The Rain, My Destiny Chapter 6 : Scene pt.3

Chapter 6 : Scene pt.3

“Nih, kamu pake aja. Ntar kamu kepanasan, jadi gosong nanti.”, kata Adit seraya menyodorkan jaket hoodie hitamnya padaku. Ragu-ragu aku mengambil jaket Adit. Bukannya membiarkanku mengambil jaketnya, dia malah melemparkannya, mendarat  tepat di mukaku. Sedkit menjengkelkan mendengarnya tertawa setelah melakukan itu, tapi juga senang pada saat yang bersamaan.

Kami menyusuri terik dan macetnya Jakarta dengan vario putih yang melaju pelan dan hati-hati. Entah kenapa hari ini Jakarta masih terik padahal sudah jam 3 sore. Aku dapat merasakan ketulusan Adit untuk mengantarku pulang. Adit memang seorang pria dewasa.

“Din, kamu suka motret kan?”

“Hah?? Aku nggak denger! Kamu ngomong apa??”, tanyaku seraya membenarkan posisi helm yang Adit pinjamkan. Selama perjalanan aku sibuk membenahkan helm yang menutupi sebagian wajahku setiap ada polisi tidur.

Aku benar-benar tak bisa mendengar suara Adit di tengah deruan roda kereta api yang sedang melaju di rel. Kenapa juga dia harus memulai perbincangan di depan perlintasan kereta api?

“Kamu suka motret kan?”, kini volume suaranya lebih keras.

“Oh iya! Sukaaa bangeet. Tiap kali aku melihat dari balik lensa kameraku, aku merasa sedang berada di dimensi yang berbeda.”, aku menjawab dengan volume suara yang keras pula.

“Hoho iya iya aku paham perasaanmu. Biasa aja dong, nggak usah menggebu gitu ngomongnya, malu-maluin aja kamu hahaha.”

Aku mengunci rapat-rapat bibirku saat sadar kalau kebisingan kereta telah berlalu dan beberapa pasang mata menatapku heran dari atas motor mereka. Sungguh memalukan. Aku bisa mendengar Adit cekikikan dari belakang sini, kesal ku cubit pinggangnya. Dia mengaduh pelan. Kami berdua tertawa kecil, di depan perlintasan kereta api, di belai lembut sang bayu.

“Akhir pekan ada acara nggak?”

Suara yang indah itu memecah keheningan setelah sekian lama kami mematung, diam seribu bahasa, larut dalam benak otak masing-masing . Motor vario putih itu kini memperlambat jalannya saat sudah beberapa meter lagi dari rumah.

“Kenapa emangnya?”

“Aku tahu tempat nongki bagus nih buat foto-foto. Kalo nggak ada acara mau ke sana?”

Sejauh ini aku kenal Adit, dia bukanlah cowok brengsek yang suka ambil kesempatan. Dia seorang pria dewasa, sikapnya, cara bicaranya, bahasanya, semua dari dirinya sungguh menawan. Tak mungkin Adit memiliki niat buruk padaku. Dan kapan lagi aku bisa menuangkan hasrat memotretku selain di gedung STAVLENNYA?

“Iya boleh.”, kataku mengiyakan.

Kami berhenti di depan pagar tua yang sudah di makan karat, tak asing. Setelah 40 menit kami bergulat dengan terik dan kemacetan Ibu Kota, akhirnya kami sampai di panti, rumah yang yang selama ini menaungiku. Rumah sederhana dengan halaman yang luas tapi meyuguhkan kehangatan yang sangat dan membuatmu selalu rindu untuk pulang.

“Makasih ya Dit udah di antar pulang.

Lumayan hemat uang saku hehehe.”, kataku sembari turun dari motor Adit. Aku melepas jaket Adit dan menyerahkan kepada si empunya. Bisa kulihat Bang Banu sedang asyik melatih kicau Berto di bawah pohon mangga yang siap panen. Entah mau dijadikan seperti apalagi kicau Berto yang sudah merdu itu.

“Oh iya, makasih ya jaketnya. Jadi kamu deh yang item nanti.”

“Iya, sama-sama Din. Santai aja kalau aku mah.”, tersimpul senyum manis yang menjadi hal favorite ku sekarang.

“Oooh .. disini rumahmu. Boleh nih sering-sering main ke sini”, Adit memanggut-manggut kecil.

Dia mengamati menyeluruh bangunan panti. Sekarang dia pasti sudah menemukan palang kayu bertuliskan Panti Muliadharma yang sudah lapuk di makan jamur. Perasaan gelisah mulai menghampiriku, berbagai prasangka menelisik masuk di benak otak.

Semua orang akan menjauhiku dan merendahkanku setelah mereka tahu kalau aku hanyalah anak panti. Kebanyakan orang memandang kami sebelah mata, tidak menganggap anak panti sepertiku selayaknya anak pada umumnya. Kami hanyalah anak-anak yang kurang beruntung yang terlahir di keluarga yang kurang beruntung, bukan berarti kami tak berpendidikan, tak bermoral dan tak punya sopan santun. Kami anak biasa seperti kalian, berpendidikan, bermoral dan punya tata krama.

Keringat dingin tak mau keluar dari tubuhku, mengakibatkan dingin menyeruak dari pori-pori kulit. Apa Adit akan menjauhiku seperti yang lain? Apa dia merasa jijik padaku seperti yang lain? Apa dia akan membatalkan ajakannya tadi? Prasangka-prasangka itu menghantuiku, mendorongku untuk menatap wajah Adit.

Namun aku merasa kedamaian menghampiriku saat memandang wajahnya. Prasangka-prasangka itu seketika terbang jauh, keringat dingin yang tertahan telah menghilang, hawa dingin yang menyeruak telah berubah menjadi hangat yang menenangkan, hangat yang mendamaikan. Adit tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah kulihat. Sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa jijik akan panti ini. Ekspresinya sangat berbeda dengan mereka yang telah kuajak ke sini. Perasaan ini membuat mataku memanas, pelupukku tergenang, bibirku tersenyum kecil, aku tersentuh. Adit benar-benar orang yang baik.

“Hari Sabtu jam setengah 5 aku jemput di sini ya.”, Adit menatapku, masih dengan senyuman indah itu, membuatku memalingkan muka untuk menyeka air mata yang hampir jatuh.

“Kamu kenapa Din?”

“Ha? Nggak apa kok. Kemasukan debu tadi mataku.”, jawabku berkilah.

“Perlu ku tiupin?”

“Ah nggak usah. Udah nggak apa-apa kok.”

“Yaudah, aku pamit ya. Itu … kakak?”, Adit mengalihkan pandangannya ke arah Bang Banu.

Aku menoleh ke arah Bang Banu, dia sudah tidak sibuk melaih Berto, kini pandangannya tajam ke arah Adit, pandangan penuh curiga yang mengancam. Persis seorang Ayah yang melototi setiap teman pria yang dekat dengan putrinya. Terkadang aku merasa Ayah ada di dalam diri Bang Banu. Bang Banu yang selalu menjaga adik-adiknya, yang selalu memenuhi kebutuhan dapur, yang selalu menyayangi Ibu, yang selalu membuat kami tertawa. Aku sangat sayang Abangku ini.

“Ah iya, itu Bang Banu. Meskipun matanya begitu, tapi dia baik kok. Jangan di ambil hati yaa.”, Aku segera menghalangi pandangan Adit dengan tubuhku. Namun dia mendorong pelan lenganku, membuat tubuhku sedikit tergeser.

“Saya pamit ya Bang.”, Adit melambaikan ringan tangannya, mengguratkan senyum manis di wajahnya. Dia tersenyum padaku sebelum akhirnya berlalu pergi.

Aku merasakan getaran aneh dalam tubuhku. Rasa senang yang membuncah ini tak bisa lagi ku tahan. Dengan perasaan menggebu, aku membuka pagar, menimbulkan suara decitan yang entah kenapa hari ini terdengar seperti melodi indah orchestra. Melangkahkan kaki sambil melompat-lompat kecil, bibirku tak henti-hentinya tersenyum sambil bersenandung ria. Sungguh hari yang menyenangkan.

“Siapa itu Din?”

“Temen Bang”, jawabku singkat, merubah air muka yang tadi penuh senyum menjadi serius. Aku lupa kalau Bang Banu masih berdiam diri di tempatnya tadi, memandangku dengan tatapan yang aneh. Sesegera mungkin aku melepaskan sepatu dan kaos kaki, meletakkan pada tempatnya, melangkah masuk ke dalam rumah, menghindari pertanyaan Bang Banu.

“Ibuuu, DInda pulang.”, aku berjalan di lorong yang kanan dan kirinya adalah kamar Si Kembar Nina dan Nino, Big Baby Alfa dan Si Jenius Arka. Bisa kudengar ada perang dunia ke-3 yang sedang terjadi di kamar Si Kembar. Masalah mainan mungkin. Biasanya saat aku pulang, Arka akan mencegahku dengan ribuan pertanyaan tentang bintang. Arka baru berumur 4 tahun, tapi ketertarikannya akan bintang dan angkasa sangat tinggi. Semua itu bermula 3 bulan yang lalu, saat aku membawa buku ensiklopedia tentang astronomi dan tak sengaja Arka melihatnya. Tapi beruntung sekarang dia sedang tidur berpelukan dengan Alfa, jadi aku tak harus mendengar pertanyaannya yang bahkan tak bisa ku jawab.

Aku celingukan saat Ibu tak menjawab salamku. Ibu sedang di dapur rupanya. Seperti biasa, Ibu masih sigap untuk urusan makanan. Jemarinya masih cekatan meracik bumbu, meskipun Ibu duduk di kursi roda, Ibu masih melakukan semua pekerjaan rumah. Aku merasa bersalah melihat Ibu yang kesusahan menggapai bumbu-bumbu yang ada di rak. Merasa bersalah karena aku belum bisa memberikan hidup yang bergelimang kemewahan untuk Ibu.

Bang Banu sudah menjalankan tugasnya sebagai anak laki-laki dengan sangat baik. Bang Banu adalah tulang punggung keluarga ini, karena kuliahnya tidak masuk setiap hari sepertiku. Terkadang, Bang Banu juga yang mencuci pakaian, membetulkan alat-alat yang rusak, dan seperti jurusan yang dia ambil, dia juga yang mengobati anggota keluarga yang sakit. Ibu tak pernah menyerahkan urusan dapur ke Bang Banu karena entah apa yang akan terjadi pada rumah ini kalau Bang Banu menginjakkan kakinya di dapur.
Waktu itu pernah Ibu minta tolong goreng kan telur, bukan telur yang matang malah dapur yang hampir matang terbakar.

“Ibu masak apa? Biar Dinda yang lanjutkan.”, kataku sambil mendorong kursi roda Ibu ke ruang keluarga yang berada tepat di depan dapur, hanya dipisahkan oleh meja dapur pemberian donatur kami. Memang, rata-rata barang yang ada di sini adalah pemberian donatur kami, dan aku sangat berterima kasih kepada siapapun mereka.

“Loh Dinda udah pulang? Nda ada kelas tambahan? Ini Ibu lagi masak sayur bayam sama bikin empal jagung.”, kata ibu sambil mengelus lembut rambutku.

Aku bergegas memasuki dapur, mengikat celemek menutupi seluruh tubuhku. Kuikat rambut coklat bergelombangku. Aku sudah agak risih dengan rambutku yang panjangnya sepunggung ini.

Aku dengan cekatan mengupas bawang merah, bawang putih dan kunci1. Mengiris tipis bawang, memotongi bayam, membumbui dan menggoreng empal jagung. Biar bagaimana pun juga aku sering turun tangan membantu Ibu menyiapkan makanan setiap kali ada waktu. Setelah beberapa menit, akhirnya semua makanan untuk makan siang kami sudah siap. Aku meletakkan menu siang ini di atas meja makan kayu yang baru kemarin Bang Banu beli dari hasil kerja paruh waktunya.

*kunci1 : salah satu jenis rempah-rempah

“Makasih ya Dinda. Aduh, kamu daritadi masak sambil gendong tas? Yaudah mandi dulu gih, habis tuh kita makan bareng.”, kata Ibu melemparkan senyuman padaku sambil mengusap lembut pipi ku. Senyum malaikat Ibu adalah hal yang paling indah dan paling ingin ku lihat setiap hari, dan takkan kubiarkan siapapun merenggut senyum itu darinya.

Hari ini berjalan seperti biasa, tak ada yang terjadi. Bang Banu juga tak menanyakan soal Adit, sibuk dengan buku-buku kedokterannya yang sangat tebal itu, pantas saja kacamatanya tebal juga. Semuanya sangat normal, bahkan sampai makan malam ini, Bang Banu masih menutup mulutnya. Terima kasih untuk Bang Banu yang sangat pengertian.

“Bu … Bu masa tadi Dinda di antar pulang  sama cowo Bu. Pas kutanya katanya cuma temen, kan nggak mungkin.”

‘Sial! Baru saja aku berterima kasih padanya.’, umpat ku dalam hati

“Hah? Emang temen kok yeee. Sirik aja deh, mentang-mentang ga ada yang pernah nganter ke rumah.”, aku menjulurkan lidah ke arah Bang Banu.

“Yaiyalah, yang ada Abang yang nganter cewe ke rumahnya. Aneh-aneh aja kamu. Terus kalo cuma temen kenapa girang banget kamu abis diturunin depan gerbang? Ya nggak Bu?”

Oke fix! Bang Banu ngeselin. Bang Banu udah bikin sesi makan malamku yang berharga jadi bising dengan pertanyaan-pertanyaan anak kecil yang masih suci polo situ. Bang Banu dah ngotorin pikiran adek-adekku! Dasaar!!

Aku melahap makanan secepat yang ku bisa, menaruh piring ke tempat cuci, bergegas masuk ke kamarku.

“Abang yang cuci piring! Ga mau tau!!”, kataku seraya melesat 240 km/jam ke kamarku. Dapat ku dengar Ibu cekikikan dan adek-adek mengajukan pertanyaan-pertanyaan menggelitik dari dalam kamarku ini.

“Ah dasar Bang Banu! Ember banget sih jadi orang, coba pura-pura nggak tahu.”
Aku menghempaskan tubuh ke atas kasur, menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Terlintas semua kejadian hari ini, sangat cepat, sangat nyata, terputar layaknya scene scene dalam film romansa yang dipercepat. Tuhan sedang menciptakan alur cerita yang baru dalam hidupku. Dan itu diawali dengan kedatangan Adit dalam hidupku.
Seluruh tubuhku panas, syarafku kacau, detak jantungku berdegum tak keruan, sensasi gatal diseluruh pergelangan tangan dan kakiku, juga suara teriakan yang tertahan memenuhi kamarku ini. Aku menggeliat kepanasan, kegirangan di atas kasurku.

Kurasa 100% aku jatuh cinta pada Adit.


0 komentar:

Posting Komentar