tentu nggak baik juga buat aku. Memang kamu siapa berhak ngatur masalah pribadiku?”.

Tanpa kusadari, aku tersulut emosi. Bukan karena Afif yang sok mencampuri urusanku, tapi karena Afif yang membawa orang lain dalam percakapan yang harusnya hanya berisi tentang aku dan dia.

“Ooooh .. jadi selama ini kamu nggak anggap aku siapa-siapa dalam hidup kamu? Selama bertahun-tahun aku selalu ada di sampingmu dan itu semua nggak ada artinya di mata kamu??”, kata Afif dengan nada yang bertambah tinggi. Wajah Afif merah padam, matanya merah menahan air mata.

Apa yang telah kukatakan? Kejahatan macam apa yang telah kuperbuat sampai-sampai membuat pria yang selalu ceria di hadapanku kini menangis di hadapanku.

“Bukan … bukan itu maksudku Fif ..”.

“Sudahlah, sekarang aku tahu posisiku di mata kamu. Orang asing.”

Setelah megucapkan kalimat terakhirnya itu, Afif melangkah membelakangiku. Hanya terlihat punggungnya yang berjalan menjauh. Aku hanya menatap Afif dari tempatku berdiri, berharap dia akan berbalik dan mengatakan bahwa semua ini hanya kejutan yang dia persiapkan. Afif semakin menjauh dan tidak menunjukkan pergerakan bahwa dia akan berlari kembali ke arahku.

“Afif!! Kalau kamu terusin langkahmu, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi!! Aku akan anggap kita benar-benar dua orang asing yang nggak saling kenal!!”, teriakku berharap Afif berhenti. Air mataku tak bisa ku bendung lagi. Afif tak mengurangi kecepatan langkahnya sedikit pun. “Afif!! Pliss … berhentii Fif … Pliss .. jangan biarin kita jadi orang asing Fif ..”, isakku.

Perasaanku tercampur aduk. Air mata mengalir deras di wajahku, dadaku sesak, darahku memanas. Aku kehilangan kendali diri, aku mengendarai mobil dengan kecepatan 150 km/jam. Aku sangat terpuruk karena kejadian tadi, berulang kali kuhantamkan tubuhku ke jok mobil. Kulepaskan kemudi dan memejamkan mata saat melewati terowongan, berusaha untuk menenangkan diri.

Saat aku membuka mata, aku hanya bisa terperangah karena sebuah truk besar melaju dengan cepat ke arahku. ‘BOOM!!’

Playback End

“AAARRGGGHHH!!”, aku teriak sambil meremas rambutku. Aku masih tidak percaya akan segala hal yang baru saja berdesakan masuk ke dalam kepalaku.

“Shhh .. shhh … nggak apa, aku ada di sini  sekarang. Kamu nggak perlu takut.”, tiba-tiba kehangatan muncul dari dekapan Afif. Entah aku harus berterima kasih atau marah pada Afif saat ini.

“Antar aku pulang sekarang.”, ujarku melepas dekapan Afif.
Turun dari mobil, Afif mengantarku sampai ke depan pagar.

“Aku udah ingat. Siapa aku, siapa kamu, apa yang udah terjadi sampai aku lupa semuanya dan ingat alasan yang bikin aku lupa semuanya.”, ujarku.

“Uh? Kapan? Sejak kapan kamu ingat semuanya?”.

“Tadi waktu lihat kecelakaan, semua bayangan muncul di kepalaku.”, aku masih sangat syok akan kenyataan ini.

“Setelah kamu menghilang selama ini, sekarang kamu muncul lagi? Mengukir kenangan baru sebagai orang baru? Kamu manfaatin hilangnya ingatanku ini buat deket lagi sama aku?? Kenapa? Kamu ngerasa bersalah?? Harusnya kamu balik ke aku waktu itu di tebing!!”, aku mengeluarkan semua pertanyaan yang sejak tadi ku simpan selama perjalanan. Tanpa sadar aku menitihkan air mata.

“Bukan seperti itu Ai, aku bisa jelaskan semuanya sama kamu.”.

“Aku minta kamu pulang sekarang, makasih udah ngantar aku. Tolong jangan temui aku dulu.”.

“Maaf”

Sepatah kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan Afif padaku.

Sudah berminggu-minggu aku mengunci diri di kamar. Mencari penggalan-penggalan ingatanku yang hilang setiap hari. Setiap hari pula, mama masuk ke kamar membawa bucket bunga dari Afif. Setiap hari dengan bunga berbeda dan kartu ucapan yang berbeda perlahan-lahan berhasil membuatku memaafkan Afif. Sore ini, kami telah membuat janji untuk bertemu di Coffee Radish.

‘KLINING’ aku membuka pintu Coffee Radish dan melihat Afif telah duduk di spot favoritku dan telah memesankan secangkir Cappucino untukku.

“Hai!”, Afif melambaikan tangannya.

“Hai, sudah lama nunggu?”, tanyaku.

“Nggak, baru nyampai kok”. Kami duduk berhadapan, namun tak ada stu pun yang memulai pembicaraan. Akhirnya, aku mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan, karena aku lah yang meminta Afif untuk datang ke sini.

“Ummm lama nggak ketemu ya. Gimana kabarmu?”, tanyaku.

“Iya, baik kok. Makasih. Gimana kabarmu?”.

“Luar biasa.”, jawabku sambil tersenyum padanya.

“Waktu itu di tebing aku benar-benar minta maaf.”

“Nggak apa kok Fif, aku udah maafin kamu.” 

“Tunggu dulu, biar aku lanjutin dulu. Aku benar-benar nggak bermaksud buat marah sama kamu. Waktu itu aku cuma mau bikin kamu nangis sebelum aku kasih surprise ulang tahunmu. Aku ngikuti kamu waktu kamu ngebut, aku udah klakson kamu berulang kali, agar kamu kurangi kecepatan mobilmu. Tapi kamu nggak kurangi kecepatan mobilmu sedikit pun. Aku sangat khawatir waktu itu, dan aku sangat syok saat melihat kamu tertabrak di depan mataku. Aku hampir hilang harapan, sampai aku lihat kalau kamu masih selamat. Aku langsung keluarin kamu sebelum akhirnya mobilmu meledak. Ai, aku benar-benar minta maaf. Karena aku, kamu harus dirawat di rumah sakit selama 3 bulan dan harus kehilangan ingatanmu.”

Afif menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Aku sangat berterima kasih karena Afif  mengeluarkanku dari dalam mobil saat kecelakaan itu.

“Aku selalu ada buat kamu Ai. Bahkan setelah kecelakaan. Aku udah janji ke mama kamu buat jadi orang asing bagimu. Bukan mamamu yang menyuruh, tapi aku sendiri yang ingin melakukannya, karena aku nggak ingin setiap kali kamu ngelihat aku, kamu akan teringat kecelakaan itu. Juga, aku nggak tahan kalau harus melihat wajahmu, itu selalu membuatku merasa bersalah. Kita sering bertemu, tapi aku memutuskan untuk menjauh. Tiap kali kita berpapasan di kampus, aku selalu memalingkan wajahku. Aku berusaha sebisaku agar tak terlihat olehmu.”, sambung Afif.

Ternyata selama ini, Afif tetap ada di sampingku walaupun aku ngga tahu.

“Aku ngerti Fif, dan aku udah maafin kamu kok. By the way, surprise apa yang mau kamu kasih ke aku waktu itu?”

Afif mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan berlutut di depanku. “Will you be my girlfriend?”, ucap Afif sambil memperlihatkan isi kotak merah jambu yang di bawanya.

Liontin.

Liontin bertuliskan namaku, sangat indah dan elegan. Aku terpana menyaksikan momen ini. Afif nembak aku??

“Fif, kamu udah lama kenal sama aku. Kamu udah hafal betul bagaimana sifatku, apa saja kekurangan dan kelebihanku, kebiasaan-kebiasaan burukku dan semua kesukaanku. Aku selalu menceritakan semuanya sama kamu. Aku benar-benar bersyukur punya sahabat sepertimu di hidupku.”, jawabku.

“Mmm .. aku mengerti. Nggak usah khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu dan selalu menjadi sahabat terbaikmu.”, kata Afif sedikit membuatku merasa bersalah.

“Ada orang yang hanya cocok menjadi sahabat ada pula orang yang cocok untuk menjadi pasangan.”, tambahku .

“Dan aku?”, tanya Afif.

“Kau cocok untuk menjadi sahabat saat aku bercerita, cocok untuk menjadi ayah saat aku butuh perlindungan, cocok menjadi anak kecil sebagai teman bermainku, dan sebagai pasangan untuk berbagi pendapat.”, jawabku sambil tersenyum.

Wajah Afif sangat lugu saat dia terperangah mendengar jawabanku.

“What’s that mean?”, tanyanya dengan senyum sumringah.

“Yes, I do”



0 komentar:

Posting Komentar