“Eh gilaa! Siapa pelatih taekwondo kita yang baru? Ganteeng
bangeett sumpah!”
“Iyaaa ganteng bangeett! Biar om-om kalo gantengnya kayak
gitu mah Gue embaaatt.”
“Siapa ya namanyaa? Kalo pelatihnya gitu sih, Gue mau ikut
ekskul taekwondo ah.”
Susana kelas jadi berubah sejak Adit menampakkan wajahnya di
sekolah kami. Mungkin tidak hanya di kelasku saja yang seperti ini. Kemunculan
Adit sudah menarik perhatian seisi sekolah, dan membuat siswa laki-laki di sini
melipat wajah mereka dalam-dalam. Kesal karena siswi perempuan setiap detik
membicarakan tentang Adit. Dan jujur saja aku pun sama seperti siswi yang lain.
Masih mengagumi sosok Adit yang sangat memabukkan.
“Berisik banget sih kalian!! Sekolah belum bener udah
mikirin om-om kayak gitu?! Mau jadi tante-tante ya sudah?”, suara Sella
seketika membuyarkan lamunanku. Menakutkan. Sedikit tersinggung dengan kata
tante-tante.
“Apaan sih Lo Sel? Tiap hari bawaannya ngomeell teruss.
Emang kenapa kalo kita suka sama yang lebih tua dikit? Cuma beda 3 tahun aja
kok.”, kata Rina sewot.
“Iyaaa, kan cinta nggak mandang usia”, sambung Betty sambil
meliuk-liukkan tubuhnya, persis cacing kepanasan.
Aku hanya bisa diam mendengarkan kelanjutan dari adu mulut
ini. Memutuskan untuk mengerjakan kumpulan soal UN, memerah otak lagi, entah
apa yang akan aku tuju. Masa depan seperti apa yang menantiku.
Setelah cukup lama mereka berdebat, akhirnya mereka berhenti
saat bel pulang berdering. Hari ini kami bisa pulang lebih awal karena pengajar
yang harusnya mengajar kelas tambahan kami tidak masuk karena sakit.
Karena Bang Banu telah ku suruh untuk menjemput jam 11
malam, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi sebelum itu, aku sangat ingin
bermain dengan kamera ku. Aku memutuskan untuk pulang terpisah dengan Sella.
Karena biasanya Sella selalu menawarkan seat
kosong di mobil Honda Jazz nya itu kalau kami pulang lebih awal.
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan kamera yang melekat
di genggamanku. Jari-jari ku sudah gatal untuk mengcapture setap sudut dan angle
yang indah dari tempat dan barang-barang yang ku temui.
Saat jemariku asik memotret sana-sini, di setiap tikungan,
kelokan dan sudut dari sekolah, aku menemukan satu pemandangan yang sangat
indah, pemandangan yang memabukkan, membuatku mematung di samping pohon Rhododendron di lapangan sekolah.
Di seberang sana, di tengah lapangan, sosok yang indah itu
berdiri, membenarkan posisi sabuk taekwondonya.
‘CEKRIIK CEKRIIK’
Tanpa sadar jemariku sudah mengambil gambar Adit. Aku
terkesiap menyadari apa yang baru saja ku lakukan. Takut Adit menyadari kalau
aku memotretnya, aku bersembunyi, menenggelamkan diri di balik pohon Rhododendron yang sudah berusia 130 tahun ini. Batang yang
cukup besar dan bunga pink dan merahnya yang lebat cukup untuk menyembunyikanku.
Ragu-ragu aku mengintip Adit layaknya seorang penguntit. Di
terik matahari Jakarta yang membakar kulit, Adit dengan semangat memberikan
pelajaran taekwondo, sesekali menyeka peluh yang bergulir di dahinya. Wajahnya
masih menebar senyum meskipun dia sudah terlihat kelelahan. Wajahnya makin
terlihat bersinar di tengah berkas cahaya matahari yang menerpa dirinya.
Sungguh menawan.
‘CEKRIIK CEKRIIK
CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK CEKRIIK’
Aku memotret Adit dengan kecepatan penuh. Entah sudah berapa
banyak foto Adit dalam kameraku. Aku terus mengambil gambarnya tanpa henti
seperti seorang maniak. Setiap sudut, gerakan, detail, pose tak ada yang
terlewatkan dari kameraku.
Jemari ku berhenti mengambil gambar Adit saat aku melihat
dari lesa kameraku dan menyadari dia
melihat ke arahku. Refleks, aku kembali ke
tempat persemayamanku. Di balik pohon Rhododendron,
memeluk erat kamera ku, berpacu dengan detak jantung yang tak terkontrol,
berharap Adit tak akan datang kemari.
Aku bisa mendengar suara langkah yang semakin mendekat.
Berderap perlahan, santai, ke arahku. Semakin dekat, semakin dekat. Kini suara
langkah kaki itu terhenti.
‘Oh tidak! Apa dia menemukanku? Apa yang harus ku jelaskan
padanya? Bagaimana kalau dia
menganggap aku penguntit? Adit pasti sangat tidak
menyukainya, harapan untuk semakin dekat dengannya sudah hilang!!’
Aku sangat ketakutan. Ku pejamkan mataku, menahan nafas,
mematung.
“Pelatih!”
Author : Yay! setelah lama aku ga update cerita :'( terima kasih buat yang masih setia nunggu update an ceritaku yang masih abal-abal ini :') maaf banget chapter kali ini pendek :'( Don't worry author bakal update soon. love youu guys :))
0 komentar:
Posting Komentar