Sebulan lagi, kami akan menghadapi Ujian Nasional. Kepala sekolah mengharuskan semua murid kelas 3 untuk mendapatkan kelas tambahan sepulang sekolah.
Tak jarang kami harus pulang ke rumah larut malam. Semua berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik dan masuk ke Universitas terbaik di Indonesia.
‘RING DING DONG’
Bel berakhirnya kelas tambahan sudah berbunyi. Hari sudah gelap, jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini kami pulang lebih larut dari biasanya. Semua beranjak meninggalkan kelas.
“Lo nggak pulang lagi Din?”, suara lembut dari belakang yang diiringi dengan tepukan di pundak kiri ku membuatku terkejut.
“Pulang lah Sel, tapi nanti dulu. Aku mau belajar sebentar lagi.”
“Hmmm sebentarnya Lo tuh sampe besok pagi Din. Yaudah gue pulang duluan ya. Jangan dipaksain, Lo juga harus jaga kesehatan, bentar lagi kita UN loh.”
“Iya, makasih Sel. Hati-hati ya kamu di jalan.”
Sella meninggalkan ruang kelas sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Sekarang benar-benar aku sendiri yang masih tinggal di kelas, ditemani bertumpuk tumpuk buku yang telah menanti untuk di baca, suara goresan-goresan pena dan kopi kotak rasa frech vanilla kesukaanku.
Aku rasa hari ini aku akan pulang jam 11 lagi. Ibu sudah tahu kalau aku pulang larut, berarti aku masih ada di sekolah. Ibu sangat perhatian dan menganggap anak-anak panti sebagai anaknya sendiri.
Tanpa terasa sudah pukul 11 malam.
Sudah waktunya untuk pulang.
Meskipun aku masih ingin berkutat dengan buku-buku dan pena ku, namun aku harus pulang.
Kasihan Ibu. Padahal sudah ku katakan berkali-kali kalau tak usah menungguku, tapi Ibu masih sering menungguku sampai pulang, terlelap di sofa ruang tamu, menanti salah satu anaknya untuk kembali ke rumah, memastikan tak ada satu pun dari kami tidur kedinginan di luar rumah.
Ibu menyediakan kehangatan yang lembut untuk kami, menyediakan rumah untuk kembali, menyediakan sandaran untuk berbagi, mengajarkan kami untuk mengasihi.
Aku berlari terburu-buru, menyusuri lorong demi lorong STAVLENNYA.
Untung saja sekolah kami tak menakutkan di malam hari, banyak petugas keamanan yang masih mondar-mandir mengecek satu per satu ruang kelas. Lampu-lampu juga tidak pernah di matikan.
“Begadang lagi Din?”, sapa Pak Herman. Beliau adalah petugas keamanan sekaligus teman ngobrolku kalau aku pulang telat. Pak Herman sering menghampiriku ke kelas dan memulai pembicaraan denganku.
“Iya Pak, ini kemalaman. Saya duluan ya Pak.”, jawabku sambil terus melesat diantara lorong-lorong, tak mengurangi sedikit pun kecepatan langkahku.
‘TES TES TES’ awan menumpahkan bulir-bulir hujan ke bumi.
Dari tetes-tetes kecil, kemudian turun dalam jumlah yang banyak, dengan kerapatan yang rapat. Tidak deras, namun cukup membuatmu basah kuyup dalam waktu 5 detik.
“Aduh, kenapa harus di saat seperti ini? Sudah terlalu larut kalau harus menunggu hujannya reda.”, gumamku.
Langkahku terhenti di depan gedung sekolah. Dari sini ke gerbang lumayan untuk membuatku basah kuyup meskipun berlari.
“Loh? Mana payungku?”, aku membongkar semua isi tas ku, mengaduknya, namun payung biru ku tidak ketemu. Akhirnya aku nekat untuk lari ke depan gerbang.
Bodohnya aku, aku tak memperkirakan waktu yang akan kuhabiskan untuk menunggu bus datang.
Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh, tak bisa kalau di tempuh dengan jalan kaki. Untung saja masih ada bus yang beroperasi jam segini.
Tapi, sekarang bagaimana? Aku harus menunggu bus itu dulu. Dan sekarang aku sudah berada di depan gerbang, tanpa payung, sendirian, diterpa hujan.
Ah sial, sial sekali. Lagi-lagi hujan membuatku dalam masalah. Aku mengumpat, memejamkan mata, sampai tak menyadari kalau hujan sudah berhenti.
“Eh? Sudah berhenti? Tapi kok?”, aku membuka mataku perlahan.
“Loh loh loh! Kok di sebelah sana masih hujan??? Kok di sini nggak??”, aku terperangah melihat kejadian di depan mataku itu.
Aneh. Aneh sekali. Di luar akal sehat manusia.
“Ehem.”, dehaman pria di sebelahku membuatku merinding.
Kaget. Spontan, ku luncurkan serangan-serangan ke pria itu dengan tas ku. Pria tinggi, mengenakan jaket hoodie hitam dan suaranya yang berat dan dalam cukup membuktikan kalau dia bukan orang baik-baik.
Mana ada orang yang keluar jam segini dengan pakaian seperti itu kalau dia bukan orang jahat?
“Eh eh stop! Saya bukan orang jahat!”
“Alasan kamuu. Sana pergi jauh-jauh dari ku! Mana ada penjahat yang mau ngaku??”
“Iya iya, yaudah saya pergi!”
Seiring dengan langkahnya yang bergesar menjauh, tubuhku kembali terguyur hujan. Ternyata dia yang memberiku tumpangan payung tadi.
Aku merasa tak enak hati, namun bibirku spontan melarangnya pergi.
“Eh eh jangan! Jangan pergi! Sini balik!”, duh sungguh malu aku. Dasar mulut tak tahu diri.
Tapi pria itu dengan senang hati kembali memberiku tumpangan payung.
“Maaf, ku kira kamu orang jahat. Udah jam segini masih keluyuran di luar. Pakai baju hitam-hitam lagi.”, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan dengannya, karena aku merasa bersalah sudah memukulinya seperti tadi.
Sesekali aku memandangnya dari samping. Baru kelihatan kalau dia menenteng sebuah tas yang berlogo basket. Anak basket? Tanyaku dalam sunyi. Pantas saja badannya tinggi dan tegap, lengannya terlihat kuat, perutnya ramping, dan kakinya terlihat kokoh.
“Kalau gitu, ku kira kamu kuntilanak, jam segini keluyuran di luar, pakai baju putih-putih lagi.”
Pria ini, memiliki selera humor yang lumayan juga. Dari tadi, selama kami berbincang tak ada satu pun dari kami yang saling menatap atau pun memperlihatkan wajah kami. Kalau aku, terlalu malu tentunya. Entah apa alasan pria ini.
“Yaudah nih, aku harus pulang cepat-cepat. Udah terlalu malam.”, kata pria itu sambil mengarahkan tanganku untuk mengambil payungnya.
Kemudian dia berlari, menghilang di antara hujan, memberi kenangan indah walau sesaat.
Dia orang yang mengajakku bicara selain Sella. Di pertemuan pertama, sungguh memberikan kesan yang berarti untukku.
Aku hanya menatapnya dari sini. Berharap kalau dia kembali. Ku harap ada sesuatu miliknya yang tertinggal.
Menemaniku sampai bus ku datang, menghabiskan waktu berdua, mengobrol, di tengah rinai hujan, di bawah payung hitam.
Deruman bus membuyarkan khayalanku.
Aku melipat payung hitam, melangkah masuk ke dalam bus, duduk di bangku ke 5 di samping jendela, menatap tempat dimana aku dan dia berbincang yang samar-samar terlihat, tertutup bulir-bulir hujan yang mengalir di jendela bus.
Dia, yang tak ku ketahui siapa dan bagaimana rupanya, mampu memberikan kesan pertama yang begitu indah dan menyenangkan.
Hanya beberapa kalimat yang kami ucapkan, cukup untuk membuatku penasaran dan terbayang-bayang.
Dia, siapa?
0 komentar:
Posting Komentar