Chapter 2 : Stiff Girl
Riuh. Suasana kelas sangat riuh. Menyanyi, main gitar, tidur, membully, berdandan, gosip, menyilangkan kaki di meja, persis di angkringan pasar. Sangat mengganggu.
“Tolong tenang teman-teman.”, tak ada yang menghiraukan.
Suaraku tenggelam oleh riuhnya suara mereka. Ah benar, mereka menganggapku tidak ada.
Meskipun aku seorang ketua kelas, mereka tak pernah menghiraukanku.
Karena aku hanyalah anak panti asuhan yang masuk sekolah elit ini karena beasiswa, sedangkan mereka semua adalah anak orang-orang yang berada.
‘BBAANG’
“Berisik banget sih kalian. Bisa diem nggak? Ini sekolahan bukan pasar. Jaga attitude kalian!”
Seketika suasana menjadi hening. Semuanya kembali ke posisi masing-masing.
Ya, tak ada yang berani melawan Sella. Ayahnya adalah pemilik dan kepala sekolah ‘STAVLENNYA HIGH SCHOOL’. Sella adalah sahabat baikku. Dia selalu mendukung dan membantuku saat yang lain mengucilkanku. Dia seperti tameng bagiku.
“Lihat, Dinda tuh cuma bayang-bayang nya Sella. Dia bisa apa sih tanpa bantuan Sella? Cari temen aja ga bisa eh malah di tunjuk jadi ketua kelas sama Bu Arum.”
Entah aku harus senang atau marah mempunyai sahabat seperti Sella. Dia selalu mendukungku, tapi hal itu membuatku menjadi bayangannya, seperti yang lain katakan. Aku hanya bayangan Sella. Tak mampu berdiri di atas kaki ku sendiri, tak bernyali untuk mengangkat wajah ku, bahkan untuk bicara saja aku butuh bantuan Sella.
Hal yang bisa ku lakukan dengan kemampuanku sendiri, hanyalah berkutat seharian dengan buku dan kamera yang kubeli dengan uang ku sendiri.
Uang yang kudapat dari menjuarai olimpiade-olimpiade, uang yang ku dapat dari kerja paruh waktu di minimarket, kerja paruh waktu di apotek, kerja paruh waktu di restoran ayam cepat saji, kerja paruh waktu di perpustakaan daerah, uang hasil keringatku sendiri. Tak mungkin aku tega meminta hal-hal mahal seperti kamera ke Ibu Panti. Beliau sudah cukup kesusahan dengan tingkah aneh-aneh kami di panti, ditambah harus memutar otak agar uang donasi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.
“Makasih ya Sel”, bisikku pelan.
Bu Arum, guru wali kelas kami sekaligus guru mata pelajaran Fisika memasuki ruang kelas.
“Oke hari ini kita pelajari materi Fluida Dinamis dan Gelombang Mekanik ya. Kita ngulang pelajaran kelas 11, awas kalau lupa.”
Bu Arum guru yang tegas namun juga pengertian. Beliau wali kelas idaman di sekolah kami. Beruntung sekali kelas kami mendapatkan Bu Arum.
Pelajaran Fisika selama 4 jam berlalu begitu cepat hari ini. Entah mengapa setiap hari mendekati UN terasa begitu cepat, seakan dunia tak mengizinkan kami untuk bernafas lega biar sedetik.
“Yaudah, itu aja materi kita hari ini. Jangan ada yang bolos kelas tambahan loh ya. Semangat belajarnya buat UN.”
“Iya Bu.” Satu kelas menjawab dengan serempak. Bu Arum berlalu meninggalkan kelas yang diiringi oleh bel istirahat.
Keriangan muncul di wajah semua orang.
Ya, istirahat memang paling dinantikan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguras otak. Tanpa komando, semua berhambur ke luar kelas, ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada yang ke perpustakaan dan ada juga yang makan bekal di kelas.
“Ayo Din ke kantin!”, ajak Sella.
Aku hanya menganggukkan kepala, menerima ajakan Sella dan berlalu ke kantin.
Sebenarnya aku membawa bekal setiap hari. Menurutku, masakan Ibu adalah masakan terenak dan yang pasti sehat.
Jadi aku hanya menemani Sella membeli makanan, kemudian kami akan makan bersama. Aku akan mencari tempat duduk, kataku dalam sunyi selagi Sella memesan makanannya.
“Cantik, sini yok duduk sama kita.”, suara yang tak asing. Kim Tae Joon, salah satu anggota BIG CROWN.
Mereka berempat, Adeline, Henry, Christy dan Tae Joon sendiri adalah anak-anak yang paling berkuasa di angkatan kami. Mereka berlatar belakang orang kaya, terkenal dan berpendidikan.
Aku tak menghiraukan ajakannya dan terus melangkahkan kaki ku ke meja yang berada di pojok ruangan dengan view yang menghadap ke luar gedung. Bisa terlihat danau dan taman yang menjadi tempat paling menyenangkan di STAVLENNYA HIGH SCHOOL.
“Hahahaha mampus di kacangi Lo!”, seru Adeline
“Bro! Lo ngajakin makan bareng si Stiff Girl? Ga salah Lo? Selera Lo turun ya ternyata. Hahaha!”, timpal Henry.
“Tae Joon, usaha mu sia-sia. Cewe kaku yang ga bisa nyari temen mana bisa nerima ajakan makan bareng dari cowo. Lagian jangan deh kalau sampe dia duduk bareng kita, ntar kita semua kecelakaan lagi atau bokap kita ntar selingkuh! Mampus kita.”, balas Christy.
Tubuhku gemetaran. Amarahku benar-benar sudah sampai puncaknya. Marah bercampur takut dan sedih akan kenangan-kenangan itu.
Perkataan Christy membangunkan semuanya. Semua ingatan buruk yang berhasil ku pendam selama ini. Pengalaman yang tak seharusnya dialami anak umur 5 tahun.
Panas.
Mataku panas. Aku berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata. Papa, di mana papa saat aku membutuhkannya? Di umurku yang 5 tahun, melihat Mama tergeletak bersimbah darah. Di mana papa? Mana janji papa yang bakal selalu ada buat aku dan kapan pun aku butuh?
*Flashback
20 Maret 2002, 01.40 dini hari
Saat itu, aku hanya bisa menangis melihat keadaan mama dan mbok Sri. Masih tak percaya apa yang terjadi di hadapan mataku.
Aku berharap papa akan datang menyelamatkan mama. Sampai akhirnya aku tersadar kalau papa tak akan datang menyelamatkan kami.
Di tengah hujan lebat, aku menyeret kaki kecilku untuk menyusuri jalanan yang gelap. Menahan dinginnya malam, menahan hantaman hujan yang menyembunyikan air mata.
Setelah lama berjalan, aku memutuskan untuk berhenti di bawah lampu jalan. Remang sinar nya sudah cukup menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya dunia. Memberikan ketenangan.
Sambil terus menangis, aku berharap papa datang. Masih berharap.
Sampai akhirnya aku pingsan dan terbangun di rumah. Bukan, bukan rumah kami yang dulu. Bukan rumah yang penuh canda tawa dan kehangatan yang dulu aku, mama dan papa tinggali.
Aku terbangun di sebuah kamar kecil, namun sangat rapi dan nyaman. Semuanya tertata dengan apik. Wajah hangat seorang ibu-ibu menyapaku, di ikuti dengan wajah-wajah yang baru aku lihat.
“Kak, Kakak nggak apa?”
“Siapa nama Kakak?”
“Kenapa kamu hujan-hujan an malam-malam begini?”
“Kamu nggak apa?”
Rentetan pertanyaan dari wajah-wajah baru itu menghampiriku. Membuatku sangat bingung. Harusnya aku yang bertanya.
Siapa mereka? Di mana aku? Kenapa aku di sini? Mana mama? Mana papa? Hingga aku tersadar kalau mama pergi meninggalkanku selamanya.
Dan papa, papa tidak mencari ku sama sekali, papa tidak ada di saat aku sangat membutuhkannya.
Dan begitulah hidupku berlanjut setelah kecelakaan itu. tinggal di panti asuhan dengan keluarga baru yang lebih menyenangkan dan kehangatan yang lebih hangat dari yang pernah ku rasakan bersama mama dan papa. Berusaha melupakan dan memendam ingatan-ingatan bersama mereka.
*Flashback end
Semua ingatan-ingatan itu terputar seperti film, sangat cepat, sangat nyata, menyesakkan. Semakin aku meningatnya, semakin panas pelupuk mataku. Tak bisa. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis. Di tengah suara tawa kesenangan mereka, aku menangis.
Bukan karena sedih mereka tertawakan, tapi karena kecewa akan diriku yang tak bisa melawan mereka, yang tak bisa mencari teman, yang tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarku.
Tak berharga. Tak berguna. Pecundang.
“Eh eh semua, gue mau ngingetin kalian semua ya, hati-hati kalau deket sama Dinda. Udah pada tau kan kalau dia dapet julukan ‘gadis hujan’? kalau dia sedih, bakalan turun hujan deras, daaan …. Orang yang bikin dia sedih bakal mati karena hujan, entah Lu tenggelem, keseret banjir, kesamber petir, atau yang lain. Hati-hati ya kalian.”
Perkataan Adeline itu disambut tawa kegirangan anak-anak yang lain. Ya, stiff girl, gadis hujan, pembawa sial, anak hujan, anak panti, itu semua adalah julukan ku di sekolah ini.
Semua orang telah mengetahuinya. Banyak rumor tentangku yang beredar di sekolah ini. Terima kasih kepada BIG CROWN yang telah membuatku sangat terkenal.
“STOOP!! Kalo Lo udah tau banyak tentang Dinda, kenapa gak Lo tutup mulut Lo yang busuk itu HAH??!! Tau apa Lo? Gue udah lama temenan sama Dinda gak mati-mati juga tuh. Lo dah bikin Dinda sedih, ati-ati aja ya Lo di jalan. Sapa tau Lo …”, aku menarik lengan Sella untuk mencegah sumpah serapah nya berlanjut, tentu saja setelah menghapus air mataku. Namun Sella menampis tanganku.
“Denger ya kalian semua!! Di sekolah ini, semua siswa nya di haruskan untuk memiliki attitude yang baik!! Sekolah ini bukan untuk ajang saling bully dan unjuk kekayaan. NGERTII??!”
Pidato singkat Sella membuat bulu kuduk merinding. Jiwa pemimpinnya sangat kelihatan saat ini, membuatku terharu. Dia, sekali lagi, Sella kembali menyelamatkanku.
“Dan, sampah seperti kalian berempat gak pantas untuk nginjakin kaki di STAVLENNYA. Kalau kalian bikin ulah lagi, nggak cuma ke Dinda, ke anak lain yang orang tua nya nggak sekaya orang tua kalian, kalau sampai kalian sok berkuasa lagi, nggak bakal gue sembunyiin lagi!! Gue bakal lapor ke kepala sekolah tentang apa yang kalian lakuin.”, tantang Sella dengan berani, menatap tajam ke arah BIG CROWN.
Sella menarik tanganku, meninggalkan pesanannya, meninggalkan kantin. Aku di giringnya ke danau STAVLENNYA.
“Gue heran deh Din sama Lo. Kenapa Lo cuma diem aja digituin? Balas kek sekali-kali. Kadang jadi orang jahat gak salah kok.”
“Nggak Sel. Aku nggak mau nambah musuh lagi.”
“Mereka udah jadi musuh Lo sejak pertama Lo dateng. Di tambah lagi Lo gak mau bergaul sama anak-anak yang lain. Pusing gue sama Lo. Gue gak bisa terus-terusan ada di samping Lo, coba Lo bergaul sama yang lain, gak bakal Lo jadi bahan bully-an di sekolah ini. Aneh banget sih Lo, malah suka main sama kamera yang jelas-jelas gak bisa di ajak ngobrol.”
Bukan aku tak mau bergaul dengan mereka, tapi aku sudah tahu bagaimana jadinya kalau aku bergaul dengan mereka. Mereka hanya akan menginjak-injak ku dan keluargaku. Menginjak-injak Ibu dan keluargaku yang lain di Panti. Derajat kami jelas berbeda, dan mereka tak akan memandang orang-orang seperti kami seperti manusia lainnya.
“Iya Sella …. Mau makan bareng? Ibu masak oseng ikan asin kesukaanmu nih. Ibu bawain bekal buatku kebanyakan. Mau?”, aku berusaha untuk memotong ceramah Sella. Sella sangat suka oseng ikan asin buatan Ibu. Dia juga sering main ke panti.
“Yaudah sini. Gegara kamu, aku ninggal makanan ku.”, balas Sella sambil sedikit cemberut.
Sahabatku ini memang paling menggemaskan kalau sedang cemberut, apalagi kalau ku tawari makanan kesukaannya saat dia marah.
Menyenangkan. Dia seperti adik sekaligus kakak yang aku idam-idam kan.
Sella lebih dari sekadar sahabat bagiku, dia adalah keluargaku.
Hai haii readers yg masih setis membaca ceritaku yang masih abal-abal ini ... Terima aksih banyak kalian masih mau menunggu dan baca nih cerita T^T maaf banget kalau chapter ini ga menarik, monoton, biasa aja, mainstream, kalimat ga indah atau bahkan kalian yg baca sampe stresa krn ga tau artinya T^T Hope you enjoy it ♥♥
Shalsadilla
Riuh. Suasana kelas sangat riuh. Menyanyi, main gitar, tidur, membully, berdandan, gosip, menyilangkan kaki di meja, persis di angkringan pasar. Sangat mengganggu.
“Tolong tenang teman-teman.”, tak ada yang menghiraukan.
Suaraku tenggelam oleh riuhnya suara mereka. Ah benar, mereka menganggapku tidak ada.
Meskipun aku seorang ketua kelas, mereka tak pernah menghiraukanku.
Karena aku hanyalah anak panti asuhan yang masuk sekolah elit ini karena beasiswa, sedangkan mereka semua adalah anak orang-orang yang berada.
‘BBAANG’
“Berisik banget sih kalian. Bisa diem nggak? Ini sekolahan bukan pasar. Jaga attitude kalian!”
Seketika suasana menjadi hening. Semuanya kembali ke posisi masing-masing.
Ya, tak ada yang berani melawan Sella. Ayahnya adalah pemilik dan kepala sekolah ‘STAVLENNYA HIGH SCHOOL’. Sella adalah sahabat baikku. Dia selalu mendukung dan membantuku saat yang lain mengucilkanku. Dia seperti tameng bagiku.
“Lihat, Dinda tuh cuma bayang-bayang nya Sella. Dia bisa apa sih tanpa bantuan Sella? Cari temen aja ga bisa eh malah di tunjuk jadi ketua kelas sama Bu Arum.”
Entah aku harus senang atau marah mempunyai sahabat seperti Sella. Dia selalu mendukungku, tapi hal itu membuatku menjadi bayangannya, seperti yang lain katakan. Aku hanya bayangan Sella. Tak mampu berdiri di atas kaki ku sendiri, tak bernyali untuk mengangkat wajah ku, bahkan untuk bicara saja aku butuh bantuan Sella.
Hal yang bisa ku lakukan dengan kemampuanku sendiri, hanyalah berkutat seharian dengan buku dan kamera yang kubeli dengan uang ku sendiri.
Uang yang kudapat dari menjuarai olimpiade-olimpiade, uang yang ku dapat dari kerja paruh waktu di minimarket, kerja paruh waktu di apotek, kerja paruh waktu di restoran ayam cepat saji, kerja paruh waktu di perpustakaan daerah, uang hasil keringatku sendiri. Tak mungkin aku tega meminta hal-hal mahal seperti kamera ke Ibu Panti. Beliau sudah cukup kesusahan dengan tingkah aneh-aneh kami di panti, ditambah harus memutar otak agar uang donasi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.
“Makasih ya Sel”, bisikku pelan.
Bu Arum, guru wali kelas kami sekaligus guru mata pelajaran Fisika memasuki ruang kelas.
“Oke hari ini kita pelajari materi Fluida Dinamis dan Gelombang Mekanik ya. Kita ngulang pelajaran kelas 11, awas kalau lupa.”
Bu Arum guru yang tegas namun juga pengertian. Beliau wali kelas idaman di sekolah kami. Beruntung sekali kelas kami mendapatkan Bu Arum.
Pelajaran Fisika selama 4 jam berlalu begitu cepat hari ini. Entah mengapa setiap hari mendekati UN terasa begitu cepat, seakan dunia tak mengizinkan kami untuk bernafas lega biar sedetik.
“Yaudah, itu aja materi kita hari ini. Jangan ada yang bolos kelas tambahan loh ya. Semangat belajarnya buat UN.”
“Iya Bu.” Satu kelas menjawab dengan serempak. Bu Arum berlalu meninggalkan kelas yang diiringi oleh bel istirahat.
Keriangan muncul di wajah semua orang.
Ya, istirahat memang paling dinantikan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguras otak. Tanpa komando, semua berhambur ke luar kelas, ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada yang ke perpustakaan dan ada juga yang makan bekal di kelas.
“Ayo Din ke kantin!”, ajak Sella.
Aku hanya menganggukkan kepala, menerima ajakan Sella dan berlalu ke kantin.
Sebenarnya aku membawa bekal setiap hari. Menurutku, masakan Ibu adalah masakan terenak dan yang pasti sehat.
Jadi aku hanya menemani Sella membeli makanan, kemudian kami akan makan bersama. Aku akan mencari tempat duduk, kataku dalam sunyi selagi Sella memesan makanannya.
“Cantik, sini yok duduk sama kita.”, suara yang tak asing. Kim Tae Joon, salah satu anggota BIG CROWN.
Mereka berempat, Adeline, Henry, Christy dan Tae Joon sendiri adalah anak-anak yang paling berkuasa di angkatan kami. Mereka berlatar belakang orang kaya, terkenal dan berpendidikan.
Aku tak menghiraukan ajakannya dan terus melangkahkan kaki ku ke meja yang berada di pojok ruangan dengan view yang menghadap ke luar gedung. Bisa terlihat danau dan taman yang menjadi tempat paling menyenangkan di STAVLENNYA HIGH SCHOOL.
“Hahahaha mampus di kacangi Lo!”, seru Adeline
“Bro! Lo ngajakin makan bareng si Stiff Girl? Ga salah Lo? Selera Lo turun ya ternyata. Hahaha!”, timpal Henry.
“Tae Joon, usaha mu sia-sia. Cewe kaku yang ga bisa nyari temen mana bisa nerima ajakan makan bareng dari cowo. Lagian jangan deh kalau sampe dia duduk bareng kita, ntar kita semua kecelakaan lagi atau bokap kita ntar selingkuh! Mampus kita.”, balas Christy.
Tubuhku gemetaran. Amarahku benar-benar sudah sampai puncaknya. Marah bercampur takut dan sedih akan kenangan-kenangan itu.
Perkataan Christy membangunkan semuanya. Semua ingatan buruk yang berhasil ku pendam selama ini. Pengalaman yang tak seharusnya dialami anak umur 5 tahun.
Panas.
Mataku panas. Aku berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata. Papa, di mana papa saat aku membutuhkannya? Di umurku yang 5 tahun, melihat Mama tergeletak bersimbah darah. Di mana papa? Mana janji papa yang bakal selalu ada buat aku dan kapan pun aku butuh?
*Flashback
20 Maret 2002, 01.40 dini hari
Saat itu, aku hanya bisa menangis melihat keadaan mama dan mbok Sri. Masih tak percaya apa yang terjadi di hadapan mataku.
Aku berharap papa akan datang menyelamatkan mama. Sampai akhirnya aku tersadar kalau papa tak akan datang menyelamatkan kami.
Di tengah hujan lebat, aku menyeret kaki kecilku untuk menyusuri jalanan yang gelap. Menahan dinginnya malam, menahan hantaman hujan yang menyembunyikan air mata.
Setelah lama berjalan, aku memutuskan untuk berhenti di bawah lampu jalan. Remang sinar nya sudah cukup menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya dunia. Memberikan ketenangan.
Sambil terus menangis, aku berharap papa datang. Masih berharap.
Sampai akhirnya aku pingsan dan terbangun di rumah. Bukan, bukan rumah kami yang dulu. Bukan rumah yang penuh canda tawa dan kehangatan yang dulu aku, mama dan papa tinggali.
Aku terbangun di sebuah kamar kecil, namun sangat rapi dan nyaman. Semuanya tertata dengan apik. Wajah hangat seorang ibu-ibu menyapaku, di ikuti dengan wajah-wajah yang baru aku lihat.
“Kak, Kakak nggak apa?”
“Siapa nama Kakak?”
“Kenapa kamu hujan-hujan an malam-malam begini?”
“Kamu nggak apa?”
Rentetan pertanyaan dari wajah-wajah baru itu menghampiriku. Membuatku sangat bingung. Harusnya aku yang bertanya.
Siapa mereka? Di mana aku? Kenapa aku di sini? Mana mama? Mana papa? Hingga aku tersadar kalau mama pergi meninggalkanku selamanya.
Dan papa, papa tidak mencari ku sama sekali, papa tidak ada di saat aku sangat membutuhkannya.
Dan begitulah hidupku berlanjut setelah kecelakaan itu. tinggal di panti asuhan dengan keluarga baru yang lebih menyenangkan dan kehangatan yang lebih hangat dari yang pernah ku rasakan bersama mama dan papa. Berusaha melupakan dan memendam ingatan-ingatan bersama mereka.
*Flashback end
Semua ingatan-ingatan itu terputar seperti film, sangat cepat, sangat nyata, menyesakkan. Semakin aku meningatnya, semakin panas pelupuk mataku. Tak bisa. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis. Di tengah suara tawa kesenangan mereka, aku menangis.
Bukan karena sedih mereka tertawakan, tapi karena kecewa akan diriku yang tak bisa melawan mereka, yang tak bisa mencari teman, yang tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang sekitarku.
Tak berharga. Tak berguna. Pecundang.
“Eh eh semua, gue mau ngingetin kalian semua ya, hati-hati kalau deket sama Dinda. Udah pada tau kan kalau dia dapet julukan ‘gadis hujan’? kalau dia sedih, bakalan turun hujan deras, daaan …. Orang yang bikin dia sedih bakal mati karena hujan, entah Lu tenggelem, keseret banjir, kesamber petir, atau yang lain. Hati-hati ya kalian.”
Perkataan Adeline itu disambut tawa kegirangan anak-anak yang lain. Ya, stiff girl, gadis hujan, pembawa sial, anak hujan, anak panti, itu semua adalah julukan ku di sekolah ini.
Semua orang telah mengetahuinya. Banyak rumor tentangku yang beredar di sekolah ini. Terima kasih kepada BIG CROWN yang telah membuatku sangat terkenal.
“STOOP!! Kalo Lo udah tau banyak tentang Dinda, kenapa gak Lo tutup mulut Lo yang busuk itu HAH??!! Tau apa Lo? Gue udah lama temenan sama Dinda gak mati-mati juga tuh. Lo dah bikin Dinda sedih, ati-ati aja ya Lo di jalan. Sapa tau Lo …”, aku menarik lengan Sella untuk mencegah sumpah serapah nya berlanjut, tentu saja setelah menghapus air mataku. Namun Sella menampis tanganku.
“Denger ya kalian semua!! Di sekolah ini, semua siswa nya di haruskan untuk memiliki attitude yang baik!! Sekolah ini bukan untuk ajang saling bully dan unjuk kekayaan. NGERTII??!”
Pidato singkat Sella membuat bulu kuduk merinding. Jiwa pemimpinnya sangat kelihatan saat ini, membuatku terharu. Dia, sekali lagi, Sella kembali menyelamatkanku.
“Dan, sampah seperti kalian berempat gak pantas untuk nginjakin kaki di STAVLENNYA. Kalau kalian bikin ulah lagi, nggak cuma ke Dinda, ke anak lain yang orang tua nya nggak sekaya orang tua kalian, kalau sampai kalian sok berkuasa lagi, nggak bakal gue sembunyiin lagi!! Gue bakal lapor ke kepala sekolah tentang apa yang kalian lakuin.”, tantang Sella dengan berani, menatap tajam ke arah BIG CROWN.
Sella menarik tanganku, meninggalkan pesanannya, meninggalkan kantin. Aku di giringnya ke danau STAVLENNYA.
“Gue heran deh Din sama Lo. Kenapa Lo cuma diem aja digituin? Balas kek sekali-kali. Kadang jadi orang jahat gak salah kok.”
“Nggak Sel. Aku nggak mau nambah musuh lagi.”
“Mereka udah jadi musuh Lo sejak pertama Lo dateng. Di tambah lagi Lo gak mau bergaul sama anak-anak yang lain. Pusing gue sama Lo. Gue gak bisa terus-terusan ada di samping Lo, coba Lo bergaul sama yang lain, gak bakal Lo jadi bahan bully-an di sekolah ini. Aneh banget sih Lo, malah suka main sama kamera yang jelas-jelas gak bisa di ajak ngobrol.”
Bukan aku tak mau bergaul dengan mereka, tapi aku sudah tahu bagaimana jadinya kalau aku bergaul dengan mereka. Mereka hanya akan menginjak-injak ku dan keluargaku. Menginjak-injak Ibu dan keluargaku yang lain di Panti. Derajat kami jelas berbeda, dan mereka tak akan memandang orang-orang seperti kami seperti manusia lainnya.
“Iya Sella …. Mau makan bareng? Ibu masak oseng ikan asin kesukaanmu nih. Ibu bawain bekal buatku kebanyakan. Mau?”, aku berusaha untuk memotong ceramah Sella. Sella sangat suka oseng ikan asin buatan Ibu. Dia juga sering main ke panti.
“Yaudah sini. Gegara kamu, aku ninggal makanan ku.”, balas Sella sambil sedikit cemberut.
Sahabatku ini memang paling menggemaskan kalau sedang cemberut, apalagi kalau ku tawari makanan kesukaannya saat dia marah.
Menyenangkan. Dia seperti adik sekaligus kakak yang aku idam-idam kan.
Sella lebih dari sekadar sahabat bagiku, dia adalah keluargaku.
Hai haii readers yg masih setis membaca ceritaku yang masih abal-abal ini ... Terima aksih banyak kalian masih mau menunggu dan baca nih cerita T^T maaf banget kalau chapter ini ga menarik, monoton, biasa aja, mainstream, kalimat ga indah atau bahkan kalian yg baca sampe stresa krn ga tau artinya T^T Hope you enjoy it ♥♥
Shalsadilla
0 komentar:
Posting Komentar