Chapter 1 : Lampu Jalan
'SRAASSH'
langkah kecilku berderap melawan lebatnya hujan dan dinginnya malam itu.
Seorang diri.
Di tempat antah brantah yang
tak ku ketahui. Dibawah remang pijar lampu jalan, aku berdiri, melawan dingin
yang menusuk, berharap seseorang yang melewati ruas jalan yang sepi itu sudi
untuk membawaku bersama mereka.
Angan tinggal angan. Siapa
yang hendak berkendara malam-malam di tengah hujan lebat seperti ini? Kataku
dalam sunyi.
Ah tidak, siapalah yang sudi
membiarkan anak jalanan yang basah kuyup dan penuh luka memar duduk di jok
mobil mereka yang mahal?
Betul saja, beberapa mobil
sudah melintasi jalanan itu, namun tak ada yang mau sekadar berhenti dan
membuka kaca jendela mereka. Malah percikan air kubangan yang ku terima.
Berjam-jam aku menunggu, diterpa
kencangnya angin dan derasnya hujan, menahan perih luka-luka memar dan beberapa
ruas tulang yang patah.
Seorang diri.
19 Mei 2002 pukul 21.00 WIB,
Malang
"Entuk piro dina iki
Dit?"1
"Ngga banyak Sur, tapi
lumayan lah buat makan besok hehehe"
"Enak yo awakmu2,
ora melu sopo-sopo3. Lah kita? Harus setor ke boss. Kalau kurang
dari target, di hajar kita Dit."
Yah, seperti itulah kehidupan
anak jalanan seperti kami. Tubuh penuh debu, bau matahari yang menyengat,
lapar, haus, keringat dan pukulan adalah kawan kami setiap hari. Caci maki
adalah makanan kami. Menyusuri jalan raya demi jalan raya, lampu merah demi
lampu merah, terminal demi terminal adalah pekerjaan kami. Menjajahkan koran,
mengamen, membersihkan kaca mobil, asongan, semua pernah kami jalani. Perhatian
adalah satu-satunya hiburan bagi kami, namun sayang bukan perhatian yang sering
kami dapat. Hidup normal? Hanya sebuah angan untuk kami.
1 Dapat berapa hari ini Dit?
2 Dirimu
3 Tidak ikut siapa-siapa
Aku Aditya 11 tahun yang lalu.
Anak jalanan yang tak punya arah untuk di tuju. Kerja serabutan setiap hari.
Mencari makan seorang diri.
Orang tua? Tentu aku punya.
Mereka membuang ku saat aku berusia 5 tahun.
Kenapa? Aku juga tak tahu
alasannya.
Ingin mencari mereka? Tidak.
Karena aku tahu mereka punya alasan sendiri untuk membuangku, dan aku tak perlu
tahu itu. Cukup tahu bahwa aku punya keluarga di luar sana sudah memberiku
kekuatan untuk bertahan di jalanan yang kejam selama 3 tahun ini.
Mimpi? Tentu ada. Aku ingin
menjadi pengusaha yang sukses dan mempekerjakan kelima sahabatku di posisi yang
tinggi. Menuntut mereka yang telah kejam mempekerjakan anak jalanan seperti
hewan. Bahkan lebih rendah dari itu.
Ilmu? Tentu punya. Secara
alami, seperti halnya anak-anak seumuranku, aku ingin mencicipi bangku sekolah.
Melihat mereka yang seumuranku memakai seragam sangat membuatku iri.
Aku sering mengajak bicara
anak-anak yang pulang sekolah. Menanyakan ini dan itu, matematika, sains,
kewarganegaraan, bahasa inggris, bahasa Indonesia, dll. Aku punya ambisi yang
besar, kemampuan otakku juga tak seburuk itu.
Hanya keberuntungan saja yang
tidak memihakku.
Aku bekerja atas kemauan
sendiri. Surya, Beni, Lintang, Agus, dan Setyo adalah sahabatku. Tak semujur
diriku, mereka harus menyetorkan uang hasil keringat mereka. Kalau kurang dari
target, pukulan dan tendangan akan menjadi makan malam mereka.
Namun langit sedang tak
memihak kami malam ini, hujan deras mengguyur Malang, diiringi dengan
sahut-sahutan petir. Kami berteduh di bawah kolong fly over yang tengah dalam
pembangunan.
Sudah pukul 23.35 WIB namun
Surya, Beni, Agus, Lintang dan Setyo belum mencapai target hari ini. Aku sudah
memberikan semua uangku untuk menutupi kekurangan uang mereka, namun masih jauh
dari yang diharapkan.
'DRAP DRAP DRAP' langkah kaki mereka sayup-sayup mulai terdengar.
Langkah kaki yang kasar,
diikuti sura-suara tendangan, beradu dengan gemuruh hujan dan sambaran-sambaran
petir. Kegelisahan merambat di antara ruas-ruas sendi, berdesir di antara urat
nadi, tergurat dengan jelas di wajah kelima sahabatku itu.
"Oy!! Ayo
setoorrr!!!"
Teriakan Dodit memekakkan
telinga. Keluar dari ujung tikungan gang yang kumuh, seringai di wajahnya
terlihat buas. Tak semenakutkan itu bagiku. Dodit, si begundal brengsek itu tak
lebih dari sampah di mataku. Bermodalkan otot dan tubuh bongsornya itu, dia
menakuti anak-anak jalanan. Pengecut!
Surya, sebagai yang tertua,
mengambil keputusan yang cukup berani. Nekat lebih tepatnya. Dia membagi rata
hasil nya kepada yang lain.
"Loh, Mas Surya nda usah
seperti ini Mas. Kita tanggung sama-sama Mas."
"Rapopo Lin, daripada
aku lihat kalian sing4 di pukuli sama Dodit. Badanku lebih besar kok
dari kalian."
Aku terenyuh mendengar Surya
mengatakan itu. Kami, anak jalanan lebih mengerti arti kebersamaan dan
pengorbanan daripada mereka yang tinggal bersama keluarganya.
Kami anak jalanan, yang
tumbuh bersama teriknya matahari, sesaknya menghirup debu, dan kejamnya
jalanan.
Kami lebih mengerti, karena
hanya hal itu lah yang tetap membuat kami merasa bahwa kami masih seorang
manusia, sama seperti kalian, kami punya hak untuk hidup layak.
Namun, keberuntungan tak
berpihak pada kami.
4 yang
'DUUKK'
bongkahan kayu mendarat di kaki kiri Surya. 'BUUGH'
tendangan mendarat di perutnya.
"Berani kamu nggak setor
sepeser pun??!! HAAH!!"
'BUUGH' kali
ini bogeman mendarat tepat di wajah Surya. Membuat darah becucuran keluar dari
hidung dan mulutnya. Aku tak bisa menahannya lagi. Makin lama serangan-serangan
Dodit makin mengganas.
"Hey brengsek. Berhentilah
bersikap kekanak-kanakan. Nggak pantas untuk umurmu yang sudah tua itu."
Aku mendekati Dodit, tak ada
sedikit pun keraguan dalam langkahku. Dia tak bermoral, tak berpendidikan,
perangainya buruk, tak pantas untuk ditakuti. Dan, apa yang 3 orang di
belakangnya lakukan? Seperti hewan peliharaannya saja.
"Hoho.. lihat siapa yang
ikut campur di sini?? Hey bocah!! Kau bukan golongan dari kami!! Nggak berhak
ikut campur urusan kami!! Sudah bagus nggak ku paksa buat nyetor uang ke aku,
dasar nggak tahu terima kasih!!", begundal-begundal itu berbalik
menghampiriku.
"Terima kasih?? Aku
paham makna dari kata 'terima kasih'. Tapi itu nggak pantas buat diucapin ke
kamu.", aku benar-benar muak dengan keberadaan makhluk satu ini. Ku
isyaratkan agar Surya berlari menjauh.
"Hey!!!SURYAA!!!! Ohh ..
ada yang sok pahlawan di sini hah?! Kau salah kalau berani mendongakkan
kepalamu itu ke arahku bocah tengik!"
"Baiknya kita apakan nih
bocah bos?"
Coba saja serang aku.
Badan-badan besar kalian tak berarti apa-apa buatku. Meskipun kalian lebih tua
dariku, aku percaya aku bisa mengalahkan kalian. Harus ada yang memberi
begundal-begundal ini pelajaran.
'BUUGH' 'DUUAKK' 'BLAM' 'PRANG'
Mereka menyerangku tak kenal
ampun. Tendang. Tinju. Banting. Pukul. Tak ada celah bahkan sepersekian detik
bagiku untuk membalas serangan mereka berempat. Batu, kayu, botol kaca, mereka
hantamkan semua ke arahku. Kepala, tangan, kaki, perut, wajah tak ada bagian
yang luput dari serangan mereka. Tak adil! Dunia tak pernah adil pada ku!
Kebaikan tak pernah menang melawan kejahatan.
"UUGGHHH..
AAARRRGHHHH"
19 Maret 2002 pukul 23.45 WIB
, aku terjebak dalam neraka.
Dingin malam makin menusuk,
menimbulkan ngilu pada sendi-sendi dan tulang-tulangku yang patah. Guyuran
hujan menghantamku bagai ratusan jarum. Membasuh luka-luka memar di sekujur
tubuhku, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat.
Awan menutupi sinar rembulan,
meninggalkanku sendirian di kegelapan yang mencekam. Hanya disinari oleh remang
lampu jalan. Ditemani guyuran hujan dan sambaran-sambaran kilat.
'BRUUUM'
Mobil. Ada mobil yang hendak
melintas kemari. Akankah kali ini berbeda? Sudi kah dia membiarkanku duduk di
jok mobilnya?
'SPRAAT'
lagi, cipratan air kubangan yang ku terima. Akankah hidupku berakhir di sini?
Akankah aku mati tetap sebagai orang kecil? Akankah aku mati dalam keadaan
seperti ini? Penuh luka dan memar, seorang diri di bawah lampu jalan, di
ciprati kubangan? Tuhan, sekali saja berikanlah kebahagiaan dalam hidupku.
Blur. Semuanya mulai kabur.
Inikah akhirnya? Sungguh akan berakhir seperti ini? Kakiku lemas.
Berat. Mataku terasa sangat
berat. Tubuhku sempoyongan. Aku merasakan seseorang merengkuhku dalam
gendongannya.
Oh, malaikat maut kah?
Benar-benar telah berakhir. Aku mendengar deru mobil. Semakin lama semakin
jelas terdengar. Tubuhku mulai merasakan getaran. Perjalanan akhirat? Pikirku.
Sampai aku mendengar suara lembut yang menyapaku.
"Kau tidak apa Nak? Maaf
sudah membuat tubuhmu kotor dengan air kubangan tadi. Ada apa dengan tubuhmu?
Siapa yang melakukan itu semua? Tak apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan
membawamu bersamaku. Mulai sekarang, semuanya akan baik-baik saja."
Belum. Belum berakhir.
Semuanya masih berlanjut. Aku tersadar dan menatap wajah orang di sampingku
itu. Pria dewasa berbadan tegap, rambut klimis yang mulai beruban, mata bulat,
kulit coklat tan, dan berkumis tipis sedang memegang kemudi. Suaranya lembut,
senyumnya menyejukkan.
Masih berlanjut. Aku ingin
menjadi atlet taekwondo mulai detik itu. akan ku balas perlakuan mereka
kepadaku dan sahabat-sahabatku. Akan ku buat keparat-keparat itu jera.
Aku menatap keluar jendela,
membayangkan wajah mereka, serangan-serangan mereka, wajah sahabat-sahabatku.
Keadaan akan berubah dari sekarang.
Hujan membawa kemalangan
bagiku beberapa jam yang lalu, dan sekarang hujan mengirimiku secercah harapan
baru.
Sesaat aku merasa melihat
mobil jauh di dekat jurang sana, sampai akhirnya aku pun terlelap.
Haloo halooo jumpa lagii sama Shalsadilla hehehe. Okaay aku bakal update story hujan tiap hari selasa sama sabtu malam yaaa. Stay tune gaess .. thank you for reading and like my story :')
0 komentar:
Posting Komentar