The Rain, My Destiny Chapter 4 : Scene pt.1


“Eh gilaa! Siapa pelatih taekwondo kita yang baru? Ganteeng bangeett sumpah!”

“Iyaaa ganteng bangeett! Biar om-om kalo gantengnya kayak gitu mah Gue embaaatt.”

“Siapa ya namanyaa? Kalo pelatihnya gitu sih, Gue mau ikut ekskul taekwondo ah.”

Susana kelas jadi berubah sejak Adit menampakkan wajahnya di sekolah kami. Mungkin tidak hanya di kelasku saja yang seperti ini. Kemunculan Adit sudah menarik perhatian seisi sekolah, dan membuat siswa laki-laki di sini melipat wajah mereka dalam-dalam. Kesal karena siswi perempuan setiap detik membicarakan tentang Adit. Dan jujur saja aku pun sama seperti siswi yang lain. Masih mengagumi sosok Adit yang sangat memabukkan.

“Berisik banget sih kalian!! Sekolah belum bener udah mikirin om-om kayak gitu?! Mau jadi tante-tante ya sudah?”, suara Sella seketika membuyarkan lamunanku. Menakutkan. Sedikit tersinggung dengan kata tante-tante.

“Apaan sih Lo Sel? Tiap hari bawaannya ngomeell teruss. Emang kenapa kalo kita suka sama yang lebih tua dikit? Cuma beda 3 tahun aja kok.”, kata Rina sewot.

“Iyaaa, kan cinta nggak mandang usia”, sambung Betty sambil meliuk-liukkan tubuhnya, persis cacing kepanasan.

Aku hanya bisa diam mendengarkan kelanjutan dari adu mulut ini. Memutuskan untuk mengerjakan kumpulan soal UN, memerah otak lagi, entah apa yang akan aku tuju. Masa depan seperti apa yang menantiku.

Setelah cukup lama mereka berdebat, akhirnya mereka berhenti saat bel pulang berdering. Hari ini kami bisa pulang lebih awal karena pengajar yang harusnya mengajar kelas tambahan kami tidak masuk karena sakit.

Karena Bang Banu telah ku suruh untuk menjemput jam 11 malam, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi sebelum itu, aku sangat ingin bermain dengan kamera ku. Aku memutuskan untuk pulang terpisah dengan Sella. Karena biasanya Sella selalu menawarkan seat kosong di mobil Honda Jazz nya itu kalau kami pulang lebih awal.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan kamera yang melekat di genggamanku. Jari-jari ku sudah gatal untuk mengcapture setap sudut dan angle yang indah dari tempat dan barang-barang yang ku temui.

Saat jemariku asik memotret sana-sini, di setiap tikungan, kelokan dan sudut dari sekolah, aku menemukan satu pemandangan yang sangat indah, pemandangan yang memabukkan, membuatku mematung di samping pohon Rhododendron di lapangan sekolah.
Di seberang sana, di tengah lapangan, sosok yang indah itu berdiri, membenarkan posisi sabuk taekwondonya.

‘CEKRIIK CEKRIIK’

Tanpa sadar jemariku sudah mengambil gambar Adit. Aku terkesiap menyadari apa yang baru saja ku lakukan. Takut Adit menyadari kalau aku memotretnya, aku bersembunyi, menenggelamkan diri di balik pohon Rhododendron  yang sudah berusia 130 tahun ini. Batang yang cukup besar dan bunga pink dan merahnya yang lebat cukup untuk menyembunyikanku.

Ragu-ragu aku mengintip Adit layaknya seorang penguntit. Di terik matahari Jakarta yang membakar kulit, Adit dengan semangat memberikan pelajaran taekwondo, sesekali menyeka peluh yang bergulir di dahinya. Wajahnya masih menebar senyum meskipun dia sudah terlihat kelelahan. Wajahnya makin terlihat bersinar di tengah berkas cahaya matahari yang menerpa dirinya. Sungguh menawan.

‘CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK’

Aku memotret Adit dengan kecepatan penuh. Entah sudah berapa banyak foto Adit dalam kameraku. Aku terus mengambil gambarnya tanpa henti seperti seorang maniak. Setiap sudut, gerakan, detail, pose tak ada yang terlewatkan dari kameraku.

Jemari ku berhenti mengambil gambar Adit saat aku melihat dari lesa kameraku dan menyadari dia 
melihat ke arahku. Refleks, aku kembali ke tempat persemayamanku. Di balik pohon Rhododendron, memeluk erat kamera ku, berpacu dengan detak jantung yang tak terkontrol, berharap Adit tak akan datang kemari.

Aku bisa mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Berderap perlahan, santai, ke arahku. Semakin dekat, semakin dekat. Kini suara langkah kaki itu terhenti.

‘Oh tidak! Apa dia menemukanku? Apa yang harus ku jelaskan padanya? Bagaimana kalau dia 
menganggap aku penguntit? Adit pasti sangat tidak menyukainya, harapan untuk semakin dekat dengannya sudah hilang!!’

Aku sangat ketakutan. Ku pejamkan mataku, menahan nafas, mematung.

“Pelatih!”



Author : Yay! setelah lama aku ga update cerita :'( terima kasih buat yang masih setia nunggu update an ceritaku yang masih abal-abal ini :') maaf banget chapter kali ini pendek :'( Don't worry author bakal update soon. love youu guys :))



0 komentar:

Posting Komentar