Garda Terdepan Indonesia

Halo haloo … Bist du auch so gelangweilt? Lah lah kok malah nyanyi wehehe #PLAK
Bist du auch so gelangweilt? Itu bahasa Jerman dari “apa kamu juga merasa bosan?” (Dasar mimin! Mentang2 lagi belajar bahasa Jerman -__-) HAHAHA Shalien disini bukan mau bahas Jerman kok. Shalien disini lagi mau bahas soal Indonesia kita tercintaaah *convetti* #alay deh mimin#

Oke, kita mulai serius ya. Apa kalian ngerasa bosan sama pertumbuhan Indonesia yang setengah-setengah? Ini aku juga baru tahu pas pelajaran PKN minggu lalu. Jadi, topiknya tentang permasalahan-permasalahan di daerah perbatasan. Abis aku baca materinya aku tertarik banget buat memahami permasalahan di daerah perbatasan Indonesia.

Berhubung sekarang aku juga tinggal di Kalimantan yang bisa dibilang daerah perbatasan lah ya … aku ngerasa prihatin juga sama nasib mereka yang bener-bener tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Agak sedih juga sama pemerintah Indonesia yang perhatiannya setengah-setengah aja buat daerah-daerah perbatasan.

Kalau kulihat di drama-drama korea #lu k-popers min??!# batas negara antara Korea Selatan sama Korea Utara tuh jelas bangeettt!! Dia gerbang bejajar gitu. Teruuss gerbangnya tuh tinggi dan ada tentara yang siaga di situ dengan persenjataan lengkap. Terus ga ada perumahan-perumahan di sekitar gerbang perbatasan nya. Mungkin itu salah satu bentuk perhatian Pemerintah Korea Selatan buat perbatasan mereka yaa … jadi biar mata-mata atau orang Korea Utara ga bisa masuk dengan mudah ke Korea Selatan, dan biar kalau ada baku tembak ga bakal nyakitin warga sipil (ga ada perumahan di sekitar gerbang perbatasan). Itu cuma pendapat mimin sih yaa … kalau ga salah perbatasan Korea Utara dan Selatan seperti itu …

Nah coba lihat di daerah perbatasan Indonesia. Kalau ada orang yang bilang “Eh aku bisa ke luar negeri 10 kali dalam waktu 10 detik loh!!”. Mau ga mau Lo haruss percaya ama tuh orang!! Dia ga bohong bray!! Tahu kenapa?? Karena perbatasan kita sama Malaysia ga jelas! Pernah nonton acara tipi apaan yaa .. lupa mimin.
Pokoknya dia tuh kesahnya ke daerah perbatasan Indonesia-Serawak ditemeni sama salah satu anggota TNI-AD *kalau ga salah* batas Indonesia-Malaysia cuma pasak kayu dan tali yang dibentangin dari satu pasak ke pasak lain! Kalau ada yang bilang “Wiih enak tuh bisa bolak-balik ke luar negeri”. MIRIIISSS IDUUP LUU! #sabar min sabar#. Enak dr segi mananya?? Orang Malaysia yang ga bertanggung jawab bisa dengan mudahnya masuk ke Indonesia, mengklaim tanah-tanah di Indonesia, menguras habis SDA Indonesia, mengklaim budaya-budaya kita.

Gini ya, menurut salah satu sumber yang aku baca, ada lebih dari 83% hutan di Kalimantan Barat yang di klaim pihak Malaysia. Mereka dengan lihainya mengubah hutan alam Kalimantan jadi perkebunan sawit, memaksa penduduk lokal untuk menangkap bahkan membunuh orang utan demi terciptanya perkebunan sawit mereka. Entah pemerintah sudah tahu, atau pura-pura tidak tahu atas hal ini.

Tapi jujur aja yaa sebagai warga “perbatasan” aku ngerasa sedih, marah, kecewa. Pemerintah Indonesia ga akan bertindak kecuali sudah ada aksi nyata dari para “penjajah”. Saat pihak luar dengan gamblang menunjukkan aksi mereka, baru pemerintah gelabakan buat ngatasi masalah itu. Contohnya aja, berapa banyak budaya Indonesia yang ingin di klaim ama negara tetangga? Budaya apa yang udah berhasil mereka ambil? Apa pemerintah berhasil ambil balik budaya itu? Untung batik yang jadi ciri khas Indonesia udah aman hehehe.

Kenapa ga mulai awal ngesahin budaya-budaya Indonesia? Jadi saat orang luar ingin mengklaim budaya kita udah ga ada kesempatan. Dan kalian tahu ga? Nih aku ya, yang tinggal di Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur, ngerasain paling ga 3 kali seminggu mati listrik dari jam 9 pagi sampe jam 3 sore, atau dari jam 3 sore sampe jam 9 malem. Yaa kadang cepet aja matlis nya. Masuk di akal ngga?? Kami penghasil batu bara terbesar ke 3 di Indonesia, kami punya PLTU terbesar, kami penghasil listrik terbesar, tapi kami sangat sering merasakan mati listrik. Aku sebenernya pindahan dari Jawa, Surabaya tepatnya. Di Surabaya aku jarang banget ngerasain yang namanya matlis. Dan ternyata … JENG JENG JENG JENG

EKSPOR BATUBARA INDONESIA MENCAPAI 70% s/d 80% DARI TOTAL PRODUKSI BATUBARA!!!!

Terus sisanya ke mana? Nah sisanya itu yang dipasarkan di pasar domestik.

Kalau kalian datang ke Kalimantan, jangan bayangin ya kalau Kalimantan tuh hutan semua, namanya penyumbang O2 terbesar pasti hutan semua isinya. Iya itu DULU sebelum negara api menyerang #itu anime tong!# maap maap. Maksudnya sebelum eksploitasi besar-besaran di Pulau Kalimantan.

Dulu yaa DULU Kalimantan nih hijauuu, banyaaak pohon-pohon tinggi dan rindang. Penghasil kayu terbaik. Mulai dari kayu ulin, jati, mahoni, di mana mereka adalah kayu-kayu berkualitas tinggi, sekarang kalau kalian ke Kalimantan, udah JARANG kalian nemu pohon-pohon tinggi dan rindang, udah jarang lagi kalian lihat hutan di sini. Kalau di lihat dari udara, banyak danau yang terbentuk gegara pertambangan yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Abis tambangnya, eh ditinggal aja seenak jidat -_- harusnya mereka balikin lagi struktur ekosistem yang ada di situ, ya seenggaknya balikin struktur tanah yang abis dikeruk buat tambang tuh, nanam pohon-pohon baru, dll. Meskipun ya pohon-pohon itu ga bakal dengan cepat bisa langsung jadi pohon gede yang rindang, seenggaknya mereka udah berkontribusi buat bumi yang lebih baik kan? Itung-itung investasi buat anak cucu mereka lah …

Jadi di Samarinda nih kan terbentang tuh yang namanya Sungai Mahakam. Pertama kali aku lihat Sungai Mahakam tuh ku kira laut! Asli lebaarr bangettt, kapal-kapal tuh lalu lalang di situ.

Suatu hari aku lihat kapal tongkang gede banget ngangkut batu-batu begunung gunung, asli banyak bangeett. Baru aku tanya ke temenku, ternyata batu-batu yang numpuk segunung itu, ya itu yang namanya batu bara! Gilaaaaaa itu banyaaakk bangeett!!!!
Satu kapal tongkang bisa angkut kira-kira 6000-8000 ton!! Dan bayangin aja dalam 30 menit, bisa 10 kapal tongkang yang lewat. Jadii yaa kira-kira ada 60.000-80.000 ton batu bara yang diangkut dalam waktu 30 menit!! Dan hampir 80% (48.000-64.000 ton) di ekspor ke Jepang, Korea, Cina, dan Eropa.

Ga heran ya jalanan di sana pada mulus-mulus, rapi, jarang tuh yang belobang. Karena aspal yang mereka pakai tuh dari batu bara Indonesia. Sedangkan jalan di Indonesia sendiri?? Banyak lobang, ga rata, masih banyak daerah yang ga beaspal malah. Ya kan? Apalagi yang di daerah perbatasan sana.

Nih ya, para smart readers. Aku cuma ngasih info aja. Kalau masyarakat perbatasan sana lebih suka beli barang di Malaysia. Udah pada tau kan ya? Barang dari Malaysia jauh lebih murah dibandingkan kalau mereka harus beli barang dari Indonesia. Karena perjalanan yang jauh, tentu ongkirnya juga jauh lebih mahal dong ya.

Ditambah lagi keadaan jalan dan sarana transportasi ga nyampe ke daerah mereka, jadi mereka harus jalan dulu berkilo-kilo meter ke Tarakan untuk beli kebutuhan pokok mereka. Kalau kalian disuruh pilih beli ke tempat yang jauh ama yang deket pilih mana? Aku sih pilih yang deket yaa ..

Nah gitu juga sama masyarakat di sana. Karena beli barang ke Malaysia lebih murah dan lebih dekat sama tempat mereka tinggal. Nah kalau hal ini sampe berkelanjutan, ga memungkiri rasa nasionalisme mereka bakal pudar. Bisa ada pikiran kalau pemerintah Indonesia ga memerhatikan mereka, jadi buat apa masih bertahan di Indonesia. Bisa-bisa mereka pindah kewarganegaraan, atau lebih parahnya mereka minta misah dari Indonesia. Nah kalau ini terulang seperti Timor Timur? Kan berabe ya …

Think!! Kalau mereka ada kepikiran seperti itu, bisa aja mereka menjadi akses masuk bagi mata-mata negara tetangga. Dan apa yang bakal terjadi?? Bakal terjadi yang namanya spionase.

Seharusnya mereka sebagai garda terdepan Indonesia mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Karena mereka adalah target utama yang harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi agar ‘penjajah’ tidak bisa memasuki wilayah Indonesia dengan gampangnya seperti sekarang yang terjadi.

So, masih banyak banget masalah perbatasan yang belum ditangani dengan baik oleh pemerintah, seperti pendidikan, kesehatan, pembangunan dsb. Smart readers bisa paham sendiri kan ya??

Sebenarnya banyak juga kok anggota pemerintahan yang bekerja dan mengabdi pada negara dengan baik dan penuh tanggung jawab . Yang jadi penyakit tuh ya itu loh, yang suka makan uang rakyat dan hidup mewah bergelimpangan harta, sedangkan rakyatnya kelaperan. Gegara beberapa penyakit tadi, citra sistem pemerintahan Indonesia jadi jelek kan di mata Internasional? Jadi, aku sangat berharap pemerintah bisa membenahi sistemnya sesegera mungkin agar Indonesia bisa jadi negara maju, bukan berkembang lagi. Kalau bisa kita jadi negara adidaya. Aamiin. 

Dan ga semua masalah di Indonesia nih karena pemerintah loh ya. Kita sebagai rakyat kadang ngga sadar kalau kita ikut menghambat perkembangan Indonesia. Menghambatnya dari segi apa? Dari segi rendahnya kualitas kita sebagai SDM di mana SDM adalah kunci kesuksesan suatu Negara.

Kalau SDA nya banyak tapi kualitas SDM nya rendah buat apa? Masa kita sebagai generasi muda Indonesia ga malu kalau nanti yang duduk di posisi-posisi penting sektor ekonomi dan bisnis Indonesia orang luar semua? Sedangkan kita cuma jadi bawahan mereka? Dijajah lagi itu namanya! Nah kalau bisa kan kita yang jadi BOSS di negeri sendiri apalagi jadi BOSS di negeri orang kan luar biasa yaa. Nah aku sendiri belum ngerasa jadi SDM yang berkualitas buat Indonesia kok, masih harus banyak menimba ilmu dari sana-sini. Jadi, smart readers, mari berusaha untuk jadi SDM yang berkualitas demi kemajuan Indonesia di mata Internasional!!!

#SaveBorneo

Nb : artikel ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, hanya menyampaikan info.
Admin love PEACE!!




Chapter 1 : Lampu Jalan


'SRAASSH' langkah kecilku berderap melawan lebatnya hujan dan dinginnya malam itu.

Seorang diri.

Di tempat antah brantah yang tak ku ketahui. Dibawah remang pijar lampu jalan, aku berdiri, melawan dingin yang menusuk, berharap seseorang yang melewati ruas jalan yang sepi itu sudi untuk membawaku bersama mereka.

Angan tinggal angan. Siapa yang hendak berkendara malam-malam di tengah hujan lebat seperti ini? Kataku dalam sunyi.

Ah tidak, siapalah yang sudi membiarkan anak jalanan yang basah kuyup dan penuh luka memar duduk di jok mobil mereka yang mahal?

Betul saja, beberapa mobil sudah melintasi jalanan itu, namun tak ada yang mau sekadar berhenti dan membuka kaca jendela mereka. Malah percikan air kubangan yang ku terima.

Berjam-jam aku menunggu, diterpa kencangnya angin dan derasnya hujan, menahan perih luka-luka memar dan beberapa ruas tulang yang patah.

Seorang diri.

19 Mei 2002 pukul 21.00 WIB, Malang

"Entuk piro dina iki Dit?"1

"Ngga banyak Sur, tapi lumayan lah buat makan besok hehehe"

"Enak yo awakmu2, ora melu sopo-sopo3. Lah kita? Harus setor ke boss. Kalau kurang dari target, di hajar kita Dit."

Yah, seperti itulah kehidupan anak jalanan seperti kami. Tubuh penuh debu, bau matahari yang menyengat, lapar, haus, keringat dan pukulan adalah kawan kami setiap hari. Caci maki adalah makanan kami. Menyusuri jalan raya demi jalan raya, lampu merah demi lampu merah, terminal demi terminal adalah pekerjaan kami. Menjajahkan koran, mengamen, membersihkan kaca mobil, asongan, semua pernah kami jalani. Perhatian adalah satu-satunya hiburan bagi kami, namun sayang bukan perhatian yang sering kami dapat. Hidup normal? Hanya sebuah angan untuk kami.

1 Dapat berapa hari ini Dit?
2 Dirimu
3 Tidak ikut siapa-siapa

Aku Aditya 11 tahun yang lalu. Anak jalanan yang tak punya arah untuk di tuju. Kerja serabutan setiap hari. Mencari makan seorang diri.

Orang tua? Tentu aku punya. Mereka membuang ku saat aku berusia 5 tahun.

Kenapa? Aku juga tak tahu alasannya.
Ingin mencari mereka? Tidak. Karena aku tahu mereka punya alasan sendiri untuk membuangku, dan aku tak perlu tahu itu. Cukup tahu bahwa aku punya keluarga di luar sana sudah memberiku kekuatan untuk bertahan di jalanan yang kejam selama 3 tahun ini.

Mimpi? Tentu ada. Aku ingin menjadi pengusaha yang sukses dan mempekerjakan kelima sahabatku di posisi yang tinggi. Menuntut mereka yang telah kejam mempekerjakan anak jalanan seperti hewan. Bahkan lebih rendah dari itu.

Ilmu? Tentu punya. Secara alami, seperti halnya anak-anak seumuranku, aku ingin mencicipi bangku sekolah. Melihat mereka yang seumuranku memakai seragam sangat membuatku iri.

Aku sering mengajak bicara anak-anak yang pulang sekolah. Menanyakan ini dan itu, matematika, sains, kewarganegaraan, bahasa inggris, bahasa Indonesia, dll. Aku punya ambisi yang besar, kemampuan otakku juga tak seburuk itu.

Hanya keberuntungan saja yang tidak memihakku.

Aku bekerja atas kemauan sendiri. Surya, Beni, Lintang, Agus, dan Setyo adalah sahabatku. Tak semujur diriku, mereka harus menyetorkan uang hasil keringat mereka. Kalau kurang dari target, pukulan dan tendangan akan menjadi makan malam mereka.

Namun langit sedang tak memihak kami malam ini, hujan deras mengguyur Malang, diiringi dengan sahut-sahutan petir. Kami berteduh di bawah kolong fly over yang tengah dalam pembangunan.

Sudah pukul 23.35 WIB namun Surya, Beni, Agus, Lintang dan Setyo belum mencapai target hari ini. Aku sudah memberikan semua uangku untuk menutupi kekurangan uang mereka, namun masih jauh dari yang diharapkan.

'DRAP DRAP DRAP' langkah kaki mereka sayup-sayup mulai terdengar.

Langkah kaki yang kasar, diikuti sura-suara tendangan, beradu dengan gemuruh hujan dan sambaran-sambaran petir. Kegelisahan merambat di antara ruas-ruas sendi, berdesir di antara urat nadi, tergurat dengan jelas di wajah kelima sahabatku itu.

"Oy!! Ayo setoorrr!!!"

Teriakan Dodit memekakkan telinga. Keluar dari ujung tikungan gang yang kumuh, seringai di wajahnya terlihat buas. Tak semenakutkan itu bagiku. Dodit, si begundal brengsek itu tak lebih dari sampah di mataku. Bermodalkan otot dan tubuh bongsornya itu, dia menakuti anak-anak jalanan. Pengecut!

Surya, sebagai yang tertua, mengambil keputusan yang cukup berani. Nekat lebih tepatnya. Dia membagi rata hasil nya kepada yang lain.

"Loh, Mas Surya nda usah seperti ini Mas. Kita tanggung sama-sama Mas."

"Rapopo Lin, daripada aku lihat kalian sing4 di pukuli sama Dodit. Badanku lebih besar kok dari kalian."

Aku terenyuh mendengar Surya mengatakan itu. Kami, anak jalanan lebih mengerti arti kebersamaan dan pengorbanan daripada mereka yang tinggal bersama keluarganya.

Kami anak jalanan, yang tumbuh bersama teriknya matahari, sesaknya menghirup debu, dan kejamnya jalanan.

Kami lebih mengerti, karena hanya hal itu lah yang tetap membuat kami merasa bahwa kami masih seorang manusia, sama seperti kalian, kami punya hak untuk hidup layak.
Namun, keberuntungan tak berpihak pada kami.

4 yang

'DUUKK' bongkahan kayu mendarat di kaki kiri Surya. 'BUUGH' tendangan mendarat di perutnya.

"Berani kamu nggak setor sepeser pun??!! HAAH!!"

'BUUGH' kali ini bogeman mendarat tepat di wajah Surya. Membuat darah becucuran keluar dari hidung dan mulutnya. Aku tak bisa menahannya lagi. Makin lama serangan-serangan Dodit makin mengganas.

"Hey brengsek. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Nggak pantas untuk umurmu yang sudah tua itu."

Aku mendekati Dodit, tak ada sedikit pun keraguan dalam langkahku. Dia tak bermoral, tak berpendidikan, perangainya buruk, tak pantas untuk ditakuti. Dan, apa yang 3 orang di belakangnya lakukan? Seperti hewan peliharaannya saja.

"Hoho.. lihat siapa yang ikut campur di sini?? Hey bocah!! Kau bukan golongan dari kami!! Nggak berhak ikut campur urusan kami!! Sudah bagus nggak ku paksa buat nyetor uang ke aku, dasar nggak tahu terima kasih!!", begundal-begundal itu berbalik menghampiriku.

"Terima kasih?? Aku paham makna dari kata 'terima kasih'. Tapi itu nggak pantas buat diucapin ke kamu.", aku benar-benar muak dengan keberadaan makhluk satu ini. Ku isyaratkan agar Surya berlari menjauh.

"Hey!!!SURYAA!!!! Ohh .. ada yang sok pahlawan di sini hah?! Kau salah kalau berani mendongakkan kepalamu itu ke arahku bocah tengik!"

"Baiknya kita apakan nih bocah bos?"

Coba saja serang aku. Badan-badan besar kalian tak berarti apa-apa buatku. Meskipun kalian lebih tua dariku, aku percaya aku bisa mengalahkan kalian. Harus ada yang memberi begundal-begundal ini pelajaran.

'BUUGH' 'DUUAKK' 'BLAM' 'PRANG'

Mereka menyerangku tak kenal ampun. Tendang. Tinju. Banting. Pukul. Tak ada celah bahkan sepersekian detik bagiku untuk membalas serangan mereka berempat. Batu, kayu, botol kaca, mereka hantamkan semua ke arahku. Kepala, tangan, kaki, perut, wajah tak ada bagian yang luput dari serangan mereka. Tak adil! Dunia tak pernah adil pada ku! Kebaikan tak pernah menang melawan kejahatan.

"UUGGHHH.. AAARRRGHHHH"

19 Maret 2002 pukul 23.45 WIB , aku terjebak dalam neraka.

Dingin malam makin menusuk, menimbulkan ngilu pada sendi-sendi dan tulang-tulangku yang patah. Guyuran hujan menghantamku bagai ratusan jarum. Membasuh luka-luka memar di sekujur tubuhku, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat.

Awan menutupi sinar rembulan, meninggalkanku sendirian di kegelapan yang mencekam. Hanya disinari oleh remang lampu jalan. Ditemani guyuran hujan dan sambaran-sambaran kilat.

'BRUUUM'

Mobil. Ada mobil yang hendak melintas kemari. Akankah kali ini berbeda? Sudi kah dia membiarkanku duduk di jok mobilnya?

'SPRAAT' lagi, cipratan air kubangan yang ku terima. Akankah hidupku berakhir di sini? Akankah aku mati tetap sebagai orang kecil? Akankah aku mati dalam keadaan seperti ini? Penuh luka dan memar, seorang diri di bawah lampu jalan, di ciprati kubangan? Tuhan, sekali saja berikanlah kebahagiaan dalam hidupku.

Blur. Semuanya mulai kabur. Inikah akhirnya? Sungguh akan berakhir seperti ini? Kakiku lemas.

Berat. Mataku terasa sangat berat. Tubuhku sempoyongan. Aku merasakan seseorang merengkuhku dalam gendongannya.

Oh, malaikat maut kah? Benar-benar telah berakhir. Aku mendengar deru mobil. Semakin lama semakin jelas terdengar. Tubuhku mulai merasakan getaran. Perjalanan akhirat? Pikirku. Sampai aku mendengar suara lembut yang menyapaku.

"Kau tidak apa Nak? Maaf sudah membuat tubuhmu kotor dengan air kubangan tadi. Ada apa dengan tubuhmu? Siapa yang melakukan itu semua? Tak apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membawamu bersamaku. Mulai sekarang, semuanya akan baik-baik saja."

Belum. Belum berakhir. Semuanya masih berlanjut. Aku tersadar dan menatap wajah orang di sampingku itu. Pria dewasa berbadan tegap, rambut klimis yang mulai beruban, mata bulat, kulit coklat tan, dan berkumis tipis sedang memegang kemudi. Suaranya lembut, senyumnya menyejukkan.

Masih berlanjut. Aku ingin menjadi atlet taekwondo mulai detik itu. akan ku balas perlakuan mereka kepadaku dan sahabat-sahabatku. Akan ku buat keparat-keparat itu jera.

Aku menatap keluar jendela, membayangkan wajah mereka, serangan-serangan mereka, wajah sahabat-sahabatku. Keadaan akan berubah dari sekarang.

Hujan membawa kemalangan bagiku beberapa jam yang lalu, dan sekarang hujan mengirimiku secercah harapan baru.

Sesaat aku merasa melihat mobil jauh di dekat jurang sana, sampai akhirnya aku pun terlelap.




Haloo halooo jumpa lagii sama Shalsadilla hehehe. Okaay aku bakal update story hujan tiap hari selasa sama sabtu malam yaaa. Stay tune gaess .. thank you for reading and like my story :')
Hujan 
By : Shalsadilla
Prolog

‘PRAANGG’ saat peristiwa mengerikan itu terjadi, usiaku baru 5 tahun. Aku melihat semuanya. Saat tangan besar papa memukul mama, adu mulut yang mereka lontarkan, pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai. Aku melihat semuanya. Mbok Sri mendekapku dari belakang, menutup telingaku seakan mencegah aku mendengar semua yang sedang aku saksikan. Untung saja gemuruh hujan dan petir yang bersahutan meredam sedikit teriakan papa dan mama, meredam sumpah serapah yang mereka lontarkan. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa, hanya menonton mereka dari sudut dinding ruang makan, mendekap kartu ucapan yang sudah seharian ku buat untuk papa. Malam itu, harusnya menjadi malam yang indah bagi keluarga kami.

19 Maret 2002  pukul 21.00 WIB, ulang tahun papa ke-35

“Mbok, gimana kartu ucapan buatanku?”

“Wah, ini non Dinda yang bikin? Bagus tenan non! Buat papa ya?”, jawab Mbok Sri sambil mengantarkan susu hangat ke kamarku. “Non, nda bobo? Sudah malam loh. Hujan juga, ora takut sama petir?”

“Dinda nggak takut sama petir. Dinda mau nunggu mama sama papa pulang Mbok.”

“Yaudah, kalau masih mau nunggu mama sama papa pulang, mending ikut Mbok aja ke dapur. Kita siapin makanan buat ulang tahun papa. Purun?”

Aku dan Mbok Sri menyiapkan segala sesuatu yang perlu disiapkan. Tangan kecilku berusaha meraih dan menata semua makanan dan minuman di atas meja. Aku memandangi kartu ucapan buatanku. Berharap saat papa pulang, papa akan bahagia dan mendekapku di bahunya yang tegap dan hangat. Bahu yang selalu merangkul aku dan mama dengan lembut.

Tanpa sadar aku tertidur di sofa ruang tamu, sambil mendekap kartu ucapan yang kubuat. Mbok Sri membangunkanku untuk pindah tidur ke kamar. Saat ku lihat jam dinding ternyata sudah tengah malam. Kupikir papa dan mama nggak pulang malam itu, jadi aku beranjak pergi ke kamarku, masih mendekap kartu ucapan itu. Saat sudah setengah tertidur, aku mendengar suara papa dan mama dari dapur. Tersentak, aku pun pergi ke dapur sambil membawa kartu ucapan buat papa. “Papa …. 
Selamat …”

Dan saat itu …

“Suami brengsek!! Ayah nggak bertanggung jawab!! Bisa-bisanya ya kamu mesra-mesraan sama sekretaris kamu yang ganjen ituu!!!”

“Kamu dengarkan aku dulu!”

“Halah penjelasan apalagi??!! Udah berapa kali kamu ketemu sama dia hah??!!! Berapa kali kamu main ke rumahnya??!!! Berapa kali kamu ber ..”

‘PLAAK’ tangan besar papa yang biasanya merangkul aku dan mama, yang mengelus rambutku sebelum aku tidur, yang menggendong aku, saat itu melayangkan pukulan ke pipi kiri mama.

“Istighfar Ma!! Aku nggak seperti yang kamu pikir!! Aku bukan cowok brengsek seperti yang kamu kira!! Berapa tahun kita menikah? Kenapa kamu nggak ngerti sama pekerjaanku??”

“Pekerjaan apa yang malam-malam ketemuan sama sekretaris di hotel berdua aja?? HAH??!! JAWAB MAS!!” suara mama meninggi.

“Si Retno tinggal di sana!! Karena bahas kerjaan di kantor lagi nggak memungkinkan!! Kamu tahu sendiri kantor lagi ada perbaikan, nggak mungkin bisa konsen di kantor!!”

‘PRAANGG’ mama menarik taplak meja makan, menyebabkan semua makanan yang ku tata tadi bersama Mbok Sri jatuh berhamburan di lantai. Aku terdiam, Mbok Sri yang kaget melihatku, langsung menghampiri dan memelukku erat.

19 Maret 2002 pukul 23.45 WIB, aku melihat neraka di depan mataku.

Di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir yang bersahutan, mobil sedan hitam melesat di jalanan yang basah dengan cepatnya.

Mama memasukkan semua bajuku ke koper besar. “Kita mau ke mana ma? Kan kita mau rayain ulang tahun papa”

“Nggak ada pesta ulang tahun, kita pergi dari sini ya sayang”, mama terisak sambil mencium keningku.

“Mbok Sri kamu juga rapikan barang-barangmu ya. Kita pergi dari sini.”

“Tapi Bu, apa nda sebaiknya diomongin dulu baik-baik sama bapak? Kasihan Non Dinda masih kecil Bu.”

Mama hanya diam dan terus memasukkan semua barang-barangku ke koper. Mbok Sri juga mengemasi barang-barangnya. “Papa ikut kan Ma?”, rengekku. “Ayo pergi sama papa juga Ma”

“NGGAK!!”. Aku terkesiap saat mama membentakku. Aku menangis ketakutan.
“Maafin mama sayang, bukan maksud mama bentak kamu. Kita perginya bertiga aja ya, sama Mbok Sri, papa nggak bisa ikut kita sayang. Maafin mama ya udah bentak Dinda.”. Mama menangis sambil mendekapku. Aku masih menangis dalam dekapan mama.

“Kamu mau ke mana Sin?”, papa mencegah aku, mama dan Mbok Sri keluar rumah.

“Bukan urusanmu!! Minggir!”, mama menampis lengan papa. “Paa … Dinda takut pa … Dinda mau pergi sama Papa juga.” Tangan kecilku meraih jari-jari papa. Papa memandangku dengan teduh, mata papa selalu menenangkanku, mata teduh papa membuatku merasa aman.

“Iya, Papa juga mau pergi sama Dinda. Dinda nggak bakal ke mana-mana. Papa bakal ada terus buat Dinda.”, papa menitihkan air mata sambil melayangkan ciuman hangat ke kening ku.

Mama menarikku dari dekapan papa, merengkuhku dalam gendongannya. Mama berjalan pergi ke mobil, meninggalkan papa.

“Sinta!! Jangan nekat!! Hujan deras begini kau mau ke mana??!! Jangan bahayakan nyawamu dan nyawa Dinda!! Sintaa!!” teriakan papa semakin lama makin lemah, tertelan oleh gemuruh hujan dan tertinggal oleh mobil yang melaju menjauh.

“Papa bakal ada terus buat Dinda, kapan dan di mana pun Dinda butuh Papa, Papa bakal ada buat Dinda! Papa selalu sayang sama Dinda!!”, kalimat terakhir papa yang bisa ku dengar sebelum semua nya menghilang di telan gemuruh hujan.

Mama mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mbok Sri berusaha menenangkan aku yang sedang menangis di kursi belakang. Seakan tak peduli akan isakan ku, mama menambah kecepatan mobilnya. Hujan yang deras mengganggu pandangan mata.

20 Maret 2002 pukul 01.00 dini hari,

‘CRUUSSHH’ mobil mama menabrak pohon besar di tepi jurang. Aku tak sadarkan diri selama beberapa menit. “Ma … Mama .. bangun maa!! Maaa!!” tangan kecilku menepuk pelan pipi mama, tapi semuanya percuma mama meninggal di tempat, bersimbah darah. Hal serupa dialami Mbok Sri. Hanya aku yang selamat dalam kecelakaan itu.

20 Maret 2002, hujan merenggut orang-orang yang ku sayangi.



Catatan Admin :
YOYOYOY!! apa kabar readers? aku masih newbie dalam hal bikin karya tulisan begini. Hehehehe, please comment yaa tentang cerita ini ;) do you like it or no?? Komentar kalian penting banget buat masa depan admin wehehehehe *alaaayyy* nggak kok ini serius, karena komentar kalian aku bisa tau harus lanjutin nih cerita apa nggak